Evaluasi Angkutan Lebaran 2026, Erna Sari Dewi Soroti Ketimpangan Konektivitas di Bengkulu
Selain transportasi udara, Erna juga menyoroti keterbatasan infrastruktur darat di Bengkulu. Jalan tol Bengkulu yang baru mencapai sekitar 16,7 km dari total rencana 95,8 km belum terhubung dengan jalur utama Jalan Tol Trans Sumatra.
Akibatnya, waktu tempuh menuju provinsi tetangga seperti Lampung, Sumatera Selatan, dan Sumatera Barat masih relatif lama, ditambah kondisi jalan nasional yang belum optimal.
Dari sisi transportasi laut, Bengkulu juga menghadapi masalah klasik berupa sedimentasi tinggi yang menutup alur pelabuhan. Kondisi ini menyebabkan kapal besar kesulitan bersandar dan harus berlabuh di area terbatas, sehingga menghambat arus logistik dan mobilitas.
Erna menegaskan bahwa pemerintah perlu mengambil kebijakan afirmatif untuk menjamin keadilan konektivitas, bukan semata-mata mempertimbangkan aspek bisnis dan profitabilitas.
“Kita tidak bisa hanya berpikir dari sisi bisnis. Negara harus hadir untuk memastikan pemerataan konektivitas di seluruh wilayah Indonesia,†ujarnya.
Dalam kesempatan tersebut, Erna juga meminta perhatian lebih dari BMKG terhadap potensi bencana di Bengkulu. Ia menjelaskan bahwa wilayah tersebut berada di zona pertemuan lempeng Indo-Australia dan Eurasia, sehingga memiliki tingkat kerawanan tinggi terhadap gempa bumi dan tsunami dan selama masa reses Lebaran, Erna mengaku merasakan beberapa kali gempa kecil.
“Perlu peningkatan teknologi deteksi dan sistem peringatan dini agar masyarakat lebih siap menghadapi potensi bencana,†pungkasnya. @givary
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!