Prabowo ke Lokasi Gempa NTT, Pastikan Penanganan Cepat dan Terkoordinasi 26 Aug 2026 Melchias Markus Mekeng Ingatkan Risiko Salah Sasaran Pembatasan Pertalite Berbasis Desil 26 Aug 2026 Bank Mandiri Sampaikan Permintaan Maaf, Rekening Botok Dibuka 26 Aug 2026 TPA Cioray Tasikmalaya Terbakar, Lima Hektare Terdampak 26 Aug 2026 Satu dari Tiga Korban Pantai Karangpapak Ditemukan Meninggal 26 Aug 2026 Hadiri Pesta Biru, Farhan, "Kalau lihat dari pemain, optimis pisan" 26 Aug 2026 UAJY Raih Hibah United Board 2026, Bersama AMSI Perkuat Jurnalisme Biodiversitas 26 Aug 2026 7 Tempat Makan Enak Dekat Stasiun Padalarang 26 Aug 2026 Pendakian Gunung Lincing Malang Ditutup akibat Kebakaran Hutan 26 Aug 2026 Pendaftaran TKA SMA 2026 Dibuka hingga 27 September, Ini Syaratnya 26 Aug 2026 Prabowo ke Lokasi Gempa NTT, Pastikan Penanganan Cepat dan Terkoordinasi 26 Aug 2026 Melchias Markus Mekeng Ingatkan Risiko Salah Sasaran Pembatasan Pertalite Berbasis Desil 26 Aug 2026 Bank Mandiri Sampaikan Permintaan Maaf, Rekening Botok Dibuka 26 Aug 2026 TPA Cioray Tasikmalaya Terbakar, Lima Hektare Terdampak 26 Aug 2026 Satu dari Tiga Korban Pantai Karangpapak Ditemukan Meninggal 26 Aug 2026 Hadiri Pesta Biru, Farhan, "Kalau lihat dari pemain, optimis pisan" 26 Aug 2026 UAJY Raih Hibah United Board 2026, Bersama AMSI Perkuat Jurnalisme Biodiversitas 26 Aug 2026 7 Tempat Makan Enak Dekat Stasiun Padalarang 26 Aug 2026 Pendakian Gunung Lincing Malang Ditutup akibat Kebakaran Hutan 26 Aug 2026 Pendaftaran TKA SMA 2026 Dibuka hingga 27 September, Ini Syaratnya 26 Aug 2026

Frekuensi BAB yang Tidak Teratur Bisa Picu Masalah Kesehatan

Desi Rossilawati
Rabu, 26 Maret 2025 | 02:30 WIB
Bagikan
Frekuensi BAB yang Tidak Teratur Bisa Picu Masalah Kesehatan
VISI.NEWS | BANDUNG - Jadwal buang air besar (BAB) memiliki dampak terhadap fisiologi tubuh dan kesehatan jangka panjang dari studi yang dipublikasikan dalam Cell Reports Medicine. Para peneliti menemukan bahwa frekuensi BAB yang ideal adalah satu hingga dua kali sehari. Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa sembelit dan diare berhubungan dengan risiko infeksi dan kondisi neurodegeneratif yang lebih tinggi. Namun, hubungan sebab-akibatnya masih belum sepenuhnya jelas, apakah jadwal BAB yang tidak teratur menyebabkan gangguan kesehatan atau justru merupakan akibat dari kondisi medis tertentu. Menurut Sean Gibbons dari Institute for Systems Biology, dokter sering menganggap BAB yang tidak teratur sebagai gangguan biasa. Padahal, studi ini menunjukkan bahwa pola BAB dapat memberikan wawasan lebih luas tentang kesehatan seseorang.

4 Kategori Frekuensi BAB

Dalam penelitian ini, tim menganalisis data dari 1.400 orang dewasa sehat yang tidak memiliki tanda-tanda penyakit aktif. Frekuensi BAB peserta dikategorikan menjadi empat kelompok: 1. Sembelit : 1-2 kali BAB per minggu. 2. Normal-rendah : 3-6 kali BAB per minggu. 3. Normal-tinggi : 1-3 kali BAB per hari. 4. Diare.

Dampak Sembelit dan Diare terhadap Kesehatan

Ketika feses tertahan terlalu lama di usus, bakteri akan menghabiskan serat yang tersedia dan mulai memfermentasi protein, menghasilkan zat beracun seperti p-kresol sulfat dan indoksil sulfat. Gibbons menjelaskan bahwa bahkan pada individu sehat yang mengalami sembelit, kadar racun ini dalam darah meningkat, yang dapat membebani ginjal. Sebaliknya, pada individu dengan diare, tim peneliti menemukan adanya peningkatan zat kimia yang menandakan peradangan dan kerusakan hati. Hal ini disebabkan oleh pembuangan asam empedu yang berlebihan, sehingga hati harus bekerja lebih keras untuk mendaur ulangnya guna membantu pencernaan lemak.

Pola Hidup untuk BAB yang Sehat

Para peneliti menemukan bahwa pola BAB yang optimal terjadi dalam rentang 'Zona Goldilocks,' yaitu 1-2 kali sehari. Bakteri usus yang berkontribusi pada kesehatan cenderung berkembang dalam pola ini. Namun, masih diperlukan lebih banyak penelitian untuk menentukan rentang yang benar-benar ideal. Secara demografis, individu yang lebih muda, wanita, serta mereka dengan indeks massa tubuh lebih rendah cenderung memiliki frekuensi BAB yang lebih jarang. Hal ini kemungkinan dipengaruhi oleh faktor hormonal dan neurologis, serta perbedaan pola makan antara pria dan wanita. Untuk menjaga pola BAB yang sehat, studi ini menemukan bahwa mengonsumsi lebih banyak buah dan sayur menjadi faktor utama. Selain itu, hidrasi yang cukup, olahraga teratur, serta diet berbasis tumbuhan juga berperan penting dalam menjaga kesehatan sistem pencernaan. Langkah selanjutnya dalam penelitian ini adalah melakukan uji klinis jangka panjang guna mengevaluasi bagaimana pengaturan pola BAB dapat membantu mencegah penyakit di masa depan. @ffr

Komentar (0)

Tulis Komentar

Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

VisiNews Club

Nikmati Berita Tanpa Batas & Benefit Eksklusif!

Dapatkan Kaos & Merchandise eksklusif setiap bulan dengan berlangganan Visi News.