IHSG Berpotensi Mendatar, Investor Cermati Data Ekonomi Pekan Ini
Ilustrasi./visi.news/ist.
“Selain itu, meningkatnya ekspektasi bahwa The Fed masih akan mempertahankan kebijakan moneter yang ketat, menjadi salah satu faktor yang membatasi penguatan aset berisiko,” ujarnya.
Dari dalam negeri, investor akan menantikan rilis data PMI Manufaktur Indonesia, inflasi Juni, serta neraca perdagangan yang dinilai menjadi indikator kondisi aktivitas ekonomi dan arah kebijakan moneter Bank Indonesia (BI).
Sementara itu, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan optimistis perekonomian Indonesia mampu tumbuh hingga 8 persen seiring menguatnya fondasi ekonomi nasional, berlanjutnya reformasi fiskal, serta meningkatnya kontribusi investasi dan sektor swasta terhadap pertumbuhan ekonomi.
Pemerintah juga menegaskan proses restitusi pajak berjalan normal. Hingga empat bulan pertama 2026, restitusi pajak yang telah dicairkan mencapai sekitar Rp160 triliun atau setara dengan total restitusi selama sembilan bulan pada tahun sebelumnya. Apabila tren tersebut berlanjut, total restitusi sepanjang 2026 diperkirakan dapat mencapai sekitar Rp500 triliun.
Pada perdagangan Jumat (26/6/2026) pekan lalu, bursa saham Eropa ditutup melemah. Indeks Euro Stoxx 50 turun 0,73 persen, FTSE 100 Inggris melemah 0,21 persen, DAX Jerman turun 1,29 persen, dan CAC 40 Prancis terkoreksi 0,55 persen.
Wall Street juga ditutup di zona merah dengan indeks Dow Jones Industrial Average melemah 0,09 persen, S&P 500 turun 0,05 persen, dan Nasdaq Composite terkoreksi 0,24 persen.
Sementara itu, pada perdagangan Asia pagi ini, indeks Nikkei melemah 0,84 persen ke level 68.780,00, Shanghai Composite turun 0,64 persen ke 4.001,48, Hang Seng menguat 1,00 persen ke 22.899,00, sedangkan Strait Times melemah 0,08 persen ke posisi 5.187,90.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!