Jadwal SIM Keliling Kabupaten Sumedang Hari Ini, Jumat 21 Agustus 2026 21 Aug 2026 Jadwal SIM Keliling Kota Cimahi Hari Ini, Jumat 21 Agustus 2026 21 Aug 2026 Jadwal SIM Keliling Kota Bandung Hari Ini, Jumat 21 Agustus 2026 21 Aug 2026 Jadwal Sholat DKI Jakarta Hari Ini, Jumat 21 Agustus 2026 21 Aug 2026 Jadwal SIM Keliling Kabupaten Bandung Hari Ini, Jumat 21 Agustus 2026 21 Aug 2026 Jadwal Sholat Kabupaten Bandung Hari Ini, Jumat 21 Agustus 2026 21 Aug 2026 Sustainability Shift Buka Peluang Baru di Lima Sektor Strategis Indonesia 20 Aug 2026 Kertajati Disiapkan Jadi MRO Pesawat Tempur TNI 20 Aug 2026 Bandung Creative Hub, Ruang Gratis Lahirkan Talenta Kreatif 20 Aug 2026 Peraturan Dana Jurnalisme Didorong Segera Disahkan Dewan Pers 20 Aug 2026 Jadwal SIM Keliling Kabupaten Sumedang Hari Ini, Jumat 21 Agustus 2026 21 Aug 2026 Jadwal SIM Keliling Kota Cimahi Hari Ini, Jumat 21 Agustus 2026 21 Aug 2026 Jadwal SIM Keliling Kota Bandung Hari Ini, Jumat 21 Agustus 2026 21 Aug 2026 Jadwal Sholat DKI Jakarta Hari Ini, Jumat 21 Agustus 2026 21 Aug 2026 Jadwal SIM Keliling Kabupaten Bandung Hari Ini, Jumat 21 Agustus 2026 21 Aug 2026 Jadwal Sholat Kabupaten Bandung Hari Ini, Jumat 21 Agustus 2026 21 Aug 2026 Sustainability Shift Buka Peluang Baru di Lima Sektor Strategis Indonesia 20 Aug 2026 Kertajati Disiapkan Jadi MRO Pesawat Tempur TNI 20 Aug 2026 Bandung Creative Hub, Ruang Gratis Lahirkan Talenta Kreatif 20 Aug 2026 Peraturan Dana Jurnalisme Didorong Segera Disahkan Dewan Pers 20 Aug 2026

Jejak Tatar Sunda: Dari Tarumanagara hingga Jawa Barat dalam Pangkuan Republik

ED
PN
Selasa, 18 Agustus 2026 | 06:07 WIB
Bagikan
Jejak Tatar Sunda: Dari Tarumanagara hingga Jawa Barat dalam Pangkuan Republik

VISI.NEWS - Jawa Barat bukan sekadar nama sebuah provinsi di bagian barat Pulau Jawa. Di balik hamparan pegunungan, lembah, sungai, pesisir, dan kota-kota yang terus tumbuh, tersimpan perjalanan sejarah yang panjang. Tanah ini menjadi ruang tumbuh peradaban Sunda, tempat kerajaan-kerajaan kuno berdiri, pelabuhan-pelabuhan berkembang, Islam menyebar, kekuasaan kolonial datang silih berganti, hingga akhirnya Jawa Barat menjadi bagian penting dari Republik Indonesia.

Wilayah Jawa Barat dikenal sebagai Tatar Sunda atau Pasundan. Kebudayaan Sunda menjadi salah satu akar utama kehidupan masyarakatnya. Namun, sejarah Jawa Barat juga dibentuk oleh perjumpaan berbagai kebudayaan. Di wilayah pesisir, khususnya Cirebon, tumbuh perpaduan budaya Sunda, Jawa, Islam, dan tradisi maritim. Sementara kawasan metropolitan yang berkembang di sekitar Jakarta menjadi ruang pertemuan berbagai suku bangsa dari seluruh penjuru Indonesia.

Karena itu, sejarah Jawa Barat adalah kisah tentang perjalanan panjang sebuah tanah yang terus berubah, tetapi tetap menyimpan jejak masa lalu dalam ingatan masyarakatnya.

Jejak Tarumanagara di Tanah Jawa Barat

Kisah sejarah Jawa Barat dapat ditelusuri setidaknya sejak abad ke-5 melalui keberadaan Kerajaan Tarumanagara.

