KHUTBAH JUMAT: Hadapi Masalah dengan Tidak Berputus Asa
ED
Editor
Fendy Sy Citrawarga
Jumat, 12 November 2021 | 05:28 WIB
VISI.NEWS | BANDUNG -
إنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرْهُ وَنَعُوْذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِي اللَّهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ. وَأَشْهدُ أَنْ لاَ إَلَهَ إِلاّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَ أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَ رَسُوْلُهُ لاَ نَبِيَّ وَلَا رَسُوْلَ بَعْدَهُ. اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى رَسُوْلِ اللَّهِ وَعَلَى اَلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ وَلآَهُ. أَمَّا بَعْدُ فَيَا عِبَادَ اللَّهِ أُصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَ اللَّهِ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُوْنَ.
قَالَ تَعَالَى: فَاصْبِرْ كَمَا صَبَرَ أُوْلُوْا الْعَزْمِ مِنَ الرُّسُلِ وَلاَ تَسْتَعْجِلْ لَهُمْ… (الأحقاف: 35)
وَ قَالَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم: المُؤْمِنُ الَّذِيْ يُخَالِطُ النَّاسَ وَ يَصْبِرُ عَلىَ أَذَاهُمْ أَفْضَلُ مِنَ الْمُؤْمِنِ الَّذِيْ لاَ يُخَالِطُ النَّاسَ وَلاَ يَصْبِرُ عَلَى أَذَاهُمْ (رواه ابن ماجه و أحمد و البيهقي).
Hidup secara benar di dunia ini memang penuh perjuangan. Sebab mayoritas manusia berkecenderungan tidak benar atau tidak sadar.
Berjuang tampaknya merupakan hakikat hidup manusia; apalagi bagi manusia yang jelas arah hidupnya, konkret cita-citanya, harapannya juga kemauannya. Berjuang berarti mewujudkan keadaan sehingga menjadi ideal; atau minimal berjuang mengatasi masalah yang menyerimpung langkah.
Sementara kita ketahui masalah hidup selalu ada, bahkan kalau kita cermati tampaknya bertambah hari justru bertambah banyak dan meningkat kualitasnya. Dari masalah pribadi, masalah keluarga, masalah lingkungan, hingga masalah umum dan masalah negara. Itulah permasalahan hidup yang sebenarnya merupakan lahan perjuangan hidup kita.
Banyak dan beragamnya masalah yang menghadang hidup merupakan lahan kita memperjuangkan hidup kita agar menjadi lebih benar, lebih baik, juga lebih indah. Oleh karena itu sungguh terlarang kita untuk berputus-asa bila tertumbuk masalah besar.
Larangan ini tidak hanya karena sikap berputus-asa bisa menciptakan hal-hal negatif dan destruktif bagi jiwa dan hidup manusia melainkan berputus asa juga berarti meniadakan iman karena memilih sikap kufur atas nikmat yang telah diterimanya.
Bagaimana rincian dan penjelasan terlarangnya berputus asa? Bagaimana pula cara mengubah sikap dan keadaan dari berputus asa menjadi yang sebaliknya, optimistis, namun tetap realistis?
Masalah yang menghadang gerak langkah hidup kita ke depan memang tidak sedikit dan tidak ringan. Konon menurut pengamatan para ahli, dewasa ini polusi dan tingkat stres manusia jauh lebih hebat dibanding 5 atau 10 tahun lalu.
Itulah hidup yang sudah berubah, bergerak, dan bahkan bertambah. Menjalani hidup berarti menghadapi dan mengatasi masalah yang menghadang. Kadang masalah kecil dan kadang besar.
Apa pun masalah yang hadir di hadapan kita sesungguh-sungguhnya mampu kita atasi manakala kita yakin serta berupaya secara optimal. Sebab Allah SWT zat yang mencipta kita dan sumber segala sumber itu telah menetapkan kelayakan-kepatutan hadirnya masalah itu dengan kualitas kepribadian kita guna menghadapinya. Dibuat-Nya setara, pas, sesuai antara masalah hidup dengan kemampuan setiap manusia.
Ketetapan tersebut ditegaskan Allah dalam firman pada QS Al-Baqarah : 286.
"Allah tidak akan membebani seseorang kecuali sesuai dengan kemampuannya."
Renungan dari firman ini adalah setiap masalah yang dihadapi seseorang sudah diformat sesuai serta pas untuk dihadapi oleh orang tersebut.
Masalahnya kemudian adalah, apakah orang tersebut meyakini bahwa sesungguhnya dirinya mampu dan berupaya secara optimal? Untuk inilah maka renungan, pengertian yang mendasar serta doa tulus dan keyakinan menjadi kunci penting untuk suksesnya menghadapi masalah hidup kita.
Mari kita urai, masalah apa yang sesungguhnya menghadang kita serta bagaimana solusinya? Pertama, apakah sumber masalah kita itu berasal dari perilaku kita sendiri? Jika benar demikian maka solusinya hanya dengan cara mengubah kebiasaan kita, misalnya boros, malas, takut, setengah hati, serakah, dll.
