Deteksi Gula Darah dan Jantung Lewat Pemindaian Mata Berbasis AI
ED
Editor
M Purnama Alam
Rabu, 24 September 2025 | 21:16 WIB
Pemindaian retina dengan bantuan kecerdasan buatan (AI) dapat segera memberikan dokter cara yang sederhana dan non-invasif untuk mendeteksi berbagai kondisi medis.
Oleh Devanjali Relan (Universitas BML Munjal)
INTEGRASI pembelajaran mesin dan kecerdasan buatan (AI) kini membuka perspektif baru dalam menilai kesehatan retina. Bidang oftalmologi pun bertransformasi, dari yang reaktif menjadi proaktif dan prediktif.
Gambar retina memberikan pandangan non-invasif terhadap pembuluh darah dan serat saraf. Retina tidak hanya merupakan "jendela ke dalam mata", tapi juga alat diagnostik penting untuk berbagai penyakit.
Contoh:
* Penyempitan arteri kecil retina (arteriola) berkaitan dengan risiko tekanan darah tinggi.
* Diameter vena retina yang membesar dikaitkan dengan masalah ginjal pada penderita diabetes tipe 1.
* Rasio antara diameter arteri dan vena di retina telah diakui sebagai **penanda biomolekuler** untuk stroke dan penyakit jantung.
Struktur pembuluh retina mencerminkan **kesehatan sistem vaskular** seseorang. Oleh karena itu, retina menjadi alat yang kuat untuk mendiagnosis berbagai penyakit seperti:
* Diabetes melitus
* Penyakit jantung koroner
* Hipertensi
* Penyakit ginjal
* Gangguan neurodegeneratif
Dengan bertambahnya usia populasi dan gaya hidup yang buruk, penyakit-penyakit ini semakin meningkat. Maka, deteksi dini dan identifikasi individu berisiko tinggi menjadi sangat penting.
Teknologi Citra Retina: Akurat dan Non-Invasif
Selama 20 tahun terakhir, minat terhadap pencitraan pembuluh darah retina terus meningkat. Teknologi yang mendukung seperti:
- Fotografi fundus retina
- Optical Coherence Tomography-Angiography (OCT-A)
- Optik adaptif
- Retinopati diabetik
- Degenerasi makula karena usia
- Glaukoma
- Operasi ulang
- Biaya meningkat
- Stres emosional
- Menganalisis gambar retina sebelum dan sesudah operasi
- Memprediksi apakah lubang makula akan menutup
- Memberikan gambaran kemungkinan bentuk retina setelah operasi
- Merencanakan prosedur secara optimal
- Memberikan konseling kepada pasien dengan informasi yang akurat
- Membantu pasien membuat keputusan yang lebih bijak
- Mengklasifikasikan kadar HbA1c langsung dari gambar retina
- Memberikan hasil sederhana (Ya/Tidak)
- Atau klasifikasi lebih rinci: optimal, meningkat, atau berisiko tinggi
- Mengklasifikasikan berbagai penyakit dari satu citra retina
- Menggunakan teknologi Auxiliary Classifier Generative Adversarial Networks (AC-GANs)
- Menghasilkan gambar retina realistis untuk memperbesar dataset
- Melatih sistem untuk membedakan antara penyakit mata dan penyakit sistemik (jantung, ginjal, dll.)
- Diagnostik yang efisien hanya dengan satu sesi pencitraan
- Pemindaian menyeluruh untuk banyak kondisi sekaligus
- Kurangnya data pasien yang beragam untuk melatih AI secara akurat
- Masalah "black box", yaitu proses pengambilan keputusan AI yang tidak transparan, membuat dokter ragu untuk mempercayainya
- Berbagi data anonim antar rumah sakit untuk memperkaya dataset
- Membuat AI lebih transparan, misalnya dengan menunjukkan bagian mata mana yang diperiksa saat membuat diagnosis
- Dr. Devanjali Relan adalah Profesor di BML Munjal University. Penelitian ini merupakan kolaborasi antara Dr. Relan dan Dr. Dhanashree Ratra beserta timnya di Sankara Nethralaya, Chennai, India.
- Artikel ini awalnya diterbitkan di bawah lisensi Creative Commons oleh 360info™.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!