Tarumanagara merupakan salah satu kerajaan awal di Pulau Jawa yang meninggalkan sejumlah bukti tertulis. Prasasti-prasasti peninggalannya ditemukan di berbagai tempat di wilayah Jawa Barat. Sebagian besar prasasti tersebut menggunakan bahasa Sanskerta dan aksara Pallawa.

Nama Raja Purnawarman menjadi salah satu tokoh penting yang muncul dalam sumber-sumber peninggalan Tarumanagara. Ia digambarkan sebagai raja yang memiliki kekuasaan besar dan memberikan perhatian terhadap pembangunan serta pengelolaan wilayah kerajaan.

Prasasti Ciaruteun, misalnya, menjadi salah satu peninggalan yang penting dalam mengungkap keberadaan Tarumanagara. Jejak telapak kaki yang terdapat pada prasasti tersebut dikaitkan dengan Raja Purnawarman.

Selain menjadi bukti keberadaan kerajaan, peninggalan Tarumanagara juga menunjukkan bahwa masyarakat di wilayah Jawa Barat pada masa itu telah mengenal sistem pemerintahan, kehidupan keagamaan, pengelolaan sumber daya air, serta hubungan antardaerah.

Dari masa inilah lembaran awal sejarah Jawa Barat mulai terlihat melalui batu-batu prasasti yang bertahan melintasi zaman.

Bangkitnya Kerajaan Sunda dan Pajajaran

Setelah masa Tarumanagara berakhir, kekuasaan politik di bagian barat Pulau Jawa berkembang melalui Kerajaan Sunda.

Kerajaan Sunda menjadi salah satu kekuatan penting yang menguasai wilayah barat Pulau Jawa. Pusat pemerintahannya kemudian dikenal berada di Pakuan Pajajaran, kawasan yang kini berada di sekitar Kota Bogor.

Pakuan Pajajaran tidak hanya menjadi pusat kekuasaan politik, tetapi juga menjadi simbol kejayaan kerajaan Sunda. Dalam perjalanan sejarah, nama Pajajaran kemudian melekat kuat dalam ingatan kolektif masyarakat Sunda.

Berbagai peninggalan dan sumber sejarah memberikan gambaran mengenai kehidupan Kerajaan Sunda. Salah satunya adalah Prasasti Kebon Kopi II yang berasal dari sekitar tahun 932.

Kerajaan Sunda berkembang melalui kehidupan pertanian dan perdagangan. Hubungan dengan wilayah pesisir juga membuat kerajaan ini tidak sepenuhnya terpisah dari jaringan perdagangan yang menghubungkan berbagai wilayah Nusantara.

Masa Pajajaran kemudian menjadi salah satu bab paling dikenang dalam sejarah Jawa Barat. Nama Pajajaran bahkan hingga kini tetap hidup dalam cerita rakyat, kesenian, sastra, dan berbagai peninggalan budaya masyarakat Sunda.

Cirebon, Pelabuhan yang Menjadi Kesultanan

Memasuki abad ke-16, wajah Jawa Barat perlahan berubah.

Jalur perdagangan semakin ramai, sementara Islam berkembang semakin luas di Nusantara. Wilayah pesisir menjadi tempat bertemunya pedagang, ulama, bangsawan, dan berbagai kelompok masyarakat dari berbagai daerah.

Cirebon menjadi salah satu pusat penting dalam perubahan tersebut.

Letaknya di pantai utara Pulau Jawa menjadikan Cirebon memiliki posisi strategis dalam jalur perdagangan. Dari sebuah pelabuhan, Cirebon berkembang menjadi pusat kekuasaan dan kemudian tumbuh sebagai Kesultanan Cirebon.

Pengaruh Kesultanan Demak turut memainkan peranan dalam perubahan politik di kawasan tersebut. Hubungan Cirebon dengan pusat-pusat kekuasaan Islam di Jawa semakin memperkuat perkembangan Islam di wilayah pesisir Jawa Barat.

Dari Cirebon, perubahan politik dan keagamaan terus bergerak. Banten kemudian berkembang menjadi kesultanan tersendiri dan menjadi salah satu kekuatan perdagangan terbesar di kawasan barat Pulau Jawa.

Pesisir utara Jawa Barat pun menjadi panggung pertemuan antara perdagangan, agama, kekuasaan, dan kebudayaan.

Bayang-Bayang VOC di Tanah Jawa

Memasuki abad ke-17, kekuatan Eropa semakin kuat mencengkeram Nusantara.