Kedua, apakah sumber masalah itu menyangkut perilaku orang lain? Jika benar demikian maka solusinya dengan cara mengubah metode pengaruh kita, misalnya pengaruh terhadap teman, bawahan, atasan, tetangga, dll.
Ketiga, apakah sumber masalah itu menyangkut hal di luar kendali kita? Jika benar demikian maka solusinya dengan mengubah cara pandang kita terhadapnya sebab hal itu hanya bisa diterima, misalnya terhadap gempa bumi, gunung meletus, musibah, dll.
Tampak bahwa apa pun masalah hidup kita pasti ada solusinya yang dimulai dari sikap dalam diri kita: mengubah kebiasaan, mengubah metode-pengaruh atau mengubah cara-pandang.
Apa pun masalah kita dan seberapa pun skalanya sungguh tidak pantas menjadikan kita berputus asa. Konon bunuh diri merupakan wujud ekstrem dari sikap berputus asa. Menurut penelitian terdapat tiga faktor pemicu atau penyebab seseorang melakukan bunuh diri.
Ketiga faktor tersebut adalah: kekurangan ekonomi, penyakit menahun (kronis) dan harga-diri atau rasa-malu. Tiga pemicu itu bisa mengantarkan seseorang menuju bunuh diri jika dia merasakan hidupnya sudah buntu, capek, dan tanpa ada titik-terang.
Namun pasti hal itu hanya sebatas perasaan pada si pelaku. Biasanya perasaan dan pilihan begitu itu menimpa pada jenis orang yang introvert, perasa, kurang dipedulikan orang lain, tidak dihormati lingkungannya, serta hanya dibiarkan.
Oleh karena itu untuk mengatasi agar tidak terjerumus ke berputus asa perlu adanya dukungan dan perhatian dari keluarga, dan bisa melihat-merasakan adanya teman yang sependeritaan, ataupun adanya tempat untuk mencurahkan isi hatinya sehingga tidak menjadikannya gelap mata.
Penegasan Allah mengenai larangan putus asa tertuang pada Qs Yusuf : 87:
"Dan janganlah berputus-asa dari rahmat Allah, sebab sesungguhnya tidak akan berputus-asa dari rahmat Allah melainkan kaum yang kufur."
Berputus-asa tergotongkan perilaku kufur? Inilah penggolongan resmi dari Allah yang pasti benar, tegas dan perlu kita cermati. Barangsiapa berputus asa niscaya tergolongkan kaum kufur. Kufur di sini berarti mengingkari nikmat yang telah diterima dan juga kufur dari ke-Mahakuasaan Allah SWT, bahkan kemudian kufur dari keyakinan akan adanya Allah SWT.
Bukankah hanya yang kufur saja yang berani berputus-asa? Berani melanggar ketentuan-Nya? Sebab jika ada keyakinan meskipun tipis pasti tidak akan berani berputus-asa. Begitulah larangan langsung dari Allah SwT kepada kita hamba-Nya.
Sikap berputus-asa ini dari tinjauan ilmu psikologi selalu berkecenderungan negatif, bahkan merusak-destruktif. Seseorang yang berputus-asa berarti telah menutup diri secara kejiwaan dari proses hidup yang selalu bergerak, berkembang. Seseorang yang berputus-asa adalah yang jiwanya mati atau mematikan diri sendiri.
Sebagai akibatnya adalah ketiadamaknaan hidup baginya sehingga mudah saja untuk merusak jiwanya, hidupnya, bahkan tidak sedikit yang juga berusaha merusak hidup dan jiwa orang lain di lingkungannya. Dia merasakan dirinya telah rusak kemudian mengajak orang-orang lain agar juga rusak. Inilah logika psikologis seorang teroris yang berawal dari sikap putus-asa.
Guna meniadakan sikap berputus-asa, mari kita berikhtiar untuk selalu memiliki sikap mental positif (SMP) terhadap apa pun yang menghadang. Berdoa sehabis salat sesungguhnya juga dimaksudkan untuk hal ini.
Dengan membaca subhanallah ‘Maha Suci Allah’ berarti meniadakan pandangan negatif dan salah sangka kepada Allah. Dengan
membaca alhamdulillah ‘segala puji bagi Allah’ berarti menanam prasangka baik dan sikap positif. Lantas dengan allahu akbar ‘Allah Maha Besar’ berarti menegaskan diri bahwa selain Allah SwT itu kecil serta bertekad menjalani hidup dengan keyakinan bersama Allah tersebut.
Lengkaplah sudah unsur mental positif kita dengan ketiga doa tersebut yang kita lantunkan sepenuh jiwa dan berulang 33 kali sehingga terinternalisasikan dalam jiwa kita.
بَارَكَ الله لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْكَرِيْمِ وَجَعَلَنَا اللهُ مِنَ الَّذِيْنَ يَسْتَمِعُوْنَ الْقَوْلَ فَيَتَّبِعُوْنَ أَحْسَنَهُ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هذا وَأَسْتَغْفِـرُ الله لِيْ وَلَكُمْ.
@fen/sumber: portaljember.com dari suaramuhammadiyah.id
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!