Dubes RI untuk China: Hubungan Indonesia-China akan Semakin Kuat di Era Pemerintahan Prabowo
ED
Editor
Shinta Dewi P
Kamis, 31 Oktober 2024 | 00:10 WIB
VISI.NEWS | JAKARTA - Duta Besar Republik Indonesia untuk China dan Mongolia, Djauhari Oratmangun, menyatakan bahwa hubungan Indonesia dan China akan semakin erat di bawah pemerintahan baru yang dipimpin oleh Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka.
"Kami optimistis di bawah pemerintahan baru, hubungan Indonesia dan China akan terus semakin kuat, mempererat kerja sama yang bermanfaat bagi kedua negara dalam bidang perdagangan, investasi, infrastruktur maupun pertukaran antarmasyarakat," ujar Djauhari dikutip di Jakarta, Rabu (30/10/2024).
Djauhari mengungkapkan optimisme ini dalam sebuah acara resepsi diplomatik yang merayakan Hari Ulang Tahun ke-79 RI, yang dihadiri sekitar 500 tamu, termasuk duta besar, diplomat, pejabat pemerintah, dan pengusaha dari China. Wakil Menteri Luar Negeri China, Sun Weidong, juga hadir dalam acara tersebut.
"Dalam pidato pertamanya di hadapan Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR), Presiden Prabowo menekankan pentingnya persatuan dan optimisme dalam menghadapi tantangan global. Ia menegaskan keyakinan Indonesia dalam menghadapi masa-masa yang penuh gejolak, dengan mengandalkan kekayaan alam dan sumber daya manusia Indonesia," ungkap Dubes Djahari.
Dalam pidato pertamanya di depan Majelis Permusyawaratan Rakyat, Prabowo menekankan pentingnya persatuan dan optimisme dalam menghadapi tantangan global. Djauhari menyebut bahwa pemerintahan baru akan memprioritaskan pengelolaan sumber daya alam, swasembada pangan dan energi, serta pertumbuhan ekonomi melalui industri hilir.
"Pemerintah Indonesia berkomitmen untuk memastikan bahwa pertumbuhan ini akan memberikan manfaat bagi seluruh lapisan masyarakat. Pun di panggung internasional, Indonesia akan mempertahankan kebijakan luar negeri yang bebas dan aktif, dengan menyeimbangkan netralitas dengan kontribusi aktif bagi perdamaian, keamanan dan kemakmuran dunia," tambah Djauhari.
Djauhari menegaskan komitmen pemerintah untuk memastikan bahwa pertumbuhan ekonomi memberikan manfaat bagi semua lapisan masyarakat. Di kancah internasional, Indonesia akan mempertahankan kebijakan luar negeri yang bebas dan aktif, sambil menyeimbangkan netralitas dengan kontribusi untuk perdamaian dan kemakmuran dunia.
"Dengan mempertahankan prinsip kedaulatan dan non-intervensi, Indonesia akan terus mendorong kerja sama, multilateralisme, dan solusi damai dalam menyelesaikan perbedaan," tegas Djauhari.
Mengenai hubungan dengan China, Djauhari mencatat pertumbuhan yang konsisten di bidang perdagangan dan investasi. Volume perdagangan Indonesia-China meningkat dari 79,76 miliar dolar AS pada 2019 menjadi 139,26 miliar dolar AS pada 2023, dengan surplus bagi Indonesia. Hingga September 2024, perdagangan bilateral telah mencapai 105,62 miliar dolar AS.
Di sektor investasi, China menjadi salah satu investor utama di Indonesia, dengan kontribusi signifikan di bidang energi terbarukan, infrastruktur, kesehatan, dan transportasi. Investasi dari China di Indonesia meloncat dari 800 juta dolar AS pada 2014 menjadi 7,4 miliar dolar AS pada 2023.
Di sektor pariwisata, sebelum pandemi, Indonesia menerima 2,07 juta turis dari China pada 2019, dengan Bali menjadi tujuan favorit. Indonesia menargetkan 1-1,5 juta wisatawan China hingga akhir 2024. Hingga Agustus 2024, sekitar 700 ribu wisatawan China telah berkunjung ke Indonesia, menunjukkan minat yang besar terhadap keindahan alam dan budaya Indonesia.
"Hingga Agustus tahun ini, 700 ribu wisatawan China telah mengunjungi Indonesia, yang menunjukkan kekuatan hubungan pariwisata kami dan minat yang semakin besar terhadap keindahan alam serta keanekaragaman budaya Indonesia," ungkap Djauhari.
"Salah satu pilar terkuat hubungan kita terletak pada hubungan antarmasyarakat yang telah berkembang seiring waktu. Sebelum pandemi, lebih dari 15 ribu pelajar Indonesia mengejar pendidikan tinggi di China. Saat ini, lebih dari 6 ribu pelajar Indonesia sedang belajar di China. Hal ini mencerminkan ketahanan pertukaran pendidikan kami dan rasa saling menghormati yang mendalam antara kedua negara," jelas Djauhari.
Dalam acara tersebut, Djauhari memperkenalkan program Golden Visa yang menawarkan izin tinggal 5-10 tahun dengan proses administrasi yang lebih mudah. Ia mendorong investor China untuk memanfaatkan kesempatan ini dan berkontribusi pada pertumbuhan bersama di salah satu pasar dengan pertumbuhan tercepat di dunia.
"Golden Visa mencerminkan komitmen kami terhadap lingkungan yang ramah bagi investor. Saya mendorong para investor China dan mitra internasional untuk memanfaatkan kesempatan ini. Dengan berinvestasi di Indonesia, Anda turut berkontribusi pada pertumbuhan bersama dan memperoleh peluang di salah satu pasar dengan pertumbuhan tercepat di dunia," tutur Djauhari. @ffr
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!