Hidup Lama tapi Mati Sendirian di Singapura
Pada bulan April saja, tiga kasus serupa terjadi dalam kurun waktu seminggu, yang memicu kekhawatiran mengenai kesejahteraan dan keselamatan para lansia, seperti Koh, yang tinggal sendirian dan terisolasi dari masyarakat. Kematian karena kesepian adalah akibat dari apa yang bisa terjadi jika isolasi sosial dan kesepian di kalangan orang tua tidak diatasi.
Singapura baru saja ditetapkan sebagai Zona Biru yang “direkayasa” – sebuah tempat di mana masyarakat diharapkan dapat hidup lebih lama dan menikmati lingkungan hidup yang lebih baik dan sehat.
Zona ini bertujuan untuk menciptakan infrastruktur dan kebijakan sosial yang akan berkontribusi terhadap Singapura yang memiliki angka harapan hidup dan kesehatan tertinggi di dunia – namun penghargaan ini menimbulkan kekhawatiran tambahan.
Lily, 103 tahun, menyimpulkan sentimen tersebut: "Hidup adalah hal yang paling sulit untuk dilakukan, percuma saja hidup. Tidak bisa bergerak, tidak bisa berjalan, apa lagi yang bisa dilakukan?"
Yap, 74 tahun, ingin ngopi dan mendapat teman baru di lingkungannya. Sebaliknya, ia merasa seperti "burung yang terjebak dalam sangkar", karena sakit kaki dan kekurangan uang membatasi kemampuannya untuk melakukan hal tersebut.
Umur panjang bukanlah segalanya
Peningkatan angka harapan hidup dipandang sebagai hal yang positif, namun bagi sebagian orang lanjut usia, hal ini dapat dihadapkan pada kenyataan pahit: hidup dengan disabilitas dan kesehatan yang buruk.
Hal ini dapat membuat mereka merasa terjebak dalam tubuh dan keadaannya sendiri, membatasi kemampuan mereka untuk berinteraksi secara bermakna dengan dunia luar, bahkan ketika mereka meninggalkan rumah.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!