IKAPJ Santuni 448 Anak Yatim dan Dhuafa dalam Peringatan Maulid Nabi di Polije 28 Aug 2026 Dari Tenaga Honorer, Muhamad Dahlan Kini Pimpin SDN Girimekar dengan Program Pendidikan Berkarakter 28 Aug 2026 Harga Tiket Mahal, The Jakmania Boikot Laga Persija vs Brisbane Roar 28 Aug 2026 Hasil FP1 MotoGP Aragon 2026, Marc Marquez Tercepat 28 Aug 2026 Jadwal Timnas Indonesia di FIFA ASEAN Cup 2026 Lengkap 28 Aug 2026 Toyota Camry Terbakar di Tol MBZ Arah Cikampek 28 Aug 2026 Destry Damayanti Resmi Jadi Gubernur Bank Indonesia 2026-2031 28 Aug 2026 Pesawat Tempur F-16 Lalu-lalang di Jakarta, Ini Penjelasan TNI AU 28 Aug 2026 3 Faktor Gaya Hidup yang Bisa Picu Penuaan Dini 28 Aug 2026 Ahli Ungkap Waktu Tidur yang Tepat untuk Jaga Energi 28 Aug 2026 IKAPJ Santuni 448 Anak Yatim dan Dhuafa dalam Peringatan Maulid Nabi di Polije 28 Aug 2026 Dari Tenaga Honorer, Muhamad Dahlan Kini Pimpin SDN Girimekar dengan Program Pendidikan Berkarakter 28 Aug 2026 Harga Tiket Mahal, The Jakmania Boikot Laga Persija vs Brisbane Roar 28 Aug 2026 Hasil FP1 MotoGP Aragon 2026, Marc Marquez Tercepat 28 Aug 2026 Jadwal Timnas Indonesia di FIFA ASEAN Cup 2026 Lengkap 28 Aug 2026 Toyota Camry Terbakar di Tol MBZ Arah Cikampek 28 Aug 2026 Destry Damayanti Resmi Jadi Gubernur Bank Indonesia 2026-2031 28 Aug 2026 Pesawat Tempur F-16 Lalu-lalang di Jakarta, Ini Penjelasan TNI AU 28 Aug 2026 3 Faktor Gaya Hidup yang Bisa Picu Penuaan Dini 28 Aug 2026 Ahli Ungkap Waktu Tidur yang Tepat untuk Jaga Energi 28 Aug 2026

IPNU Jawa Barat Kehilangan Nurani

Desi Rossilawati
Senin, 8 September 2025 | 12:28 WIB
Bagikan
IPNU Jawa Barat Kehilangan Nurani

VISI.NEWS | KOTA BANDUNG - Ratusan pelajar yang tergabung dalam Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) Jawa Barat menggelar aksi mimbar bebas di Monumen Juang, Kota Bandung, Jumat (5/9/2025). Aksi ini menjadi wadah para pelajar menyuarakan keresahan terhadap kondisi bangsa dan daerah.

Dalam aksinya, massa membentuk lingkaran solidaritas, menyalakan lilin, membentangkan pamflet tuntutan, hingga berorasi, membacakan puisi dan menyuarakan tuntutan sekaligus menjadikan momen ini sebagai bahan pembelajaran. Mereka menegaskan bahwa belajar tidak hanya terjadi di ruang kelas, melainkan juga melalui ruang-ruang demokrasi.

Hadirnya IPNU menandai bahwa kesadaran kritis masih hidup di dada para pelajar. Dalam aksi kali ini IPNU Jawa Barat mempunyai beberapa keresahan yang telah dimuat dan disebar dalam bentuk pamplet diantaranya:

Sejumlah tuntutan disuarakan dalam aksi tersebut, di antaranya:

1. Melaknat keras segala tindakan refresif apparat kepolisian terhadap massa aksi.

2. Bebaskan pelajar, mahasiswa dan masyarakat yang ditahan saat menyampaikan aspirasi.

3. Tolak militerisasi Pendidikan di Jawa Barat.

4. Tindak tegas pelaku kekerasan seksual di lingkungan Pendidikan di Jawa Barat.

5. Optimalisasi pemerataan akses Pendidikan di Jawa Barat.

Tuntutan-tuntutan ini hadir atas hasil diskusi PW IPNU Jawa Barat beserta kawan-kawan organisasi kepelajaran yang lain di Jawa Barat pada hari Senin (1/9/2025) bertempat di Basecamp IPNU Jawa Barat.

Dengan aksi, pelajar diajarkan untuk menghargai suaranya sendiri. Menghargai kesedihannya melihat ibu pertiwi yang kini tengah di eksploitasi.

Namun yang lebih menyedihkan justru datang dari ketua-ketua organisasi yang terlambat datang ke lokasi aksi dan malah membubarkan massa ditengah aksi berlangsung. Dari hal ini kita patut bertanya:

Bukankah pelajar-pelajar yang datang dari berbagai cabang di daerah untuk menyuarakan pendapatnya hadir atas undangan PW IPNU Jawa Barat? Dimanakah keberanian intektual di tubuh IPNU kini bersemayam? Apakah IPNU, organisasi yang lahir dari Rahim Nahdlatul Ulama dengan sejarah Panjang perlawanan moral dan keberpihakan pada rakyat kecil, kini terjebak dalam ketakutan dan dikondisikan penguasa?

Saya teringat ungkapan KH Tolchah Mansoer (Ketua Umum pertama IPNU) bahwa 'Cita-cita IPNU adalah membentuk manusia berilmu yang dekat dengan masyarakat, bukan manusia calon kasta elit dalam masyarakat'.

Ketika pelajar turun ke jalan bukan untuk mencari sensasi, melainkan menagih nurani bangsa, maka pembubaran aksisama artinya dengan pengkhianatan terhadap cita-cita perjuangan. IPNU Jawa Barat seolah melupakan bahwa Pendidikan kader bukan hanya soal ritual structural, tetapi juga keberanian membela kebenaran.

Apalagi pembubaran ini dibentuk dalam narasi 'jangan sampai kita terprovokasi' ditengah aksi yang Kondusif dan damai. Padahal, provokasi yang sesungguhnya justru lahir dari tangan mereka sendiri. Bagi saya, pembubaran itu bukanlah sikap arif, melainkan provokasi halus yang mengebiri keberanian pelajar, meredam semangat kritis, dan mencabut keberpihakan pada rakyat.

Kata-kata 'jangan terprovokasi' yang kita dengan sebagai sarana pembubaran aksi hanyalah topeng retorik, sementara tindakan nyata menunjukan bahwa mereka telah terprovokasi oleh kekuasaan.

Inilah titik dimana nurani organisasi pelajar diuji. Apakah akan berdiri disisi rakyat dengan keberanian, atau memilih barisan penguasa dengan kepatuhan?

Sejarah tidak akan mencatat siapa yang 'aman', tetapi siapa yang berani. Tinggal kitalah yang memilih mau diposisi manakah kita berdiri?.

Komentar (0)

Tulis Komentar

Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

VisiNews Club

Nikmati Berita Tanpa Batas & Benefit Eksklusif!

Dapatkan Kaos & Merchandise eksklusif setiap bulan dengan berlangganan Visi News.