Dedi Mulyadi Usul Batas Gaji Orangtua bagi Mahasiswa Penerima KIP

Desi Rossilawati
Selasa, 11 Agustus 2026 | 11:42 WIB
Bagikan
Dedi Mulyadi Usul Batas Gaji Orangtua bagi Mahasiswa Penerima KIP

Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi saat memberikan kuliah umum kepada ribuan mahasiswa baru dalam rangka PKKMB Universitas Padjadjaran di Stadion Jati Padjadjaran, Unpad Kampus Jatinangor, Senin (10/8/2026)./visi.news/Pemprov Jabar.

VISI.NEWS - Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, mengusulkan kepada Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi agar mengubah batas maksimum gaji orangtua bagi mahasiswa penerima beasiswa Kartu Indonesia Pintar (KIP) Kuliah.

Usulan tersebut disampaikan sebagai upaya mencegah mahasiswa mengalami putus kuliah akibat keterbatasan biaya. Saat ini, syarat besaran gaji orangtua bagi penerima KIP Kuliah harus berada di bawah upah minimum provinsi (UMP) di domisili mahasiswa.

Untuk Jawa Barat, nilai gabungan gaji orangtua yang menjadi batas penerima KIP Kuliah harus berada di bawah Rp2,3 juta sesuai UMP Jawa Barat.

"Saya usul agar nanti ketentuannya dibawah Rp10 juta boleh dapat KIP," kata Dedi Mulyadi dalam keterangannya dikutip dari laman resmi Pemprov Jabar, Selasa (11/8/2026).

Hal tersebut disampaikan Dedi saat memberikan kuliah umum kepada ribuan mahasiswa baru dalam rangka Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PKKMB) Penerimaan Raya Mahasiswa Baru Universitas Padjadjaran (Prabu) Tahun Akademik 2026/2027 di Stadion Jati Padjadjaran, Unpad Kampus Jatinangor, Senin (10/8/2026).

Dalam kegiatan tersebut, Dedi menanggapi keluhan sejumlah mahasiswa terkait tingginya Uang Kuliah Tunggal (UKT) yang harus ditanggung orangtua, termasuk mahasiswa yang orangtuanya berprofesi sebagai PNS.

Mahasiswa yang masuk melalui jalur prestasi, termasuk mahasiswa penyandang disabilitas, juga menyampaikan keluhan mengenai biaya kos, biaya hidup, serta uang kuliah yang dinilai cukup besar di kawasan Jatinangor.

Salah seorang mahasiswi penyandang disabilitas netra, Gina, menyampaikan rasa syukurnya karena dapat berkuliah secara gratis di Universitas Padjadjaran. Ia juga berharap perhatian terhadap penyandang disabilitas dapat terus ditingkatkan agar mereka memiliki kesempatan menempuh pendidikan hingga perguruan tinggi.

Dedi kemudian memberikan nasihat kepada mahasiswa agar tidak berputus asa hingga memutuskan berhenti kuliah karena persoalan biaya. Menurutnya, tekad untuk menyelesaikan pendidikan dapat menjadi dorongan untuk menghadapi kendala selama masa perkuliahan.

Dalam kesempatan tersebut, Dedi juga memberikan bantuan langsung kepada sejumlah mahasiswa dan mahasiswi. Bantuan yang diberikan antara lain biaya kos selama dua tahun, biaya kuliah gratis selama lima semester, serta modal usaha Rp5 juta bagi mahasiswa yang berencana membuka usaha kecil untuk membantu memenuhi kebutuhan selama kuliah.

Ia meminta mahasiswa yang memiliki keterbatasan ekonomi untuk tidak berkecil hati. Menurutnya, pendidikan tinggi dapat membuka kesempatan untuk memperoleh kehidupan yang lebih baik di masa depan.

Dedi juga berpesan agar mahasiswa tidak hanya berorientasi pada gelar akademik, tetapi memperbanyak pengalaman selama menjalani pendidikan di perguruan tinggi.

"Jangan hanya mengejar gelar akademik namun perbanyak pengalaman selama menjadi mahasiswa. Jadikanlah kesulitan itu sahabat agar Anda menjadi orang yang mampu, tidak mengalami masalah ketika berhadapan dengan kesulitan. Musuh jangan dijauhi, tapi jadikan temannya," ucapnya.

Pesan untuk Mahasiswa

Dalam sesi tersebut, mahasiswa juga menyampaikan sejumlah aspirasi kepada KDM. Livy, mahasiswi asal Depok, meminta pemerintah memperbaiki jalan-jalan di Jatinangor, khususnya di kawasan kampus. Ia juga menyatakan kesiapan untuk ikut menjaga dan memperbaiki lingkungan kampus bersama rekan-rekannya.

Menanggapi hal tersebut, Dedi menjelaskan bahwa jalan yang dimaksud merupakan jalan nasional sehingga kewenangannya berada di pemerintah pusat. Meski demikian, ia akan berkoordinasi dengan Kementerian Pekerjaan Umum. Jika mendapat izin, Pemprov Jawa Barat siap turut menangani perbaikan tersebut.

"Kalau diijinkan tahun depan kinclong. Tapi warga kampus juga harus ikut menjaga kebersihan lingkungan," tegasnya.

Sementara itu, Keisya, mahasiswi kedokteran hewan, menyampaikan keinginannya untuk ikut mengembalikan keanekaragaman satwa di Indonesia. Ia juga menyoroti jumlah peminat kedokteran hewan yang masih lebih sedikit dibandingkan kedokteran umum serta anggapan bahwa profesi tersebut kurang diminati.

Dedi memberikan motivasi dengan menjelaskan bahwa kebutuhan dokter hewan terdapat di berbagai sektor, mulai dari perusahaan swasta, BUMN hingga pemerintahan. Ia juga menyampaikan bahwa penghasilan dokter hewan berpotensi lebih besar dibandingkan dokter umum.

Dedi meminta Keisya tidak berkecil hati dalam mengejar cita-citanya, termasuk keinginannya untuk membuat data hewan endemik di Indonesia menjadi lebih lengkap.

Komentar (0)

Tulis Komentar

Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

VisiNews Club

Nikmati Berita Tanpa Batas & Benefit Eksklusif!

Dapatkan Kaos & Merchandise eksklusif setiap bulan dengan berlangganan Visi News.