Gap Literasi dengan Inklusi Jasa Keuangan Tidak Sehat. Ini Akibatnya
VISI.NEWS | SOLO - Kesenjangan cukup besar antara literasi jasa keuangan dengan inklusi jasa keuangan yang menurut survei Otoritas Jasa Keuangan (OJK) 85,10 persen berbanding 49,68 persen, menunjukkan kondisi pemahaman masyarakat terhadap jasa keuangan tidak sehat.
Direktur Utama PNM Investment Management, Bambang Siswaji, mengungkapkan hal itu, menjawab pertanyaan VISI.NEWS, seusai memberikan kuliah umum tentang "Financially Independent Sejak Dini" di auditorium GPH Haryo Mataram, Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo, Rabu (22/2/2023). Menurut dia, bila masyarakat, khususnya kalangan mahasiswa tidak memiliki pemahaman yang baik tentang jasa keuangan, mereka akan terjebak kesalahan dan dimanfaatkan pihak-pihak lain yang tidak bertanggung jawab.
"Gap antara 40 persen dengan 80 persen itu tidak sehat. Bila mahasiswa tidak dibekali pemahaman yang baik, mereka bisa melakukan kesalahan. Bahkan, mereka bisa dimanfaatkan pihak-pihak lain yang tidak bertanggung jawab, seperti investasi bodong dan pinjaman online (pinjol) ilegal," ujarnya.
Mengutip data OJK, hasil Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2022 menunjukkan, indeks literasi atau penghayatan responden terhadap jasa keuangan masyarakat Indonesia baru sebesar 49,68 persen. Angka itu jauh lebih rendah dibanding indeks inklusi keuangan sebesar 85,10 persen.
Bambang mengingatkan, bisa saja mereka yang bersemangat dengan inklusi lebih dari 80 persen, tapi tingkat literasinya baru 40 persen, menjadi sasaran perbuatan yang tidak baik tersebut.
"Peningkatan literasi jasa keuangan melalui kerjasama PNM-IM dengan perguruan tinggi, yaitu dengan Unsoed Purwokerto dan UPN Yogyakarta, sebagai dukungan terhadap OJK dalam meningkatkan literasi. Kita berharap dapat mempersempit gap antara literasi dengan inklusi. Sehingga masyarakat, khususnya mahasiswa yang memiliki pemahaman yang baik dalam berinvestasi tidak tergiur dengan tawaran investasi yang tidak baik," jelasnya.
Menanggapi respon para mahasiswa Unsoed, UPN dan UNS terhadap materi kuliah umum, kata Bambang, survei OJK yang melibatkan berbagai kalangan berbeda dengan peserta kuliah umum. Menurut dia, dalam interaksi dengan mahasiswa di forum kuliah umum dalam jumlah peserta terbatas, respon peserta menunjukkan indikasi literasi mahasiswa cukup baik.
"Berdasarkan pertanyaan yang disampaikan, para mahasiswa sudah mempunyai pemahaman cukup baik terhadap literasi jasa keuangan. Tetapi, karena mahasiswa belum terlibat langsung di sektor jasa keuangan, meskipun sudah bagus pemahamannya kurang mendalam," sambungnya.
Bambang menduga, mahasiswa yang paham literasi jasa keuangan karena mereka mempunyai minat terhadap laboratorium pasar modal di kampusnya. Sedangkan ribuan mahasiswa lain yang tidak berminat dengan pasar modal, tidak semuanya memiliki pemahaman yang baik. Sehingga, mereka berpotensi menjadi sasaran praktik tidak baik, di antaranya investasi bodong.
Wakil Rektor bidang kerjasama, Prof. Sadjidan, menambahkan, jalinan kerjasama UNS dengan PNM-IM karena universitas perlu praktisi di dunia kerja untuk ikut memberikan pencerahan kepada mahasiswa.
"Melalui kerjasama ini, mahasiswa bisa mendapatkan masukan dan pemahaman yang baik tentang investasi dan dunia kerja. Ini merupakan tindak lanjut perjanjian kerjasama bulan Desember 2022 sebagai implementasi Merdeka Belajar Kampus Merdeka," katanya. Seusai kuliah umum, antara UNS dengan PNM-IM ditandatangani program kerjasama yang melibatkan 4 fakultas dan sekolah vokasi, yaitu Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Fakultas Hukum, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan serta Sekolah Vokasi.@tok
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!