VISI.NEWS | BANDUNG — Di balik hiruk-pikuk alat berat dan pencarian korban longsor di Cisarua, Kabupaten Bogor, ada proses senyap yang tak kalah penting: mengembalikan identitas para korban kepada keluarganya. Hingga Selasa sore, tim Disaster Victim Identification (DVI) telah menerima 50 kantong jenazah, dan 34 di antaranya berhasil dipastikan identitasnya.
Tiga korban terbaru yang teridentifikasi adalah Wati alias Enok (58) yang dikenali melalui sidik jari dan tanda medis, Bayu Nurcahya (33) melalui sidik jari dan data gigi, serta Epon (30) berdasarkan sidik jari, gigi, dan data medis. Proses ini menjadi penghubung terakhir antara keluarga dan orang-orang tercinta yang hilang tertimbun longsor.
“Ia menegaskan, proses identifikasi akan terus dilanjutkan melalui tahapan post-mortem dan ante-mortem hingga seluruh jenazah berhasil dipastikan identitasnya,” kata Iwansyah.
Seiring bertambahnya korban yang teridentifikasi, proses penyerahan kepada keluarga juga terus dilakukan. Hingga kini, 30 jenazah yang telah teridentifikasi sebelumnya sudah diserahkan, termasuk empat korban yang baru dipastikan identitasnya. Penyerahan dilakukan secara bertahap untuk memastikan ketepatan data sekaligus memberi ruang bagi keluarga menjalani proses pemakaman.
Sementara itu, data warga terdampak juga mengalami pembaruan. Kepala Basarnas Mohammad Syafii menyebut jumlah warga terdampak meningkat dari 34 kepala keluarga atau 133 jiwa menjadi 35 kepala keluarga dengan total 155 jiwa. Dari jumlah tersebut, 75 orang dinyatakan selamat, sementara 80 lainnya masih dalam proses pencarian.
“Di mana kalau tadi pagi informasi terakhir yang saya konfirmasi bahwa telah teridentifikasi 27 jenazah yang sudah diserahterimakan kepada keluarga,” kata Syafi’i usai rapat di Komisi V DPR, Selasa sore.
Upaya pencarian melibatkan sekitar 2.000 personel gabungan yang disiagakan di lokasi bencana. Namun karena kondisi tanah yang masih labil dan berisiko, hanya sekitar 250 personel yang diterjunkan langsung setiap harinya. Fokus pencarian kini dipusatkan di area permukiman warga yang tertimbun, titik utama dari 35 kepala keluarga yang terdampak longsor.