VOC atau Vereenigde Oostindische Compagnie memperluas jaringan perdagangan dan kekuasaannya. Pada 1619, VOC memindahkan pusat kekuasaannya dari Ambon ke Jayakarta. Setelah dikuasai Belanda, Jayakarta berkembang menjadi Batavia.

Kehadiran Batavia membawa perubahan besar bagi wilayah sekitarnya.

Batavia menjadi pusat pemerintahan dan perdagangan kolonial. Dari kota tersebut, pengaruh Belanda secara perlahan meluas ke berbagai daerah di Pulau Jawa, termasuk wilayah Jawa Barat.

Hubungan Belanda dengan kerajaan-kerajaan di Jawa Barat pun semakin kompleks. Perdagangan yang semula menjadi kepentingan utama berubah menjadi persaingan politik, perjanjian, campur tangan pemerintahan, dan akhirnya penguasaan wilayah.

Banten, yang sebelumnya menjadi kekuatan besar di kawasan barat Pulau Jawa, juga menghadapi tekanan dari kekuatan kolonial.

Jejak Kolonial yang Mengubah Wajah Jawa Barat

Setelah VOC dibubarkan pada akhir abad ke-18, kekuasaan kolonial dilanjutkan oleh pemerintah Hindia Belanda.

Jawa Barat kemudian menjadi wilayah yang sangat penting bagi kepentingan ekonomi kolonial. Tanahnya yang subur, iklim pegunungan yang mendukung perkebunan, serta kedekatannya dengan Batavia menjadikan kawasan ini memiliki nilai strategis.

Perkebunan berkembang di berbagai daerah. Kopi, teh, kina, dan berbagai hasil bumi menjadi komoditas penting.

Jaringan jalan dan kereta api juga mulai dibangun untuk menghubungkan perkebunan, pusat pemerintahan, kota-kota, dan pelabuhan.

Namun, di balik perkembangan tersebut terdapat kehidupan masyarakat pribumi yang menghadapi berbagai tekanan ekonomi dan sosial akibat sistem kolonial.

Jawa Barat tumbuh, tetapi pertumbuhan itu berlangsung dalam struktur kekuasaan yang tidak seimbang.

1925, Lahirnya Provinsi Jawa Barat

Salah satu tonggak penting dalam sejarah administrasi Jawa Barat terjadi pada 1925.

Pada tahun tersebut, pemerintah Hindia Belanda membentuk Provinsi Jawa Barat sebagai bagian dari pelaksanaan Bestuurshervormingwet 1922, yaitu kebijakan reformasi pemerintahan yang membagi Hindia Belanda ke dalam satuan-satuan wilayah provinsi.

Pembentukan Provinsi Jawa Barat pada masa kolonial menjadi bagian penting dari sejarah terbentuknya pemerintahan Jawa Barat modern.

Meski batas wilayah dan sistem pemerintahannya berbeda dengan Jawa Barat saat ini, pembentukan tersebut menjadi salah satu dasar historis perjalanan administratif provinsi ini.

17 Agustus 1945, Fajar Kemerdekaan

Pada 17 Agustus 1945, Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya.

Berita tentang Proklamasi Kemerdekaan kemudian menyebar ke berbagai daerah, termasuk Jawa Barat. Semangat kemerdekaan menjalar melalui kota, desa, pesantren, perkumpulan masyarakat, hingga kelompok-kelompok perjuangan.

Jawa Barat menjadi salah satu wilayah yang ikut mengalami pergolakan besar setelah Indonesia merdeka.

Masyarakat menghadapi situasi politik dan keamanan yang tidak sederhana. Kembalinya Belanda bersama dinamika politik pasca-Perang Dunia II membuat perjuangan mempertahankan kemerdekaan berlangsung panjang.

19 Agustus 1945, Jawa Barat Menjadi Provinsi Republik

Dua hari setelah Proklamasi, sejarah Jawa Barat memasuki babak baru.

Pada 19 Agustus 1945, Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia menetapkan pembagian wilayah Republik Indonesia menjadi delapan provinsi. Jawa Barat menjadi salah satu di antaranya.

Tanggal tersebut kemudian memiliki kedudukan khusus dalam sejarah pemerintahan daerah.

Melalui Peraturan Daerah Provinsi Jawa Barat Nomor 26 Tahun 2010 tentang Hari Jadi Pemerintah Provinsi Jawa Barat, tanggal 19 Agustus ditetapkan sebagai Hari Jadi Pemerintah Provinsi Jawa Barat.

Dengan demikian, 19 Agustus bukan hanya tanggal dalam kalender pemerintahan, tetapi juga menjadi pengingat bahwa Jawa Barat merupakan salah satu fondasi awal pembentukan struktur pemerintahan Republik Indonesia.

