IKAPJ Santuni 448 Anak Yatim dan Dhuafa dalam Peringatan Maulid Nabi di Polije 28 Aug 2026 Dari Tenaga Honorer, Muhamad Dahlan Kini Pimpin SDN Girimekar dengan Program Pendidikan Berkarakter 28 Aug 2026 Harga Tiket Mahal, The Jakmania Boikot Laga Persija vs Brisbane Roar 28 Aug 2026 Hasil FP1 MotoGP Aragon 2026, Marc Marquez Tercepat 28 Aug 2026 Jadwal Timnas Indonesia di FIFA ASEAN Cup 2026 Lengkap 28 Aug 2026 Toyota Camry Terbakar di Tol MBZ Arah Cikampek 28 Aug 2026 Destry Damayanti Resmi Jadi Gubernur Bank Indonesia 2026-2031 28 Aug 2026 Pesawat Tempur F-16 Lalu-lalang di Jakarta, Ini Penjelasan TNI AU 28 Aug 2026 3 Faktor Gaya Hidup yang Bisa Picu Penuaan Dini 28 Aug 2026 Ahli Ungkap Waktu Tidur yang Tepat untuk Jaga Energi 28 Aug 2026 IKAPJ Santuni 448 Anak Yatim dan Dhuafa dalam Peringatan Maulid Nabi di Polije 28 Aug 2026 Dari Tenaga Honorer, Muhamad Dahlan Kini Pimpin SDN Girimekar dengan Program Pendidikan Berkarakter 28 Aug 2026 Harga Tiket Mahal, The Jakmania Boikot Laga Persija vs Brisbane Roar 28 Aug 2026 Hasil FP1 MotoGP Aragon 2026, Marc Marquez Tercepat 28 Aug 2026 Jadwal Timnas Indonesia di FIFA ASEAN Cup 2026 Lengkap 28 Aug 2026 Toyota Camry Terbakar di Tol MBZ Arah Cikampek 28 Aug 2026 Destry Damayanti Resmi Jadi Gubernur Bank Indonesia 2026-2031 28 Aug 2026 Pesawat Tempur F-16 Lalu-lalang di Jakarta, Ini Penjelasan TNI AU 28 Aug 2026 3 Faktor Gaya Hidup yang Bisa Picu Penuaan Dini 28 Aug 2026 Ahli Ungkap Waktu Tidur yang Tepat untuk Jaga Energi 28 Aug 2026

Jenazah Sesepuh Sunda Tjetje Hidayat Padmadinata Dimakamkan di TPU Gumuruh

ED
Kamis, 10 November 2022 | 08:33 WIB
Bagikan
Jenazah Sesepuh Sunda Tjetje Hidayat Padmadinata Dimakamkan di TPU Gumuruh

VISI.NEWS | BANDUNG - Sesepuh Sunda Tjetje Hidayat Padmadinata meninggal di Rumah Sakit Hasan Sadikin Bandung (RSHS), Rabu 9 November 2022 pukul 16.45 WIB. Pemakaman jenazahnya Kamis (10/11/2022) ini di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Gumuruh, Kota Bandung.

Sebelumnya jenazah akan disalatkan terlebih dulu di Masjid Husnul Khotimah di Jalan Sagitarius, Kelurahan Gumuruh, Kecamatan Batununggal, Kota Bandung.

Kang Tjetje, demikian Tjetje Hidayat Padmadinata biasa disapa, meninggal di usia 89 tahun, karena sakit. Sudah menjalani perawatan selama 5 hari.

Putri Tjetje, Chrysant menyebut ayahnya alami penyakit komplikasi kesehatan dan tiga hari sebelum wafat kondisi kesehatannya terus menurun.

“Ya sudah sepekan almarhum menjalani perawatan intensif di dua rumah sakit. Beliau juga alami gagal ginjal,” ucapnya di rumah duka.

Sebelum dirawat di RSHS Bandung, Chrysant menyebut Tjetje sempat menjalani perawatan di RS Muhammadiyah. Sementara untuk dirawat di RSHS, katanya, sudah lima harian.

Wali Kota Bandung, Yana Mulyana mengaku sangat kehilangan dan turut berduka. “Atas nama Pemerintah Kota Bandung dan pribadi, saya turut berduka. Semoga semua amal ibadahnya diterima Allah SWT,” kata Yana.

Yana mengakui, Kang Tjetje merupakan salah satu tokoh yang sering memberikan pemikiran dan masukan kepadanya. “Semoga keluarga yang ditinggalkan tabah dan diberikan kekuatan,” ujarnya.

Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil, menyampaikan dukacita mendalam atas berpulangnya sesepuh budayawan Sunda itu.

"Saya menghaturkan dukacita mendalam atas nama pribadi, keluarga dan Pemda Provinsi Jawa Barat atas berpulangnya guru kita, orang tua kita semua Bapak Tjetje yang berpulang hari ini," ungkap Ridwan Kamil di Bali, Kamis (10/11).

Ia mendapat kabar duka tersebut saat sedang kunjungan kerja ke Bali dalam rangkaian kegiatan G20. Kang Emil, sapaan akrabnya, mengaku sangat kehilangan sosok inspiratif dan guru bangsa khususnya bagi masyarakat Jabar. "Kami sangat kehilangan sosok inspiratif guru bangsa khususnya warga Jabar," ucapnya.

Tanpa mengurangi rasa hormat, Kang Emil pun memohon maaf karena tidak bisa takziah secara langsung ke rumah duka. "Saya pribadi mohon maaf tidak bisa hadir secara fisik karena ada rangkaian kegiatan G20 di Bali. Mudah-mudahan tidak mengurangi rasa hormat dan teriring doa dari kami semua," ujar Kang Emil.

Tjetje Hidayat Padmadinata lahir pada 22 Juni 1933. Sejak muda ia dikenal sebagai aktivis dan politikus nasional lintas zaman, mulai dari Orde Lama, Orde baru, dan Reformasi.

Ia terus bersuara untuk meluruskan berbagai ketimpangan kekuasaan. Bahkan, karena sikap tegasnya, ia kerap dijuluki Aktivis Mahiwal (unik, aneh, lain dari yang lain).

Tjetje juga aktif menulis sejak 1960 sebagai sastrawan, kolumnis, dan jurnalis. Tulisannya umumnya terkait dengan komitmennya terhadap masalah kenegaraan dan politik, baik lokal, nasional, regional, maupun internasional.

Ia dianggap sebagai tokoh pendobrak yang mendahului zamannya. Konsekuensi dari sikapnya itu, sejak 1960 Kang Tjetje mesti merasakan pahit getirnya menjadi tahanan politik karena dituduh sebagai mahasiswa pendukung Gerakan Perdamaian Nasional (GPN).

Kalangan elite Indonesia mengenal Tjetje sebagai pengkaji ilmu politik, politisi multitalenta, sekaligus politikus yang teguh dalam memelihara integritas atas dasar moralitas dan budaya adiluhung.

Atas dasar semua itu, Tjetje pun memperoleh gelar Doktor Honoris Causa bidang politik dari Universitas Pasundan. Sampai memasuki usia senjanya, Tjetje tetap aktif walau tak memiliki jabatan apa pun.

Kepergiannya begitu meninggalkan duka mendalam bagi tanah pasundan. Semoga almarhum Tjetje mendapatkan tempat terbaik di sisi Tuhan Yang Maha Esa.@alfa

Komentar (0)

Tulis Komentar

Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

VisiNews Club

Nikmati Berita Tanpa Batas & Benefit Eksklusif!

Dapatkan Kaos & Merchandise eksklusif setiap bulan dengan berlangganan Visi News.