Kekayaan Sejarah dan Kuliner Ngawi yang Luput dari Wisatawan
- Tim Gowes VISI.NEWS Aep S. Abdullah, Edi Sudjono, dan Untung Sumarsono ini tidak hanya menghadirkan pengalaman bersepeda yang menyenangkan, tetapi juga membuka cakrawala tentang warisan sejarah, arsitektur, serta kekayaan kuliner khas Ngawi yang masih lestari hingga kini.
VISI.NEWS | NGAWI – Kabupaten Ngawi, Jawa Timur, menyimpan banyak kekayaan sejarah dan budaya yang kerap luput dari perhatian wisatawan. Dalam rangkaian perjalanan napak tilas dan wisata sejarah, Tim Gowes VISI.NEWS berkesempatan mengunjungi sejumlah situs bersejarah yang menjadi saksi perjalanan panjang daerah yang berada di perbatasan Jawa Timur dan Jawa Tengah tersebut.
Masjid Agung Ngawi, Simbol Keagungan Islam Sejak Abad ke-19
Salah satu destinasi yang dikunjungi adalah Masjid Agung Ngawi yang berdiri megah di pusat kota. Masjid yang dibangun pada tahun 1879 M ini menjadi salah satu ikon religius sekaligus kebanggaan masyarakat Ngawi.
Bangunan masjid memadukan arsitektur Jawa tradisional dengan sentuhan Islam yang khas. Dari kejauhan, kemegahan masjid terlihat menyatu dengan suasana kota yang tenang dan tertata rapi. Hingga kini, masjid tersebut tetap menjadi pusat kegiatan keagamaan sekaligus destinasi wisata religi bagi masyarakat maupun pengunjung dari luar daerah.
Bagi Tim Gowes VISI.NEWS, keberadaan Masjid Agung Ngawi menjadi bukti bagaimana nilai-nilai keislaman telah tumbuh dan berkembang kuat di wilayah ini selama lebih dari satu abad.
Alun-Alun Ngawi yang Asri dan Menawan
Alun-Alun Ngawi yang berada tidak jauh dari Masjid Agung. Kawasan ini tampil hijau, bersih, dan tertata dengan baik, yang pada sore hari banyak dipenuhi warga yang membuka usaha kuliner.
Yang menarik perhatian adalah keberadaan lapangan sepak bola luas di tengah kawasan alun-alun, yang nampak terpelihara. Hamparan rumput hijau yang terawat menciptakan suasana nyaman bagi warga. Sejumlah anak-anak sedang berlatih sepakbola. Disaksikan oleh keluarga mereka sambil bersantai menikmati banyak jajanan di kawasan ini.
Tempat yang tertata dengan pepohonan rindang yang mengelilingi kawasan alun-alun menambah kesejukan suasana. Tidak heran jika tempat ini menjadi salah satu ruang publik favorit masyarakat Ngawi.
Museum Trinil, Jejak Peradaban Manusia Purba
Sebelumnya tim gowes mengunjungi Museum Trinil yang jaraknya kurang lebih 14 kilometer dari Alun-Alun Ngawi. Museum yang berada di pinggir Sungai Bengawan Solo ini dikenal luas dalam dunia arkeologi.
Museum ini menyimpan berbagai temuan penting dari kawasan Trinil yang pernah menjadi lokasi penelitian ilmuwan Belanda, Eugene Dubois, pada akhir abad ke-19. Dari kawasan inilah ditemukan fosil manusia purba Pithecanthropus erectus atau "Java Man" yang menggemparkan dunia ilmu pengetahuan.
Area museum terbilang luas dengan koleksi yang cukup lengkap. Namun, Tim Gowes VISI.NEWS mendapati suasana museum relatif sepi pengunjung. Padahal nilai sejarah dan edukasi yang tersimpan di dalamnya sangat besar.
Kondisi tersebut menjadi refleksi bahwa situs-situs bersejarah memerlukan perhatian dan promosi lebih intensif agar semakin dikenal generasi muda.
Benteng Van Den Bosch, Saksi Kolonialisme di Tanah Ngawi
Dari Museum Trinil, perjalanan berlanjut menuju Benteng Van Den Bosch atau yang lebih dikenal masyarakat sebagai Benteng Pendem.
