Ferry–TNI Berdamai, Isu Grup WA Mengemuka
VISI.NEWS | BANDUNG - Podcast Off The Record FNN edisi Minggu, 14 September 2025 menghadirkan wartawan senior Hersubeno Arief dan Agi Betha membahas lanjutan polemik antara kreator konten Ferry Irwandi dan TNI. Dua poin utama disorot: perdamaian Ferry dengan Kapuspen TNI serta ancaman Ferry membuka isi grup WhatsApp yang disebut beranggotakan pejabat dan buzzer.
Agi memaparkan kronologi awal ketika sejumlah perwira TNI “berkonsultasi” ke Polda Metro Jaya terkait dugaan pelanggaran oleh Ferry. Langkah itu menuai keberatan karena putusan Mahkamah Konstitusi menegaskan lembaga negara tidak dapat melaporkan warga negara dalam perkara seperti pencemaran nama baik di ranah ITE. Situasi kian ramai setelah TNI menyinggung adanya dugaan perkara lain tanpa merinci.
Menurut penjelasan dalam podcast, ketegangan mereda setelah Brigjen TNI (Mar) Fredy Ardiansyah selaku Kapuspen TNI menelpon Ferry. Keduanya disebut saling memaafkan dan menyepakati adanya kesalahpahaman. Ferry menyatakan tidak ada tindak lanjut hukum terhadap dirinya sembari mengajak publik fokus pada warga sipil yang masih ditahan atau belum ditemukan pascakericuhan.
Hersubeno menilai sempat terjadi blunder institusional. Kehadiran jajaran TNI yang lengkap saat “konsultasi” dianggap sulit dibaca sebagai inisiatif personal. Selain membingungkan publik, manuver itu dinilai berpotensi merugikan citra pemerintah di kancah internasional, terlebih jelang pidato Presiden Prabowo di Sidang Umum PBB pada 23 September.
Dialog juga menyinggung pandangan figur publik dan ahli hukum. Diulas bahwa Yusril Ihza Mahendra menyebut TNI tak berwenang melaporkan warga sipil dalam perkara dimaksud, sementara Mahfud MD mengingatkan dampak buruk jika langkah tersebut diteruskan. Di DPR, pernyataan seorang pimpinan komisi yang semula terkesan membenarkan langkah TNI dinilai blunder dan memicu reaksi warganet.
Episode ini turut menyorot pertempuran narasi di media sosial. Ferry menuding adanya framing terhadap dirinya, termasuk pemelintiran cuplikan audio yang memicu tuduhan provokasi. Ia mengklaim memegang arsip percakapan “grup WA” berisi pejabat dan buzzer, menyebut sosok yang kerap mengkritiknya, serta menampilkan potongan obrolan internal yang dinilai problematik.
Dalam potongan chat yang diunggah Ferry, muncul candaan soal senjata hingga obrolan yang, menurut pembawa acara, dapat dimaknai sebagai ajakan “menonaktifkan” lawan (istilah “di-NIP”). Meski konteks dan keaslian perlu verifikasi, bocoran itu menambah kekhawatiran tentang keterlibatan jaringan buzzer dalam orkestrasi opini dan serangan personal.
Agi dan Hersubeno menegaskan isu “darurat militer” tidak relevan dengan fakta di lapangan. Mereka menjelaskan tahapan keadaan darurat tidak sederhana, dan langkah ekstrem justru akan merugikan pemerintah. Narasi tentang “faksi-faksi” yang diduga bermain dinilai memperkeruh suasana serta menghambat pemulihan stabilitas.
Ferry menyatakan tetap percaya TNI dan Polri sebagai pelindung warga, bukan pemidananya. Ia menekankan pentingnya kinerja pemerintah sebagai “sistem imun” negara—bahwa stabilitas lahir dari pemenuhan kebutuhan rakyat dan tegaknya keadilan, bukan dari represi terhadap kritik. Off The Record FNN menutup dengan menilai perdamaian Ferry–TNI sebagai langkah de-eskalasi, seraya menunggu klarifikasi institusional atas isu “buzzer dan grup WA” serta komitmen menertibkan perang siber demi memulihkan kepercayaan publik.
@uli
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!