Keamanan Wakil Presiden Filipina Diganti di Tengah Investigasi Dugaan Ancaman Pembunuhan terhadap Presiden
Editor
Desi Rossilawati
Rabu, 27 November 2024 | 23:35 WIB
VISI.NEWS | FILIPINA - Pasukan keamanan Filipina mengumumkan penggantian pengawal Wakil Presiden Sara Duterte, yang saat ini sedang diselidiki oleh otoritas peradilan terkait dugaan ancaman pembunuhan terhadap Presiden Ferdinand Marcos Jr. Menurut pihak kepolisian dan militer, seperti yang dilaporkan AFP pada Rabu (27/11/2024), penggantian pengawal tersebut berkaitan dengan penyelidikan terpisah. Pengawal Wapres Filipina terdiri dari anggota kepolisian dan militer.
Kolonel Jean Fajardo, juru bicara Kepolisian Nasional, menyatakan bahwa mereka telah meminta jaksa untuk menuduh Sara dan para pengawal keamanannya terkait dugaan campur tangan dalam pemindahan Kepala Staf Wapres. Fajardo mengungkapkan kepada wartawan bahwa seorang dokter kepolisian "didorong oleh kepala keamanan" yang mendampingi Sara. Dia menekankan pentingnya penanganan isu ini dalam konferensi pers.
"Kita tidak bisa membiarkan hal ini begitu saja," ucap Fajardo dalam konferensi pers.
Dalam konferensi pers terpisah, Jenderal Romeo Brawner, Kepala Staf Angkatan Bersenjata Filipina, mengonfirmasi bahwa tentara yang sebelumnya mengawal Sara dipindahkan terkait penyelidikan kepolisian yang tak dijelaskan lebih lanjut.
Informasi terbaru ini muncul setelah Departemen Kehakiman Filipina mencatumkan Sara, putri mantan Presiden Rodrigo Duterte, sebagai "otak utama" dalam rencana pembunuhan terhadap Marcos Jr. Departemen Kehakiman kemudian memanggil Sara untuk memberikan klarifikasi dalam penyelidikan resmi.
Sara sebelumnya menyatakan dalam konferensi pers bahwa ia telah menginstruksikan salah satu pengawalnya untuk membunuh Marcos Jr, istrinya Liza Araneta-Marcos, dan ketua DPR Filipina Martin Romualdez, jika rencana pembunuhan yang mengarah padanya berhasil.
"Jika saya tewas, jangan berhenti sampai kamu membunuh mereka," katanya saat itu. Namun, belakangan ia menyangkal bahwa pernyataannya dimaksudkan sebagai ancaman pembunuhan.
Pernyataan tersebut muncul setelah beberapa pejabat DPR mengancam untuk memindahkan Kepala Stafnya, Zuleika Lopez, dari pusat tahanan DPR ke lembaga pemasyarakatan. Lopez telah ditahan sejak Rabu (21/11/2024) atas tuduhan "campur tangan yang tidak semestinya" dalam proses pembahasan parlemen yang berkaitan dengan dugaan penyelewengan anggaran Wapres.
Kerjasama antara keluarga Marcos dan Duterte, yang sebelumnya berhasil dalam pemilu 2022, kini mengalami keruntuhan menjelang pemilu sela tahun depan. Sara tetap menjadi penerus konstitusional Marcos Jr. jika Presiden tersebut gagal menyelesaikan masa jabatannya selama enam tahun, namun saat ini ia berada di tengah penyelidikan yang dipimpin oleh Romualdez terkait dugaan penyalahgunaan anggaran pemerintah. @ffr
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!