Jadwal SIM Keliling Kota Bandung Hari Ini, Kamis 27 Agustus 2026 27 Aug 2026 Jadwal SIM Keliling Kabupaten Bandung Hari Ini, Kamis 27 Agustus 2026 27 Aug 2026 Jadwal Sholat DKI Jakarta Hari Ini, Kamis 27 Agustus 2026 27 Aug 2026 Jadwal Sholat Kabupaten Bandung Hari Ini, Kamis 27 Agustus 2026 27 Aug 2026 Prabowo ke Lokasi Gempa NTT, Pastikan Penanganan Cepat dan Terkoordinasi 26 Aug 2026 Melchias Markus Mekeng Ingatkan Risiko Salah Sasaran Pembatasan Pertalite Berbasis Desil 26 Aug 2026 Bank Mandiri Sampaikan Permintaan Maaf, Rekening Botok Dibuka 26 Aug 2026 TPA Cioray Tasikmalaya Terbakar, Lima Hektare Terdampak 26 Aug 2026 Satu dari Tiga Korban Pantai Karangpapak Ditemukan Meninggal 26 Aug 2026 Hadiri Pesta Biru, Farhan, "Kalau lihat dari pemain, optimis pisan" 26 Aug 2026 Jadwal SIM Keliling Kota Bandung Hari Ini, Kamis 27 Agustus 2026 27 Aug 2026 Jadwal SIM Keliling Kabupaten Bandung Hari Ini, Kamis 27 Agustus 2026 27 Aug 2026 Jadwal Sholat DKI Jakarta Hari Ini, Kamis 27 Agustus 2026 27 Aug 2026 Jadwal Sholat Kabupaten Bandung Hari Ini, Kamis 27 Agustus 2026 27 Aug 2026 Prabowo ke Lokasi Gempa NTT, Pastikan Penanganan Cepat dan Terkoordinasi 26 Aug 2026 Melchias Markus Mekeng Ingatkan Risiko Salah Sasaran Pembatasan Pertalite Berbasis Desil 26 Aug 2026 Bank Mandiri Sampaikan Permintaan Maaf, Rekening Botok Dibuka 26 Aug 2026 TPA Cioray Tasikmalaya Terbakar, Lima Hektare Terdampak 26 Aug 2026 Satu dari Tiga Korban Pantai Karangpapak Ditemukan Meninggal 26 Aug 2026 Hadiri Pesta Biru, Farhan, "Kalau lihat dari pemain, optimis pisan" 26 Aug 2026

Habib Syarief Soroti Paparan Ekstremisme dan Kekerasan pada Anak Lewat Ruang Digital

Desi Rossilawati
Selasa, 13 Januari 2026 | 12:39 WIB
Bagikan
Habib Syarief Soroti Paparan Ekstremisme dan Kekerasan pada Anak Lewat Ruang Digital

VISI.NEWS | JAKARTA - Anggota Komisi X DPR RI, Habib Syarief Muhammad, menyampaikan keprihatinan mendalam atas temuan Detasemen Khusus 88 Antiteror Polri terkait puluhan anak Indonesia berusia 11-18 tahun yang terpapar ekstremisme kekerasan melalui gim daring dan komunitas digital, khususnya yang dikenal sebagai True Crime Community.

