Kasus Bunuh Diri Siswa SD di NTT, Habib Syarief Minta Kemendikdasmen Usut Tuntas
VISI.NEWS | JAKARTA - Anggota Komisi X DPR RI dari Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), Habib Syarief, mendesak Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) untuk mengusut tuntas latar belakang kasus bunuh diri siswa Sekolah Dasar (SD) berinisial YBS (10) di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT). Tragedi tersebut diduga dipicu ketidakmampuan keluarga korban memenuhi permintaan membeli buku dan alat tulis sekolah.
“Kami sangat prihatin. Kasus ini menjadi alarm keras bahwa masih ada anak-anak yang belum mendapatkan kebutuhan belajar paling mendasar. Ini tidak boleh dibiarkan, negara harus hadir memastikan hak dasar pendidikan terpenuhi tanpa kecuali,” ujar Habib Syarief di Jakarta, Selasa (3/2/2026).
Peristiwa tragis itu dilaporkan terjadi setelah korban meminta perlengkapan sekolah kepada ibunya, namun permintaan tersebut tidak dapat dipenuhi karena keterbatasan ekonomi keluarga. Kasus ini kemudian menyita perhatian publik dan dinilai sebagai gambaran nyata masih timpangnya pemenuhan sarana pendidikan di daerah tertinggal.
Habib menilai kejadian tersebut mencerminkan potret buram dunia pendidikan nasional, khususnya dalam menjamin hak dasar belajar bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu. Ia meminta Kemendikdasmen melakukan investigasi menyeluruh untuk memastikan tidak adanya kelalaian sistemik dalam penyaluran bantuan pendidikan di wilayah tersebut.
“Anggaran pendidikan dari APBN sangat besar. Seharusnya kebutuhan dasar pendidikan seperti buku dan alat tulis bisa terpenuhi,” tegasnya.
Selain itu, Habib juga mempertanyakan efektivitas mekanisme deteksi dini yang dilakukan oleh sekolah dan pemerintah daerah terhadap siswa yang mengalami tekanan ekonomi maupun psikososial. Menurutnya, kepala sekolah dan guru seharusnya lebih memahami dan memprioritaskan kebutuhan dasar peserta didik.
“Pengusutan ini penting agar negara tidak abai. Kita harus memastikan bantuan pendidikan tepat sasaran dan ada pendampingan bagi anak-anak yang mengalami tekanan berat akibat kemiskinan,” katanya.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!