Jumlah Pekurban 2025 Turun: Ekonomi Melemah, Lebih Rendah dari Masa Pandemi
VISI.NEWS | BANDUNG - Lembaga riset Institute for Demographic and Affluence Studies (IDEAS) melakukan kajian terkait potensi ekonomi kurban pada 2025. Simulasi yang dilakukan lembaga tersebut menunjukkan adanya penurunan proyeksi jumlah pekurban tahun ini dibandingkan dengan tahun 2024 lalu.
“Pada 2024 terdapat sekitar 2,16 juta pekurban, sedangkan tahun 2025 ini jumlahnya sekitar 1,92 juta pekurban. Artinya, ada penurunan potensi sekitar 233 ribu pekurban dalam satu tahun terakhir,” kata Tira Mutiara dikutip dari dalam laman NU Online, Sabtu (31/5/2025).
Tira menyebutkan bahwa dari 1,92 juta rumah tangga Muslim berdaya beli tinggi yang berpotensi menjadi pekurban pada 2025 ini, kebutuhan hewan kurban terbesar berasal dari doka (domba-kambing) sekitar 1,1 juta ekor, sedangkan sapi sekitar 503 ribu ekor.
“Selain itu, kami juga memproyeksikan potensi nilai ekonomi kurban Indonesia tahun 2025 sebesar Rp27,1 triliun. Proyeksi ini juga turun dari proyeksi tahun sebelumnya (2024) yang diestimasikan mencapai Rp28,3 triliun,” ujar Tira.
Bahkan menurut Tira, jika ditarik lebih jauh ke belakang, estimasi jumlah pekurban tahun 2025 yang sebesar 1,92 juta orang lebih rendah dibandingkan saat pandemi, yakni berkisar 2,11 juta pekurban (2021) dan 2,17 juta pekurban (2022).
“Hal tersebut terjadi karena adanya penurunan masyarakat di kelas menengah bahkan kelas atas yang berpotensi menjadi pekurban di tahun ini. Hal tersebut diperparah oleh kurang memadainya kebijakan dari negara untuk menjaga kelas menengah dan atas tersebut. Inilah yang membedakan masa sulit tahun ini dengan masa pandemi,” ungkap Tira.
Walaupun krisis pada masa pandemi skalanya jauh lebih besar dari tahun ini, saat itu penurunan aktivitas ekonomi terjadi merata secara global. Namun kejatuhan kelas menengah pada masa tersebut banyak tertolong oleh tetap terjaganya sektor keuangan, stimulus ekonomi yang masif, dan kenaikan harga komoditas yang sangat signifikan. Pemulihan ekonomi pun memberi manfaat yang jauh lebih besar kepada kelas atas dan menengah sehingga mereka bisa bertahan.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!