IHSG Turun 4 Persen, Analis Soroti Pelemahan Rupiah

Desi Rossilawati
Rabu, 3 Juni 2026 | 11:45 WIB
Bagikan
IHSG Turun 4 Persen, Analis Soroti Pelemahan Rupiah

Ilustrasi./visi.news/st.

VISI.NEWS | BANDUNG - Pelemahan tajam Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan Rabu (3/6/2026) mencerminkan meningkatnya tekanan di pasar keuangan domestik. Hingga pukul 11.10 WIB, IHSG turun 255,71 poin atau 4,13 persen ke level 5.939,71, sekaligus menandakan memburuknya sentimen investor dalam jangka pendek.

Salah satu faktor utama yang disebut membebani pasar adalah melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat. Analis MNC Sekuritas Herditya Wicaksana menilai tekanan pada kurs menjadi pemicu utama aksi jual di pasar saham.

"Kami perkirakan koreksi yang terjadi di JCI (Jakarta Composite Index) saat ini disebabkan oleh adanya pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS, yang saat ini sudah mencapai Rp17.928 per dolar AS," ujar Herditya.

Dalam konteks pasar modal, pelemahan rupiah biasanya meningkatkan kekhawatiran investor terhadap biaya impor, beban utang berbasis dolar, hingga potensi tekanan terhadap kinerja emiten. Kondisi tersebut sering kali mendorong pelaku pasar mengambil langkah lebih konservatif.

Selain faktor nilai tukar, IHSG juga terbebani oleh koreksi pada saham saham konglomerasi yang memiliki kapitalisasi pasar besar. Sebelumnya, sejumlah saham tersebut mengalami penguatan signifikan dalam beberapa hari terakhir sehingga aksi ambil untung dinilai turut mempercepat penurunan indeks.

"Di sisi lain, pergerakan IHSG dibebani oleh emiten emiten konglomerasi yang selama dua hari belakangan ini bergerak menguat signifikan, bahkan mengalami auto reject atas (ARA)," ujar Herditya dalam keterangannya dikutip, Rabu (3/6/2026).

Dari sisi teknikal, kondisi pasar juga belum menunjukkan sinyal pemulihan yang kuat.

"Dari sisi teknikal, pergerakan JCI masih berada di fase downtrend nya, dan belum menunjukkan adanya tanda tanda pembalikan arah yang valid," katanya.

Sementara itu, pengamat pasar uang Ibrahim Assuaibi menilai tekanan terhadap rupiah berkaitan dengan meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang mendorong kenaikan harga minyak dunia. Kondisi tersebut memperkuat posisi dolar AS dan menambah tekanan terhadap mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.

Komentar (0)

Tulis Komentar

Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

VisiNews Club

Nikmati Berita Tanpa Batas & Benefit Eksklusif!

Dapatkan Kaos & Merchandise eksklusif setiap bulan dengan berlangganan Visi News.