Prabowo ke Lokasi Gempa NTT, Pastikan Penanganan Cepat dan Terkoordinasi 26 Aug 2026 Melchias Markus Mekeng Ingatkan Risiko Salah Sasaran Pembatasan Pertalite Berbasis Desil 26 Aug 2026 Bank Mandiri Sampaikan Permintaan Maaf, Rekening Botok Dibuka 26 Aug 2026 TPA Cioray Tasikmalaya Terbakar, Lima Hektare Terdampak 26 Aug 2026 Satu dari Tiga Korban Pantai Karangpapak Ditemukan Meninggal 26 Aug 2026 Hadiri Pesta Biru, Farhan, "Kalau lihat dari pemain, optimis pisan" 26 Aug 2026 UAJY Raih Hibah United Board 2026, Bersama AMSI Perkuat Jurnalisme Biodiversitas 26 Aug 2026 7 Tempat Makan Enak Dekat Stasiun Padalarang 26 Aug 2026 Pendakian Gunung Lincing Malang Ditutup akibat Kebakaran Hutan 26 Aug 2026 Pendaftaran TKA SMA 2026 Dibuka hingga 27 September, Ini Syaratnya 26 Aug 2026 Prabowo ke Lokasi Gempa NTT, Pastikan Penanganan Cepat dan Terkoordinasi 26 Aug 2026 Melchias Markus Mekeng Ingatkan Risiko Salah Sasaran Pembatasan Pertalite Berbasis Desil 26 Aug 2026 Bank Mandiri Sampaikan Permintaan Maaf, Rekening Botok Dibuka 26 Aug 2026 TPA Cioray Tasikmalaya Terbakar, Lima Hektare Terdampak 26 Aug 2026 Satu dari Tiga Korban Pantai Karangpapak Ditemukan Meninggal 26 Aug 2026 Hadiri Pesta Biru, Farhan, "Kalau lihat dari pemain, optimis pisan" 26 Aug 2026 UAJY Raih Hibah United Board 2026, Bersama AMSI Perkuat Jurnalisme Biodiversitas 26 Aug 2026 7 Tempat Makan Enak Dekat Stasiun Padalarang 26 Aug 2026 Pendakian Gunung Lincing Malang Ditutup akibat Kebakaran Hutan 26 Aug 2026 Pendaftaran TKA SMA 2026 Dibuka hingga 27 September, Ini Syaratnya 26 Aug 2026

Hormuz Memanas! Trump Ancam Blokade, Dunia di Ujung Krisis Energi

ED
Senin, 13 April 2026 | 06:56 WIB
Bagikan
Hormuz Memanas! Trump Ancam Blokade, Dunia di Ujung Krisis Energi
VISI.NEWS | TEHERAN - Ketegangan global kembali memuncak. Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, melontarkan ancaman keras: memblokade Selat Hormuz—jalur vital energi dunia—setelah perundingan damai dengan Iran gagal mencapai kesepakatan. Dalam pernyataan yang diunggah melalui Truth Social pada Minggu, 12 April 2026, Trump menyebut Angkatan Laut AS akan segera bertindak. Ia bahkan menegaskan bahwa setiap kapal yang mencoba melintas di Selat Hormuz akan dicegat, terutama jika terbukti membayar biaya kepada Iran. “Efektif segera, Angkatan Laut Amerika Serikat akan memulai proses blokade terhadap semua kapal yang masuk atau keluar dari Selat Hormuz,” tulis Trump, dengan nada yang mencerminkan eskalasi serius. Selat Hormuz bukan sekadar jalur laut biasa. Sekitar 20 persen distribusi minyak global melewati wilayah ini. Gangguan sekecil apa pun berpotensi mengguncang harga energi dunia. Dalam beberapa pekan terakhir saja, ketegangan di kawasan itu telah mendorong lonjakan harga minyak secara signifikan. Trump menuduh Iran melakukan “pemerasan dunia” dengan membatasi akses pelayaran dan menyebarkan ancaman ranjau laut. Ia juga memperingatkan bahwa kapal yang telah membayar biaya kepada Teheran tidak akan mendapatkan perlindungan. Pernyataan itu sekaligus mempertegas kegagalan diplomasi yang digelar di Islamabad, Pakistan. Setelah berjam-jam negosiasi hingga larut malam, delegasi kedua negara menemui jalan buntu. Dua isu utama menjadi ganjalan: program nuklir Iran dan pembukaan kembali Selat Hormuz. Bagi Washington, tuntutan jelas—Iran harus membuka jalur pelayaran dan menyerahkan cadangan uranium yang telah diperkaya. Namun Teheran menolak. Sebaliknya, Iran menuntut pencabutan sanksi serta pencairan aset bernilai miliaran dolar yang dibekukan di luar negeri. Kebuntuan ini berujung pada kegagalan total perundingan. Tidak ada kesepakatan, tidak ada titik temu—hanya ancaman yang semakin mengeras. Di tengah situasi tersebut, retorika Trump juga semakin tajam. Ia menyebut infrastruktur militer Iran telah “hancur” setelah konflik lebih dari 40 hari, namun masih menyisakan target strategis. Bahkan, ia menyinggung kemungkinan serangan terhadap fasilitas vital seperti jaringan listrik dan pabrik air. Meski demikian, Trump tetap meyakini Iran akan kembali ke meja perundingan. “Mereka tidak punya kartu,” ujarnya dalam sebuah wawancara televisi, seraya mengklaim tekanan militer adalah kunci untuk memaksa kompromi. Namun di luar pernyataan politik, realitas di lapangan jauh lebih kompleks. Penutupan Selat Hormuz telah membuat ratusan kapal tertahan di perairan Teluk. Ribuan pelaut terjebak, sementara biaya logistik melonjak drastis. Pasar global pun merespons dengan volatilitas tinggi. Bagi banyak negara, terutama yang bergantung pada impor energi, situasi ini bukan sekadar konflik regional. Ini adalah ancaman langsung terhadap stabilitas ekonomi. Kini, dunia menunggu langkah berikutnya. Apakah ancaman blokade akan benar-benar dijalankan, atau justru menjadi tekanan terakhir sebelum diplomasi kembali dibuka? Yang jelas, Selat Hormuz telah berubah menjadi titik panas baru—tempat di mana kepentingan geopolitik, energi, dan kekuatan militer bertemu dalam satu garis yang semakin tipis. @uli

Komentar (0)

Tulis Komentar

Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

VisiNews Club

Nikmati Berita Tanpa Batas & Benefit Eksklusif!

Dapatkan Kaos & Merchandise eksklusif setiap bulan dengan berlangganan Visi News.