Benteng ini dibangun oleh pemerintah kolonial Belanda pada rentang 1839–1845 atas prakarsa Gubernur Jenderal Johannes van den Bosch. Lokasinya sangat strategis karena berada di pertemuan Sungai Bengawan Solo dan Sungai Madiun, yang pada masa itu merupakan jalur perdagangan dan pertahanan penting.
Arsitektur benteng yang kokoh dengan gaya Eropa klasik masih terlihat jelas hingga sekarang. Benteng ini pernah digunakan sebagai pusat pertahanan Belanda, penjara pada masa pendudukan Jepang, hingga markas militer setelah Indonesia merdeka.
Saat menyusuri lorong-lorong dan bangunan tua di dalam kompleks benteng, Tim Gowes VISI.NEWS seakan diajak kembali ke masa lalu, menyaksikan secara langsung jejak perjuangan dan pergulatan sejarah bangsa.
Omah Joglo, Menjaga Warisan Budaya Jawa
Perjalanan sejarah semakin lengkap ketika tim mengunjungi Omah Joglo Ngawi yang diperkirakan dibangun sekitar tahun 1750 M.
Bangunan tradisional Jawa ini menghadirkan suasana klasik yang sarat nilai budaya. Struktur kayu jati yang kokoh, ukiran tradisional yang artistik, serta tata ruang khas rumah Joglo menunjukkan tingginya peradaban masyarakat Jawa pada masa lampau.
Keberadaan Omah Joglo menjadi pengingat bahwa selain menyimpan peninggalan kolonial, Ngawi juga memiliki warisan budaya lokal yang patut dijaga dan dilestarikan.
Menikmati Kelezatan Kuliner Khas Ngawi
Wisata sejarah tentu belum lengkap tanpa mencicipi kuliner khas daerah. Di sela-sela perjalanan, Tim Gowes VISI.NEWS menikmati berbagai makanan tradisional yang menjadi kebanggaan masyarakat Ngawi.
Salah satunya adalah Tepo Tahu, makanan sederhana namun kaya cita rasa yang memadukan ketupat tepo dengan tahu serta bumbu kacang khas.
Tim juga mencicipi Lethok, masakan tradisional berbahan tahu dan tempe dengan kuah santan yang gurih.
Tak ketinggalan, hidangan populer seperti Nasi Pecel Ngawi, Sate Ayam Ngawi, Rawon Ngawi, dan Tongseng Kambing turut menjadi santapan yang menggugah selera.
Pengalaman kuliner semakin lengkap dengan mencicipi Nasi Ikan Asap yang kaya rasa, serta menyeruput hangatnya Wedang Cemue yang menjadi penutup sempurna perjalanan hari itu.
Belajar dari Sejarah, Menikmati Kearifan Lokal
Kunjungan Tim Gowes VISI.NEWS ke berbagai situs bersejarah di Ngawi memberikan pelajaran berharga bahwa sebuah daerah tidak hanya dikenal dari pembangunan fisiknya, tetapi juga dari kemampuannya menjaga warisan sejarah dan budayanya.
Mulai dari Masjid Agung Ngawi yang telah berdiri sejak abad ke-19, Museum Trinil yang menyimpan jejak manusia purba, Benteng Van Den Bosch yang menjadi saksi kolonialisme, hingga Omah Joglo yang merepresentasikan kejayaan budaya Jawa, semuanya membentuk identitas Ngawi yang kaya dan berkarakter.
Dipadukan dengan ragam kuliner tradisional yang menggugah selera, perjalanan ini menjadi bukti bahwa Ngawi bukan sekadar kota persinggahan, melainkan destinasi yang menyimpan banyak cerita, sejarah, dan kearifan lokal yang layak untuk terus dikenang dan diwariskan kepada generasi mendatang.
Napak tilas yang didukung Komite Sepeda Indonesia (KSI) Kabupaten Bandung, Kakanwil Ditjen Pemasyarakatan Sumatera Barat, PT. Pupuk Kujang, Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (Lakpesdam) PCNU Kabupaten Bandung, Diskominfo Kabupaten Bandung, Bapenda, PT. BPR Kerta Raharja, dan Perumda Tirta Raharja ini menjadi pengingat bahwa sejarah bukan sekadar catatan masa lalu. Di balik setiap batu bata, lorong, dan bangunan kuno terdapat nilai-nilai perjuangan, toleransi, serta kebijaksanaan yang tetap relevan bagi kehidupan masa kini.***
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!