KHUTBAH JUMAT | Maksimalkan Salat, Raih Jiwa yang Tenang
Artinya: "Bertawakallah hanya kepada Allah, jika kamu orang-orang yang beriman." (QS Al-Maidah: 23).
Dengan tenangnya jiwa dan hati sebagai buah dari kualitas shalat yang baik, maka kita dapat lebih tenang dalam menghadapi beban masalah dalam kehidupan. Kita akan semakin yakin bahwa Allah senantiasa bersama kita dan tidak akan memberikan beban yang kita tidak sanggup untuk memikulnya. Allah berfirman dalam Al-Quran surat Al Baqarah 286:
لَا يُكَلِّفُ اللّٰهُ نَفْسًا اِلَّا وُسْعَهَاۗ لَهَا مَا كَسَبَتْ وَعَلَيْهَا مَا اكْتَسَبَتْۗ
Artinya: "Allah tidak membebani seseorang, kecuali menurut kesanggupannya. Baginya ada sesuatu (pahala) dari (kebajikan) yang diusahakannya dan terhadapnya ada (pula) sesuatu (siksa) atas (kejahatan) yang diperbuatnya."
Maasyiral Muslimin rahimakumullah,
Dari hal ini kita bisa memahami bahwa shalat akan memunculkan sikap kepasrahan diri yang bermuara pada tenangnya hati dan jiwa. Hadits Rasulullah dari Abu Umamah pernah meriwayatkan:
إِنَّ أَغْبَطَ أَوْلِيَائِي عِنْدِي لَمُؤْمِنٌ خَفِيفُ الْحَاذِ ذُو حَظٍّ مِنْ الصَّلَاةِ أَحْسَنَ عِبَادَةَ رَبِّهِ وَأَطَاعَهُ فِي السِّرِّ وَكَانَ غَامِضًا فِي النَّاسِ لَا يُشَارُ إِلَيْهِ بِالْأَصَابِعِ وَكَانَ رِزْقُهُ كَفَافًا فَصَبَرَ عَلَى ذَلِكَ
Artinya: "Sesungguhnya wali-wali yang terbaik menurutku adalah orang beriman yang ringan kondisinya, memiliki nasib yang baik dari shalat, menyembah Rabbnya dengan baik, menaati-Nya saat sepi, tidak dikenali orang dan tidak ditunjuk dengan jari , rejekinya pas-pasan kemudian ia bersabar atas kondisinya’.” (HR. al-Tirmidzi).
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!