Ketika Robot Turun ke Medan Perang Ukraina
“Dalam waktu dekat kita akan melihat puluhan bahkan ratusan drone yang lebih cerdas dan murah menyerang secara bersamaan dari berbagai arah dan ketinggian—dari udara, darat, hingga laut,” kata Zaluzhnyi.
Kebutuhan militer yang mendesak juga menjadi pendorong utama inovasi ini. Drone udara telah membuat garis depan menjadi sangat berbahaya bagi manusia, memperluas zona mematikan hingga 20–25 kilometer dari garis kontak. Dalam kondisi seperti itu, robot darat dianggap sebagai solusi untuk mengurangi risiko korban di pihak tentara.
“Ukraina masih bisa kehilangan robot, tetapi kami tidak bisa kehilangan prajurit yang siap tempur,” ujar Afanasiev.
Di sisi lain, Rusia juga mengembangkan teknologi serupa. Media Rusia melaporkan adanya robot tempur bernama Kuryer yang dapat dipasangi penyembur api atau senapan mesin berat serta mampu beroperasi secara mandiri hingga lima jam. Rusia juga menggunakan kendaraan kamikaze darat bernama Lyagushka untuk menyerang posisi Ukraina.
CEO perusahaan pengembang robot militer Ukraina Devdroid, Yuriy Poritsky, mengatakan bentrokan antara robot tempur kedua negara hanya tinggal menunggu waktu.
“Cepat atau lambat kita akan melihat robot tempur milik Ukraina berhadapan langsung dengan robot tempur milik Rusia di medan perang,” ujarnya.
Menurutnya, perang robot yang dulu hanya ada dalam film fiksi ilmiah kini menjadi kenyataan.
“Perang robot mungkin terdengar seperti cerita fiksi ilmiah, tetapi di medan perang ini adalah kenyataan yang kami hadapi setiap hari,” katanya.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!