Jejak Delapan Orang Hilang di Selat Sunda, Pencarian di Tengah Ancaman Krakatau

ED
PN
Sabtu, 12 September 2026 | 12:42 WIB
Bagikan
Jejak Delapan Orang Hilang di Selat Sunda, Pencarian di Tengah Ancaman Krakatau

VISI.NEWSHilangnya lima jurnalis dan tiga awak kapal di perairan Selat Sunda saat menjalankan tugas peliputan aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau menyisakan duka sekaligus pertanyaan besar. Memasuki hari keempat pencarian, keberadaan delapan orang tersebut masih belum diketahui.

Mereka dilaporkan hilang kontak setelah melakukan perjalanan menuju kawasan perairan sekitar Gunung Anak Krakatau untuk meliput aktivitas vulkanik gunung api yang berada di Selat Sunda tersebut. Peristiwa ini kemudian memicu operasi pencarian dan pertolongan yang melibatkan berbagai unsur.

Lima jurnalis yang dilaporkan berada dalam rombongan tersebut adalah pewarta foto Antara Muhammad Bagus Khoirunas, Arie Basuki dari merdeka.com, fotografer lepas Donal Husni, Yudhistira dari iNews, serta Daus dari Anadolu. Selain mereka, terdapat tiga awak kapal yang juga belum diketahui keberadaannya.

Hilangnya rombongan tersebut bukan sekadar persoalan kehilangan kontak. Mereka berada di wilayah perairan yang memiliki karakter geografis dan aktivitas vulkanik yang kompleks. Selat Sunda merupakan kawasan yang mempertemukan jalur pelayaran dengan lingkungan gunung api aktif, sehingga operasi pencarian membutuhkan perhitungan matang terhadap kondisi laut, cuaca, arus, serta aktivitas vulkanik.

Operasi pencarian kemudian dilakukan dengan mengerahkan armada dalam beberapa sektor. Pada hari keempat, Basarnas mengerahkan 13 kapal untuk memperluas penyisiran di kawasan yang diperkirakan menjadi lokasi terakhir keberadaan rombongan.

Armada yang dikerahkan terdiri atas KRI Kerambit 627, KN SAR Tetuka, KP Hayabusa, KN SAR Basudewa, KRI Leuser 924, KAL Anyer, KP Sanjaya, RIB 02 Banten, RBB P Peucang, RIB Lampung, KAL Pahowang, TB Gunung Santri, dan KRI Lepu.

Besarnya kekuatan pencarian menunjukkan bahwa hilangnya delapan orang tersebut diperlakukan sebagai keadaan darurat yang membutuhkan pengerahan sumber daya lintas lembaga.

Di tengah pencarian, perhatian juga tertuju pada keluarga para korban. Ketidakpastian mengenai keberadaan anggota keluarga menjadi beban psikologis tersendiri. Karena itu, dukungan kepada keluarga menjadi bagian penting dari penanganan tragedi selain upaya pencarian di lapangan.

Wali Kota Bandung Muhammad Farhan turut menyampaikan keprihatinannya. Ia mengajak masyarakat mendoakan keselamatan lima jurnalis dan tiga awak kapal tersebut serta berharap seluruhnya dapat ditemukan dalam keadaan selamat.

Menurut Farhan, para jurnalis menjalankan tugas penting untuk menyampaikan informasi kepada publik, termasuk ketika harus bekerja di wilayah yang memiliki risiko tinggi.

Kisah hilangnya rombongan ini juga kembali memperlihatkan risiko yang dihadapi pekerja media ketika menjalankan tugas jurnalistik di lokasi bencana. Peliputan aktivitas gunung api membutuhkan akses terhadap informasi dan lokasi yang memadai, tetapi pada saat yang sama keselamatan awak media harus menjadi pertimbangan utama.

Gunung Anak Krakatau sendiri bukan gunung api yang asing dalam sejarah kebencanaan Indonesia. Gunung tersebut merupakan bagian dari kawasan Krakatau yang memiliki sejarah panjang aktivitas vulkanik. Letusan besar Krakatau pada 1883 menjadi salah satu peristiwa vulkanik paling dahsyat dalam sejarah modern, sementara kelahiran dan pertumbuhan Anak Krakatau menunjukkan bahwa aktivitas vulkanik di kawasan tersebut terus berlangsung.

Ancaman di wilayah gunung api tidak hanya berasal dari letusan. Aktivitas vulkanik di kawasan kepulauan juga dapat berinteraksi dengan kondisi laut dan menghasilkan bahaya lain. Karena itu, perjalanan menuju kawasan sekitar gunung api aktif memerlukan pemantauan terhadap peringatan resmi, zona bahaya, kondisi meteorologi, serta situasi perairan.

Dalam kasus hilangnya delapan orang ini, penyebab pasti hilangnya kontak belum dapat disimpulkan hanya berdasarkan informasi yang tersedia. Tidak tepat pula menyatakan bahwa mereka pasti menjadi korban erupsi sebelum proses pencarian dan penyelidikan menemukan bukti yang dapat mengonfirmasi penyebabnya.

Fokus utama saat ini adalah menemukan mereka.

Operasi SAR memiliki tantangan tersendiri ketika pencarian dilakukan di laut. Area penyisiran dapat sangat luas, sementara posisi seseorang atau kapal dapat berubah akibat arus dan kondisi gelombang. Faktor waktu juga menjadi sangat penting karena peluang menemukan korban dalam kondisi selamat dipengaruhi oleh banyak variabel.

Karena itu, setiap informasi mengenai lokasi terakhir, rute perjalanan, kondisi kapal, komunikasi terakhir, serta kemungkinan titik hanyut menjadi bagian penting dalam menentukan pola pencarian.

Tragedi ini sekaligus menjadi pengingat bahwa peliputan bencana tidak hanya membutuhkan keberanian, tetapi juga kesiapan menghadapi risiko. Bagi perusahaan media maupun pekerja jurnalistik, prosedur keselamatan, komunikasi darurat, pemantauan peringatan kebencanaan dan koordinasi dengan otoritas menjadi bagian yang tidak dapat dipisahkan dari pekerjaan lapangan.

Namun di balik semua aspek teknis tersebut, ada harapan yang sama dari keluarga, rekan kerja, masyarakat, dan tim SAR: delapan orang yang hilang dapat segera ditemukan.

Hingga informasi terakhir yang tersedia, operasi pencarian masih berlangsung. Belum ada kepastian mengenai kondisi maupun lokasi lima jurnalis dan tiga awak kapal tersebut.

Karena itu, setiap perkembangan harus menunggu hasil pencarian dan informasi resmi dari otoritas. Di tengah ketidakpastian tersebut, doa dan dukungan masyarakat menjadi salah satu bentuk solidaritas bagi keluarga para korban sekaligus bagi seluruh personel SAR yang terus bekerja mencari mereka.

Komentar (0)

Tulis Komentar

Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

VisiNews Club

Nikmati Berita Tanpa Batas & Benefit Eksklusif!

Dapatkan Kaos & Merchandise eksklusif setiap bulan dengan berlangganan Visi News.