KHUTBAH JUMAT | Orang yang Mendapat Keuntungan Besar di Dunia dan Akhirat
“Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya.” (Quran Al-Kahfi: 110)
Allah tidak akan menerima amalan kecuali yang dilakukan dengan ikhlas. Ketika ada harapan pada orang lain. Atau diperuntukkan kepada selain Allah, tidak akan Allah terima. Dalam hadits qudsi, Allah Ta’ala berfirman,
أَنَا أَغْنَى الشُّرَكَاءِ عَنْ الشِّرْكِ مَنْ عَمِلَ عَمَلًا أَشْرَكَ فِيهِ مَعِي غَيْرِي تَرَكْتُهُ وَشِرْكَهُ
“Allah Tabaroka wa Ta’ala berfirman: Aku sama sekali tidak butuh pada sekutu dalam perbuatan syirik. Barangsiapa yang menyekutukan-Ku dengan selain-Ku, maka Aku akan meninggalkannya (artinya: tidak menerima amalannya, pen) dan perbuatan syiriknya.” (HR Muslim).
Dan Allah Jalla wa ‘Ala juga tidak menerima amalan yang tidak sesuai dengan tuntunan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Karena itu, ibadah yang tidak sesuai dengan tuntunan Nabi tidak Allah terima. Dalam Shahih al-Bukhari dan Muslim Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَنْ أَحْدَثَ فِى أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ
“Barangsiapa membuat suatu perkara baru dalam urusan kami ini (urusan agama) yang tidak ada asalnya, maka perkara tersebut tertolak.” (HR Bukhari dan Muslim).
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda,
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!