Kamojang Cetak Rekor Produksi, PGE Perkuat Masa Depan Panas Bumi Indonesia
Langkah tersebut dinilai menjadi solusi yang lebih efisien karena mampu mengoptimalkan aset yang telah tersedia sekaligus menjaga kelestarian lingkungan di kawasan operasi.
Optimalisasi aset di Kamojang juga merupakan bagian dari strategi besar perusahaan untuk meningkatkan kapasitas pembangkit panas bumi secara nasional.
PGE menargetkan kapasitas terpasang mencapai 1 gigawatt (GW) pada 2028, meningkat menjadi 1,8 GW pada 2033, hingga mencapai 3 GW dalam visi jangka panjang perusahaan.
Pengembangan panas bumi di Kamojang juga tidak hanya difokuskan pada sektor kelistrikan, tetapi mulai merambah pemanfaatan langsung (direct use) yang memberi nilai tambah bagi masyarakat sekitar.
Salah satu inovasi yang telah diterapkan adalah Geothermal Dry House, fasilitas pengering kopi yang memanfaatkan panas bumi untuk mempercepat proses pengeringan hasil panen petani.
Teknologi tersebut membantu petani memperoleh kualitas biji kopi yang lebih baik sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap cuaca, sehingga meningkatkan produktivitas dan nilai ekonomi komoditas kopi lokal.
Inovasi itu menjadi contoh bagaimana energi panas bumi tidak hanya menghasilkan listrik, tetapi juga mampu mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat melalui sektor pertanian dan usaha kecil.
Seratus tahun setelah pertama kali ditemukan di Kamojang, panas bumi kini berkembang menjadi salah satu pilar penting dalam sistem energi nasional.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!