Habib Syarief menilai temuan tersebut sebagai alarm keras bagi seluruh pemangku kepentingan. Menurutnya, fenomena ini bukan sekadar data statistik, melainkan sinyal bahaya serius yang mengancam masa depan generasi muda Indonesia.
“Ini adalah panggilan darurat kolektif. Kita sedang berhadapan dengan ancaman ekstremisme yang telah bermigrasi ke ruang digital dan menyasar anak-anak yang berada dalam fase paling rentan,” ujar Habib Syarief dalam keterangannya.
Habib Syarief menjelaskan, temuan Densus 88 menunjukkan adanya pergeseran lanskap radikalisme. Jika sebelumnya ekstremisme berkembang melalui ceramah langsung atau literatur cetak, kini ideologi kekerasan menyusup melalui ruang siber tanpa batas.
Komunitas True Crime yang awalnya dikenal sebagai genre hiburan, dinilai telah bermetamorfosis menjadi ruang inkubasi ideologi kekerasan, bahkan terorisme, dengan kemasan yang menarik bagi anak-anak dan remaja yang sedang mencari jati diri.
“Anak-anak usia 11 hingga 18 tahun belum memiliki kematangan berpikir kritis. Mereka mudah terpengaruh narasi manipulatif yang mengaburkan batas antara permainan, fantasi, dan kekerasan nyata,” tegasnya.
Ia menyoroti fenomena efek tiruan (copycat) yang muncul dari paparan konten kekerasan digital. Video anak berseragam sekolah dengan replika senjata api, hingga remaja yang mendiskusikan pembuatan bom rakitan, menurutnya tidak dapat lagi dianggap sebagai simulasi belaka.
Habib Syarief mengingatkan bahwa sejumlah kasus kekerasan remaja di luar negeri menunjukkan bagaimana inspirasi digital dapat berujung pada tindakan nyata, tanpa selalu didorong oleh ideologi ekstrem tertentu.
“Anonimitas daring dan validasi semu dari komunitas digital berbahaya menciptakan ilusi kekuatan, yang mendorong eskalasi niat destruktif,” katanya.
Berdasarkan temuan Densus 88, mayoritas anak yang terpapar ekstremisme digital memiliki kerentanan psikososial, seperti menjadi korban perundungan, berasal dari keluarga tidak harmonis, atau mengalami trauma psikologis.
“Mereka mencari rasa diterima dan didengar. Sayangnya, yang mereka temukan justru komunitas yang menormalisasi kekerasan. Ini mencerminkan kegagalan sistem pendukung sosial kita,” ujar Habib Syarief.
Ia menegaskan bahwa anak-anak tersebut harus dipandang sebagai korban yang membutuhkan pendampingan dan pemulihan, bukan semata-mata objek penghukuman.
Sebagai anggota Komisi X DPR RI, Habib Syarief mendorong penanganan lintas sektor dengan pendekatan nonrepresif dan keadilan restoratif. Ia mengajukan enam rekomendasi kebijakan utama:
1. Penguatan Literasi Digital dan Pendidikan Karakter
Revisi kurikulum pendidikan dengan integrasi literasi digital kritis, etika digital, serta penguatan nilai Pancasila.
2. Edukasi dan Pendampingan Orang Tua
Program nasional untuk membekali orang tua agar menjadi mentor digital bagi anak.
3. Sistem Dukungan Psikososial Terpadu
Penguatan layanan konseling, terapi keluarga, dan rehabilitasi anak korban ekstremisme digital.
4. Kolaborasi Antarlembaga dan Penegakan Hukum Restoratif
Optimalisasi RAN PE dengan deteksi dini dan intervensi yang mengedepankan kepentingan terbaik anak.
5. Regulasi Ketat Platform Digital
Kewajiban moderasi konten ekstremisme, transparansi algoritma, verifikasi usia, dan kontrol orang tua.
6. Gerakan Literasi Digital Masyarakat
Kampanye edukasi kreatif bersama media, akademisi, influencer, dan komunitas lokal.
Habib Syarief menegaskan bahwa kegagalan menangani fase awal ekstremisme ini dapat berujung pada ancaman serius terhadap kohesi sosial dan keamanan nasional.
“Anak-anak adalah aset masa depan bangsa. Kita harus memastikan mereka tumbuh dalam ekosistem digital yang sehat, aman, dan bebas dari ideologi kekerasan,” pungkasnya.
Ia berharap temuan ini menjadi momentum refleksi nasional untuk membangun sistem perlindungan anak yang lebih kuat di era digital. @givary

Komentar (0)

Tulis Komentar

Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

VisiNews Club

Nikmati Berita Tanpa Batas & Benefit Eksklusif!

Dapatkan Kaos & Merchandise eksklusif setiap bulan dengan berlangganan Visi News.