Jualan Kopi Keliling dengan Sepeda Pancal, Aisyah Tak Masuk Data Bansos

Desi Rossilawati Abdul Ghofur
Jumat, 4 September 2026 | 15:06 WIB
Bagikan
/

VISI.NEWS – Setiap hari sejak pagi hingga siang, Siti Aisyah mengayuh sepeda pancal menyusuri sejumlah ruas jalan di Kecamatan Kencong, Kabupaten Jember, untuk berjualan kopi.

Warga Desa Kencong tersebut menjalani usaha kopi keliling sejak 2020. Dengan perlengkapan sederhana, Aisyah menawarkan kopi kepada warga dan pekerja yang ditemuinya di sepanjang perjalanan.

Sepeda pancal menjadi kendaraan sekaligus alat utama yang digunakan Aisyah untuk mencari nafkah demi memenuhi kebutuhan hidup bersama putranya.

Namun, perjuangan mengayuh sepeda dari satu tempat ke tempat lain belum tentu menghasilkan pendapatan yang cukup. Dalam sehari, Aisyah terkadang hanya mampu menjual sekitar 10 gelas kopi. Kopi tersebut dijual dengan harga Rp3.000 hingga Rp3.500 per gelas.

Dengan jumlah penjualan tersebut,penghasilan yang diperoleh dari berjualan kopi keliling hanya berkisar Rp30 ribu hingga Rp35 ribu dalam sehari, sebelum dikurangi biaya yang diperlukan untuk menjalankan usaha.

Di tengah kondisi tersebut, Aisyah juga belum memiliki rumah sendiri dan masih harus tinggal di rumah kontrakan bersama putranya. Ia juga tidak memiliki kendaraan bermotor yang dapat digunakan untuk mendukung aktivitas sehari-hari.

Kondisi itu menjadi sorotan karena Aisyah mengaku belum pernah menerima bantuan sosial secara rutin, baik Program Keluarga Harapan (PKH) maupun bantuan pangan.

Ia mengaku hanya pernah mendapatkan bantuan satu kali. Bantuan tersebut, menurutnya, bukan berasal dari program bantuan rutin pemerintah, melainkan bentuk kepedulian dari ketua lingkungan yang mengetahui langsung kondisi kehidupannya.

“Saya sebenarnya tidak menuntut macam-macam. Saya hanya ingin data saya dilihat sesuai kondisi sebenarnya. Saya masih mengontrak, tidak punya kendaraan motor, dan setiap hari hanya mengandalkan jualan kopi keliling dengan sepeda,” ujar Aisyah. Jum'at, (4/9/2026)

Menurutnya, persoalan bantuan sosial seharusnya tidak hanya ditentukan berdasarkan data administratif. Kondisi nyata masyarakat di lapangan juga perlu menjadi pertimbangan agar warga yang benar-benar hidup dalam keterbatasan tidak terlewat dari program perlindungan sosial.

“Saya berharap ada pengecekan langsung ke lapangan. Biar pemerintah tahu bagaimana keadaan saya sebenarnya. Kalau memang ada yang lebih berhak, tentu silakan didahulukan. Tapi jangan sampai orang yang benar-benar kesulitan justru tidak terdata,” katanya.

Persoalan tersebut semakin mengemuka setelah dilakukan pengecekan data administrasi. Dalam sistem pendataan, Aisyah tercatat berada pada kategori Desil 5, yang secara umum menempatkannya di luar kelompok prioritas utama penerima sejumlah bantuan sosial.

Padahal, kondisi ekonomi yang dijalani sehari-hari menunjukkan fakta berbeda. Ia tidak memiliki rumah sendiri, tinggal di rumah kontrakan, tidak mempunyai kendaraan bermotor, serta menggantungkan penghasilan dari usaha kecil dengan pendapatan yang tidak menentu.

Ketidaksesuaian antara kondisi riil dan status dalam sistem pendataan inilah yang memunculkan pertanyaan mengenai pentingnya pemutakhiran data bantuan sosial secara berkala.

Aisyah berharap pemerintah dapat memberikan ruang bagi masyarakat untuk menyampaikan keberatan atau mengajukan pembaruan data apabila kondisi yang tercatat tidak sesuai dengan kenyataan.

“Saya hanya berharap data itu benar-benar sesuai keadaan masyarakat. Jangan sampai yang kehidupannya masih serba kekurangan tidak mendapatkan perhatian hanya karena datanya tidak sesuai dengan keadaan sebenarnya,” ungkapnya.

Sementara itu, saat dikonfirmasi melalui saluran WhatsApp Pendamping Sosial PKH Kecamatan Kencong, Yuli Pratiwi, mengatakan keluhan yang disampaikan oleh Siti Aisyah telah diterima dan ditindaklanjuti.

Menurut Yuli, pihaknya telah memberikan arahan kepada putra Aisyah untuk melakukan pengecekan dan pengajuan melalui aplikasi Cek Bansos.

“Untuk Bu Siti Aisyah sudah kami terima keluhannya dan sudah kami tindaklanjuti. Putranya Bu Siti Aisyah sudah kami arahkan untuk mendownload aplikasi Cek Bansos di Play Store beserta penjelasannya. Kami juga menyampaikan, apabila ada kesulitan bisa kembali lagi ke kantor,” ujar Yuli.

Langkah tersebut diharapkan dapat membuka jalan bagi proses pengecekan dan pemutakhiran data sesuai mekanisme yang berlaku.

Kisah Aisyah menjadi gambaran bahwa di balik sistem pendataan bantuan sosial, masih terdapat warga yang berharap kondisi kehidupannya benar-benar dilihat secara langsung.

Bagi Aisyah, bantuan bukan sekadar persoalan menerima atau tidak menerima bantuan pemerintah. Yang lebih penting, menurutnya, adalah memastikan bahwa data yang digunakan negara mampu menggambarkan kondisi masyarakat sebagaimana kenyataan yang mereka jalani.

Setiap hari, Aisyah tetap mengayuh sepeda pancalnya dan menjual kopi demi bertahan hidup. Di tengah roda sepeda yang terus berputar, ia menyimpan harapan sederhana: agar suatu hari nanti, data yang tercatat tentang dirinya tidak lagi berbeda dengan kehidupan yang benar-benar ia jalani.

Komentar (0)

Tulis Komentar

Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

VisiNews Club

Nikmati Berita Tanpa Batas & Benefit Eksklusif!

Dapatkan Kaos & Merchandise eksklusif setiap bulan dengan berlangganan Visi News.