Iran Ancam Tutup Blokade Minyak Dunia
VISI.NEWS | TEHERAN - Ketegangan geopolitik kembali memanas setelah Iran melontarkan ancaman keras terhadap Amerika Serikat. Militer Iran menyatakan siap memblokade jalur perdagangan strategis dunia, termasuk Laut Merah, Teluk Persia, dan Laut Oman, jika blokade laut yang dilakukan AS terus berlanjut.
Pernyataan tegas itu disampaikan oleh pejabat tinggi militer Iran, Ali Abdollahi, melalui siaran televisi pemerintah. Ia menegaskan bahwa tindakan AS yang mengganggu kapal dagang dan tanker minyak Iran dapat dianggap sebagai pelanggaran awal terhadap kesepakatan gencatan senjata yang baru saja dicapai.
“Angkatan bersenjata Republik Islam tidak akan membiarkan ekspor maupun impor berlangsung di Teluk Persia, Laut Oman, dan Laut Merah jika situasi ini terus berlanjut,†tegas Abdollahi, dikutip dari Arab News, Kamis (16/4/2026).
Ancaman ini bukan tanpa dampak. Kawasan tersebut merupakan jalur vital distribusi energi global. Gangguan di wilayah ini berpotensi mengguncang pasokan minyak dunia dan memicu lonjakan harga energi secara signifikan.
Di sisi lain, Amerika Serikat tetap menunjukkan sikap keras. Komando Pusat Militer AS (CENTCOM) mengklaim tidak ada satu pun kapal yang berhasil menembus blokade dalam 48 jam pertama penerapannya. Blokade ini menyasar seluruh aktivitas keluar-masuk pelabuhan Iran sebagai bagian dari tekanan militer dan ekonomi.
Meski situasi tampak memanas, Presiden AS Donald Trump justru menyatakan bahwa konflik dengan Iran “hampir berakhir.†Pernyataan tersebut disampaikan di tengah eskalasi ancaman dan ketidakpastian di lapangan.
Trump juga mengklaim bahwa China telah sepakat untuk tidak memasok senjata ke Iran. Namun, pemerintah China berulang kali membantah tuduhan tersebut dan menegaskan tidak memberikan dukungan militer kepada Teheran.
Tekanan terhadap Iran juga datang dari sisi ekonomi. Menteri Keuangan AS, Scott Bessent, mengungkapkan bahwa Washington tengah menyiapkan sanksi sekunder terhadap lembaga keuangan yang masih berbisnis dengan Iran. Ia menyebut langkah ini sebagai “versi finansial dari serangan militer.â€
Sementara itu, upaya diplomasi masih terus berjalan. Sejumlah mediator internasional dikabarkan mendorong perpanjangan gencatan senjata antara AS dan Iran. Pejabat kawasan menyebut kedua pihak kemungkinan akan kembali ke meja perundingan dalam waktu dekat.
Namun, seorang pejabat senior AS menegaskan bahwa belum ada kesepakatan resmi terkait perpanjangan gencatan senjata. Ia hanya menyebut bahwa komunikasi dengan Iran masih berlangsung.
Di tengah tarik-ulur antara ancaman militer dan diplomasi, dunia kini menahan napas. Jika Iran benar-benar menutup jalur perdagangan di kawasan tersebut, dampaknya tak hanya dirasakan oleh negara-negara di Timur Tengah, tetapi juga oleh ekonomi global yang sangat bergantung pada stabilitas pasokan energi.
@uliBerita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!