Negara Pasundan di Tengah Gejolak Revolusi

Namun, perjalanan Jawa Barat setelah kemerdekaan tidak langsung berjalan dalam suasana yang tenang.

Situasi politik Indonesia pada akhir 1940-an sangat rumit. Belanda berusaha kembali menanamkan pengaruhnya melalui berbagai strategi politik, termasuk pembentukan negara-negara federal.

Dalam situasi tersebut, muncul Negara Pasundan.

Negara Pasundan menjadi salah satu negara bagian dalam Republik Indonesia Serikat. Keberadaannya menjadi bagian dari dinamika politik federal yang berkembang setelah Indonesia merdeka.

Periode tersebut memperlihatkan bahwa perjuangan mempertahankan kemerdekaan tidak hanya berlangsung di medan pertempuran, tetapi juga melalui pergulatan politik dan diplomasi.

Kembalinya Jawa Barat ke Pangkuan NKRI

Babak tersebut akhirnya berakhir pada 1950.

Republik Indonesia Serikat dibubarkan dan Indonesia kembali menjadi Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Dengan berakhirnya sistem federal, Jawa Barat kembali menjadi bagian dari negara kesatuan.

Peristiwa ini menjadi penutup penting dari salah satu bab paling bergejolak dalam sejarah politik Jawa Barat setelah Proklamasi.

Dari Kerajaan hingga Provinsi Modern

Setelah 1950, Jawa Barat memasuki era baru sebagai bagian dari negara Indonesia yang terus berkembang.

Provinsi ini kemudian tumbuh menjadi salah satu wilayah terpenting di Indonesia. Bandung menjadi pusat pemerintahan sekaligus berkembang sebagai kota pendidikan, kebudayaan, teknologi, dan ekonomi kreatif.

Wilayah Bogor, Depok, Bekasi, Karawang, Bandung Raya, Cirebon, hingga kawasan selatan Jawa Barat mengalami perkembangan dengan karakter masing-masing.

Pertumbuhan industri, urbanisasi, pendidikan, perdagangan, dan transportasi membuat wajah Jawa Barat berubah dengan cepat.

Namun, di tengah perubahan itu, akar budaya Sunda tetap hidup.

Bahasa Sunda masih digunakan dalam kehidupan masyarakat. Seni tradisional seperti angklung, wayang golek, degung, dan jaipongan terus diwariskan. Berbagai tradisi masyarakat juga tetap menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.

Di Cirebon, warisan budaya pesisir tumbuh dengan corak yang khas. Tradisi keraton, batik, kesenian, dan kehidupan masyarakatnya memperlihatkan perjumpaan berbagai kebudayaan yang telah berlangsung selama berabad-abad.

Jawa Barat, Tanah yang Menyimpan Banyak Zaman

Sejarah Jawa Barat pada akhirnya bukan hanya cerita mengenai pergantian kerajaan, kedatangan bangsa asing, atau perubahan pemerintahan.

Ia adalah kisah tentang manusia yang hidup, berpindah, berdagang, bertani, berjuang, membangun kota, menjaga tradisi, dan mewariskan kebudayaan kepada generasi berikutnya.

Dari batu prasasti Tarumanagara hingga gedung-gedung modern di kawasan metropolitan, dari jejak Pakuan Pajajaran hingga denyut kehidupan Bandung, dari pelabuhan Cirebon hingga perkebunan di Priangan, setiap sudut Jawa Barat menyimpan bagian dari perjalanan panjang Nusantara.

Jawa Barat telah melewati zaman kerajaan, kesultanan, kolonialisme, revolusi, dan pembentukan negara modern.

Kini, sejarah itu tidak hanya tersimpan dalam buku dan museum. Ia hidup dalam bahasa, kesenian, tradisi, nama tempat, bangunan tua, situs bersejarah, serta ingatan masyarakat.

Jawa Barat adalah tanah yang terus bergerak bersama zaman, tetapi tidak pernah benar-benar meninggalkan masa lalunya.

Di sanalah Tatar Sunda berdiri—sebagai ruang tempat sejarah, budaya, dan perjalanan bangsa bertemu dalam satu hamparan tanah yang panjang kisahnya.

Komentar (0)

Tulis Komentar

Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

VisiNews Club

Nikmati Berita Tanpa Batas & Benefit Eksklusif!

Dapatkan Kaos & Merchandise eksklusif setiap bulan dengan berlangganan Visi News.