Jenazah Sesepuh Sunda Tjetje Hidayat Padmadinata Dimakamkan di TPU Gumuruh
Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil, menyampaikan dukacita mendalam atas berpulangnya sesepuh budayawan Sunda itu.
"Saya menghaturkan dukacita mendalam atas nama pribadi, keluarga dan Pemda Provinsi Jawa Barat atas berpulangnya guru kita, orang tua kita semua Bapak Tjetje yang berpulang hari ini," ungkap Ridwan Kamil di Bali, Kamis (10/11).
Ia mendapat kabar duka tersebut saat sedang kunjungan kerja ke Bali dalam rangkaian kegiatan G20. Kang Emil, sapaan akrabnya, mengaku sangat kehilangan sosok inspiratif dan guru bangsa khususnya bagi masyarakat Jabar. "Kami sangat kehilangan sosok inspiratif guru bangsa khususnya warga Jabar," ucapnya.
Tanpa mengurangi rasa hormat, Kang Emil pun memohon maaf karena tidak bisa takziah secara langsung ke rumah duka. "Saya pribadi mohon maaf tidak bisa hadir secara fisik karena ada rangkaian kegiatan G20 di Bali. Mudah-mudahan tidak mengurangi rasa hormat dan teriring doa dari kami semua," ujar Kang Emil.
Tjetje Hidayat Padmadinata lahir pada 22 Juni 1933. Sejak muda ia dikenal sebagai aktivis dan politikus nasional lintas zaman, mulai dari Orde Lama, Orde baru, dan Reformasi.
Ia terus bersuara untuk meluruskan berbagai ketimpangan kekuasaan. Bahkan, karena sikap tegasnya, ia kerap dijuluki Aktivis Mahiwal (unik, aneh, lain dari yang lain).
Tjetje juga aktif menulis sejak 1960 sebagai sastrawan, kolumnis, dan jurnalis. Tulisannya umumnya terkait dengan komitmennya terhadap masalah kenegaraan dan politik, baik lokal, nasional, regional, maupun internasional.
Ia dianggap sebagai tokoh pendobrak yang mendahului zamannya. Konsekuensi dari sikapnya itu, sejak 1960 Kang Tjetje mesti merasakan pahit getirnya menjadi tahanan politik karena dituduh sebagai mahasiswa pendukung Gerakan Perdamaian Nasional (GPN).
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!