Fenomena Brain Rot: Ancaman Kognitif di Era Digital
Editor
Desi Rossilawati
Kamis, 26 Desember 2024 | 02:00 WIB
VISI.NEWS | JAKARTA - Di era digital yang semakin maju ini, fenomena "brain rot" atau kerusakan otak semakin menjadi perhatian. Istilah ini merujuk pada penurunan kemampuan kognitif yang disebabkan oleh kebiasaan terlalu sering menonton konten digital yang instan, tidak mendidik, dan kurang makna.
Taufiq Pasiak, seorang ilmuwan neurosains serta CEO Sekolah Otak Indonesia, menjelaskan bahwa brain rot dapat mengakibatkan dampak buruk pada kemampuan kognitif. "Dampaknya adalah otak kekurangan kapasitas untuk berpikir jernih, fokus, dan mengambil keputusan," ujarnya, menyoroti pentingnya kesadaran akan dampak konsumsi konten digital.
Untuk mencegah brain rot, ada beberapa langkah efektif yang bisa diambil. Pertama, penting untuk membatasi waktu melihat layar gadget. Menurut Taufiq, teknik seperti Pomodoro dapat sangat membantu, di mana pengguna disarankan untuk mengonsumsi konten online selama 15 menit diikuti dengan istirahat 5 menit. Setelah dua jam, luangkan waktu untuk istirahat lebih panjang sekitar 15 hingga 30 menit agar otak bisa pulih sejenak dari beban informasi.
Selanjutnya, mengonsumsi konten berkualitas juga menjadi kunci utama dalam mencegah brain rot. Taufiq merekomendasikan untuk memilih konten yang tidak hanya menghibur tetapi juga mendidik dan memperluas pengetahuan. "Konten yang membuat kita pintar dan mendorong untuk mendalami suatu topik bisa melatih otak untuk berpikir secara kritis," jelasnya. Dengan demikian, bukan hanya hiburan yang didapat, tetapi juga pengetahuan yang berharga.
Selain itu, aktivitas fisik yang rutin juga memiliki peran yang tak terpisahkan dalam menjaga fungsi kognitif otak. Melalui olahraga, aliran darah ke otak meningkat, yang dapat memperbaiki fungsi kognitif. Interaksi langsung dengan orang lain pun tidak kalah penting. Taufiq menekankan pentingnya mengurangi komunikasi melalui layar dan lebih memilih pertemuan tatap muka, seperti ngopi atau berolahraga bersama, untuk meningkatkan keterhubungan sosial dan mencegah penurunan empati.
Terakhir, memberi tantangan pada diri sendiri dan memanfaatkan teknologi dengan bijak juga dianjurkan. Kegiatan yang memerlukan konsentrasi, seperti membaca buku atau menulis, bisa merangsang otak untuk tetap aktif. "Membuat ringkasan buku atau menulis ulang apa yang dibaca dapat membantu," ungkap Taufiq. Dengan memanfaatkan aplikasi yang mendukung produktivitas daripada asal browsing di dunia maya, individu dapat terhindar dari risiko brain rot. Menjaga kesehatan kognitif di tengah arus informasi yang deras adalah tanggung jawab bersama. @berlin
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!