Gotong Royong untuk Flobamoratas: Konsolidasi Komunitas Orang Muda NTT untuk Aksi Iklim Melalui Karya Seni

ED
Rabu, 1 Mei 2024 | 13:01 WIB
Bagikan
Gotong Royong untuk Flobamoratas: Konsolidasi Komunitas Orang Muda NTT untuk Aksi Iklim Melalui Karya Seni

Festival GRUF 2024 pada tanggal 5 Mei juga akan dibuka untuk umum, sehingga masyarakat sekitar bisa berpartisipasi dan turut menikmati suguhan pameran artivism Seni Untuk Bumi. Tidak hanya itu saja, akan ada penampilan aksi panggung dari setiap daerah baik melalui teater, tari-tarian, musikalisasi puisi sampai dengan bazzar produk komunitas.

Dicky Lopulalan, Direktur Koalisi KOPI menyatakan, “Kami berharap, kesadaran para peserta tentang perubahan iklim dan lingkungan ekosistem semakin meningkat, dan dapat menjadi bekal bagi mereka dalam melakukan kampanye dan aksi iklim. Sehingga akan semakin banyak anak-anak muda menyuarakan krisis iklim yang terjadi sekarang ini. Kami juga berharap, GRUF kali ini dapat melahirkan kesepakatan cara bekerja jaringan organisasi/komunitas kaum muda di seluruh NTT yang akan dijalankan para peserta pasca kegiatan ini.”

Analisa laporan dari The Global Carbon Project menyebutkan bahwa Indonesia berada dalam daftar 10 besar negara penghasil emisi karbon di dunia. Krisis iklim telah memberi dampak yang besar pada manusia dan lingkungan di berbagai sektor mulai dari pangan, tanah, air, energi, hingga pendidikan, ekonomi, budaya, dan gender. Badan Nasional Penanggulangan Bencana tahun 2019 menyebutkan bahwa 7 dari 10 bencana terjadi akibat dari krisis iklim atau disebut juga dengan bencana hidrometeorologi. Krisis iklim yang dihadapi juga menyebabkan terjadinya cuaca ekstrem badai siklon tropis Seroja di sejumlah daerah di Nusa Tenggara Timur (NTT) pada tahun 2021 lalu, yang dimana kejadian tersebut memicu terjadinya bencana banjir bandang, gelombang pasang, dan longsor.

Hal unik lainnya, Jambore GRUF 2024 pun menyisipkan isu ketahanan pangan pada kampanye aksi iklimnya, karena ketahanan pangan bukan hanya tentang memastikan pangan tersedia dalam jumlah yang cukup, tetapi juga tentang keadilan sosial, kesehatan, keberlanjutan lingkungan, dan hak asasi manusia. NTT sendiri memiliki potensi wisata dan alam yang indah, namun disisi lain lahan pertanian yang terbatas dan ketersediaan air sering kali menjadi kendala ketahanan pangan yang signifikan.

Ketergantungan pada hasil pertanian tradisional seperti jagung, padi, sorgum dan kedelai sering kali menjadi faktor risiko bagi ketahanan pangan. Perubahan iklim yang terjadi seperti peningkatan kekeringan dan perubahan pola hujan, semakin menekan produksi pangan lokal. Terlebih lagi, tanah yang kurang subur dan kurangnya akses terhadap teknologi pertanian yang modern memperumit upaya untuk meningkatkan produktivitas pertanian di berbagai wilayah. Oleh karena itu, Jambore GRUF 2024 juga mengajak lapisan masyarakat luas untuk dapat terlibat secara sosial dengan urun dana di platform kitabisa.com/jagasumberpangan. Semoga dengan adanya kegiatan ini dan partisipasi aktif masyarakat, kita dapat memitigasi perubahan iklim dan menjamin kebutuhan pangan tersedia, dan kampanye yang disuguhkan melalui karya dapat meningkatkan rasa cinta masyarakat pada pelestarian alam.

Halaman :

Komentar (0)

Tulis Komentar

Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

VisiNews Club

Nikmati Berita Tanpa Batas & Benefit Eksklusif!

Dapatkan Kaos & Merchandise eksklusif setiap bulan dengan berlangganan Visi News.