Eropa Beri Syarat, Ogah Bantu AS di Selat Hormuz
VISI.NEWS | WASHINGTON – Ketegangan antara Amerika Serikat (AS) dan sekutu Eropanya memuncak terkait penanganan konflik di Selat Hormuz. Meski Presiden AS Donald Trump berulang kali mendesak bantuan militer untuk mengamankan jalur pelayaran vital tersebut, negara-negara besar Eropa seperti Italia, Jerman, dan Prancis justru kompak mengajukan syarat berat: gencatan senjata harus terjadi terlebih dahulu.
Berdasarkan laporan per Jumat (20/3/2026), keretakan diplomasi ini mulai terlihat sejak awal pekan. Trump sempat meminta dukungan pada Senin (16/3/2026), namun ditolak mentah-mentah oleh para sekutu NATO pada hari berikutnya. Presiden Prancis, Emmanuel Macron, menegaskan pihaknya hanya akan bergabung dalam sistem pengawalan jika situasi sudah lebih tenang.
Sikap pasif negara-negara Eropa ini memicu kemarahan Donald Trump. Dalam pertemuan dengan Perdana Menteri Irlandia di Gedung Putih, Trump menyebut penolakan tersebut sebagai kegagalan besar bagi aliansi pertahanan Atlantik Utara tersebut.
"Saya pikir NATO melakukan kesalahan yang sangat bodoh," kata Trump kepada wartawan.
Ia pun mempertanyakan loyalitas para sekutunya di tengah ancaman geopolitik Iran yang kian meningkat.
"Saya sudah lama mengatakan bahwa saya bertanya-tanya apakah NATO akan pernah ada untuk kita. Jadi ini adalah ujian besar."
Meski demikian, Trump menegaskan bahwa Washington tidak ragu untuk bergerak sendiri tanpa bantuan sekutu.
"Kita tidak membutuhkan terlalu banyak bantuan. Kita tidak membutuhkan bantuan apa pun," tegasnya.
Menanggapi tekanan AS, Presiden Macron justru menyerukan penghentian serangan terhadap infrastruktur sipil, termasuk fasilitas energi yang menjadi target serangan baru-baru ini di Iran dan Qatar. Melalui platform X, Macron menekankan pentingnya melindungi fasilitas publik.
"Demi kepentingan bersama, moratorium serangan yang menargetkan infrastruktur sipil, khususnya infrastruktur energi dan air, harus segera diterapkan," tulis Macron.
Kekuatan internasional yang terdiri dari Inggris, Prancis, Jerman, Italia, Jepang, dan Belanda menyatakan kesiapan mereka untuk memastikan keamanan di Selat Hormuz. Namun, Italia, Jerman, dan Prancis menggarisbawahi bahwa keterlibatan mereka bukanlah bantuan militer langsung di tengah konflik.
Ketiga negara tersebut menekankan bahwa inisiatif multilateral baru akan dilakukan setelah adanya kesepakatan gencatan senjata. Saat ini, blokade yang dilakukan Iran telah melumpuhkan aktivitas pengiriman di selat tersebut, padahal jalur ini merupakan rute bagi seperlima pasokan minyak mentah dan gas alam cair (LNG) dunia.
Eskalasi yang terus berlanjut tanpa titik temu antara AS dan Eropa ini dikhawatirkan akan memperparah krisis energi global yang tengah menghantui pasar internasional. @ffr
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!