IHSG Anjlok 133 Poin, Investor Perlu Waspada Gejolak Pasar
VISI.NEWS | JAKARTA - IHSG mengalami penurunan signifikan sebesar 133,17 poin atau 1,81 persen pada penutupan perdagangan sesi satu, di tengah meningkatnya tekanan jual akibat ketegangan geopolitik di Timur Tengah dan lonjakan harga minyak dunia. Investor disarankan tetap waspada terhadap potensi volatilitas pasar saham Indonesia dalam beberapa hari ke depan.
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) anjlok pada penutupan perdagangan sesi satu, Jumat (13/3/2026). Indeks turun sebesar 133,17 poin atau 1,81 persen, menutup di level 7.228,95.
IHSG sebelumnya dibuka di posisi 7.338,82 dan sempat bergerak naik hingga menyentuh level tertinggi 7.350,28. Namun, tekanan jual yang meningkat membuat indeks berbalik arah dan terus turun ke level terendah 7.188,08, sebelum akhirnya ditutup di kisaran 7.228.
Tekanan di Pasar Saham Terlihat Luas
Tekanan di pasar saham terlihat cukup luas. Dari total saham yang diperdagangkan, sebanyak 595 saham mengalami penurunan, 128 saham menguat, dan 89 saham stagnan. Aktivitas transaksi di Bursa Efek Indonesia tercatat cukup ramai dengan volume perdagangan mencapai 16,72 miliar saham, nilai transaksi harian sekitar Rp7,40 triliun, dan frekuensi perdagangan sebanyak 942.558 kali transaksi.
Menurut analis pasar modal sekaligus Founder Republik Investor, Hendra Wardana, IHSG berpotensi bergerak konsolidatif dengan support berada di area 7.300 dan resistance di 7.420.
“Untuk perdagangan berikutnya, pergerakan IHSG diperkirakan masih akan cenderung konsolidatif dengan kecenderungan bergerak di kisaran support 7.300 hingga resistance 7.420,” ujar Hendra saat dihubungi.
Gejolak Pasar Dipicu Konflik Timur Tengah
Pelaku pasar saat ini masih mencermati perkembangan konflik geopolitik di Timur Tengah yang berdampak pada lonjakan harga minyak dunia. Jika ketegangan geopolitik mereda dan harga minyak kembali stabil, peluang IHSG untuk melanjutkan rebound masih terbuka.
Tekanan pasar pada perdagangan Kamis (12/3/2026) lalu terutama dipicu oleh meningkatnya ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah, termasuk laporan serangan terhadap kapal di Selat Hormuz dan perairan dekat Irak. Hal ini menimbulkan kekhawatiran terhadap potensi gangguan pasokan energi global dan mendorong harga minyak dunia menembus level psikologis 100 dollar AS per barrel.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!