Gebyar Moderasi Beragama: Merajut Beda Membangun Harmoni di Depok

ED
Senin, 25 November 2024 | 03:25 WIB
Bagikan
Gebyar Moderasi Beragama: Merajut Beda Membangun Harmoni di Depok

VISI.NEWS | DEPOK - Pimpinan Cabang Gerakan Pemuda Ansor Kota Depok mengadakan kegiatan bertajuk "Gebyar Moderasi Beragama" dengan tema "Merajut Beda Membangun Harmoni". Kegiatan ini dihadiri oleh keluarga besar Ansor Depok, Banom NU, serta berbagai unsur Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Depok dan komunitas lainnya.

Acara yang diinisiasi Wakil Ketua PWNU Jabar KH Dasuki ini digelar pada Sabtu, (23/11/2024) di Sapuldi Coffee & Eatery ini menjadi ajang untuk membahas pentingnya moderasi beragama dalam menjaga keharmonisan antar umat beragama di Indonesia.

Dalam kesempatan tersebut, hadir dua narasumber utama yang memberikan pemaparan terkait moderasi beragama. Mereka adalah Gus Romzi Ahmad, Stafsus Wakil Presiden RI, dan Vanessa Shania, Kepala Departemen Lintas Agama di DPP Alpenindo (Alumni Penabur Indonesia). Keduanya berbagi pandangan mengenai pentingnya membangun toleransi, keterbukaan, dan kesetaraan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Vanessa Shania, yang lebih akrab disapa Shasha, memaparkan sub-tema "Demokrasi Politik Minoritas di Indonesia". Dalam penjelasannya, Shasha menyoroti pentingnya peran konstitusi dan undang-undang dalam melindungi hak asasi manusia (HAM) di Indonesia. Menurutnya, Pasal 28A–J UUD 1945 dan Undang-Undang No. 39/1999 tentang HAM telah mengatur hak-hak dasar warga negara, termasuk dalam hal kebebasan beragama dan berkeyakinan.

Namun, Shasha mengingatkan bahwa meskipun ada aturan yang jelas, kesenjangan antara kelompok mayoritas dan minoritas tetap ada. Ia berpendapat bahwa perbedaan latar belakang suku, agama, ras, dan gender seringkali menjadi hambatan dalam terciptanya hubungan yang harmonis. "Masyarakat cenderung merasa lebih nyaman dengan mereka yang memiliki kesamaan, baik itu dalam hal agama, suku, atau ras," ujar Shasha.

Menurut gadis asal Bandung ini, meskipun tantangan tersebut ada, negara Indonesia telah berupaya untuk memfasilitasi kelompok minoritas dengan berbagai kebijakan. Salah satu contohnya adalah kuota representasi perempuan dalam parlemen, yang bertujuan untuk meningkatkan partisipasi politik perempuan, salah satu kelompok minoritas di Indonesia. Shasha menilai bahwa langkah-langkah ini menunjukkan upaya negara dalam mencapai kesetaraan, termasuk dalam sektor politik.

Selain itu, Shasha juga menyoroti peran penting keberagaman dalam pemerintahan Indonesia saat ini. Ia menyebutkan bahwa saat ini banyak pejabat negara, termasuk menteri, yang berasal dari kelompok minoritas, yang menandakan kemajuan dalam upaya menciptakan pemerintahan yang inklusif dan berkeadilan. "Ini adalah langkah yang baik dalam memperkuat kesetaraan di Indonesia," tambahnya.

Terkait dengan moderasi beragama, Shasha menilai bahwa proses ini tidak bisa hanya dibebankan pada kelompok minoritas saja. Ia mengingatkan bahwa kalangan mayoritas juga harus terlibat aktif dalam merangkul kelompok minoritas. "Jika mayoritas dan minoritas dapat saling memahami dan bekerja sama, maka akan tercipta kepercayaan dan keterbukaan yang memungkinkan terjalinnya keharmonisan," jelasnya.

Setelah pemaparan oleh kedua narasumber, acara dilanjutkan dengan sesi tanya jawab, di mana peserta memiliki kesempatan untuk mengajukan pertanyaan dan berdiskusi lebih lanjut mengenai topik yang telah dibahas. Acara pun ditutup dengan sesi foto bersama antara narasumber, peserta, dan panitia, menandai berakhirnya kegiatan yang berlangsung penuh semangat dan keakraban ini.

@uli

Komentar (0)

Tulis Komentar

Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

VisiNews Club

Nikmati Berita Tanpa Batas & Benefit Eksklusif!

Dapatkan Kaos & Merchandise eksklusif setiap bulan dengan berlangganan Visi News.