Jerih Payah Kaum Sarungan yang Hendak Disingkirkan

ED
Selasa, 22 Oktober 2024 | 08:19 WIB
Bagikan
Jerih Payah Kaum Sarungan yang Hendak Disingkirkan
DALAM perdebatan sejarah Indonesia, suara kaum sarungan—terutama kalangan Nahdlatul Ulama (NU)—sering kali terpinggirkan. Munculnya kekecewaan dari kalangan Muslim modernis, seperti Muhammadiyah, serta kalangan sosialis, terhadap kepemimpinan Presiden Jokowi, merefleksikan pengabaian terhadap kontribusi mereka dalam perjuangan kemerdekaan. Sejarah mencatat, pertempuran 10 November 1945 di Surabaya tidak lepas dari peran resolusi jihad yang dikeluarkan oleh PBNU. Namun, banyak yang meragukan keberadaan fatwa tersebut, termasuk beberapa sejarawan. Prof. Ruslan Abdul Gani, yang terlibat langsung, bahkan menyebutnya tidak ada dalam catatan sejarah. Bung Tomo, yang terkenal dengan pidato semangatnya, tidak menyebutkan resolusi jihad dalam buku-bukunya. Hal ini semakin menguatkan persepsi bahwa kontribusi NU diabaikan. Sebuah seminar nasional di Jakarta pada 2014 menyimpulkan bahwa NU tidak memiliki andil dalam kemerdekaan Indonesia, sebuah pernyataan yang mencerminkan stigma negatif terhadap pesantren. Gus Dur, mantan presiden dan tokoh NU, mengonfirmasi bahwa sejarah kiai dan ulama telah lama berusaha disingkirkan. Pada peringatan 45 tahun pertempuran 10 November, sosok pahlawan yang diangkat justru dari kalangan terpelajar dan sosialis, bukan dari pesantren. Menanggapi hal ini, Gus Dur melakukan klarifikasi dan menyadari bahwa sejarah selalu dipenuhi dengan narasi yang berulang. Ia menyoroti bahwa yang dianggap bodoh, seringkali ditulis sebagai pahlawan, sementara jasa kiai dan santri justru dilupakan. Untuk mengatasi stigma tersebut, Gus Dur memulai kaderisasi di kalangan anak muda NU. Mereka diajarkan mengenai analisis sosial dan sejarah untuk mengubah pandangan masyarakat. Dr. H. Agus Sunyoto, yang terlibat dalam kaderisasi ini, menyatakan bahwa pemahaman tentang sejarah penting untuk menghapus stigma tersebut. Penemuan sejarawan asing, seperti Frederik Anderson, menunjukkan bahwa resolusi jihad PBNU memang ada dan diakui secara internasional. Ini membuktikan bahwa sejarah tidak seharusnya dibungkam oleh narasi yang merendahkan. Fakta bahwa pada awal kemerdekaan, tentara Indonesia belum terbentuk sepenuhnya, menunjukkan bahwa kiai dan santri menjadi garda terdepan. Mereka berjuang tanpa imbalan, dan banyak pemimpin TKR (Tentara Keamanan Rakyat) berasal dari kalangan pesantren. Namun, kontribusi ini tidak pernah tercatat dalam buku sejarah yang diajarkan di sekolah. Hal ini menciptakan kesan bahwa kiai dan santri tidak berperan dalam perjuangan kemerdekaan. Seperti diungkapkan oleh Agus Sunyoto, sejarah ini telah dimanipulasi. Bahkan, selama pertempuran 10 November, masyarakat Surabaya dipicu untuk berjuang oleh seruan jihad yang disampaikan oleh kiai-kiai. Fatwa jihad yang dikeluarkan oleh KH. Hasyim Asy'ari menjadi titik balik yang menyatukan masyarakat dalam menghadapi penjajah. Peristiwa ini menunjukkan bahwa tanpa dukungan dan partisipasi kiai dan santri, perjuangan kemerdekaan Indonesia mungkin tidak akan sekuat itu. Mereka bukan hanya berjuang untuk diri mereka sendiri, tetapi juga untuk keselamatan bangsa. Sayangnya, setelah kemerdekaan, peran kiai dan santri masih terus dipinggirkan. Pengorbanan mereka sering kali tidak diakui, meskipun banyak dari mereka yang telah berjuang hingga titik darah penghabisan. Gus Dur mengingatkan kita bahwa sejarah adalah tentang siapa yang menulisnya. Tanpa upaya untuk mengakui dan menghargai kontribusi kaum sarungan, sejarah kita akan tetap cacat. Maka penting bagi generasi muda untuk terus mengupayakan kebenaran dan mengingat jasa para kiai dan santri dalam perjuangan kemerdekaan. Pada akhirnya, jerih payah kaum sarungan harus diingat dan dihargai, bukan hanya sebagai bagian dari sejarah, tetapi juga sebagai pengingat bahwa perjuangan mereka masih relevan hingga hari ini.***

Komentar (0)

Tulis Komentar

Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

VisiNews Club

Nikmati Berita Tanpa Batas & Benefit Eksklusif!

Dapatkan Kaos & Merchandise eksklusif setiap bulan dengan berlangganan Visi News.