Dedi Mulyadi Gagas Identitas Khas Pangandaran untuk Dongkrak Pariwisata
Editor
Desi Rossilawati
Sabtu, 1 Februari 2025 | 09:00 WIB
VISI.NEWS | PANGANDARAN - Gubernur Jawa Barat terpilih, Dedi Mulyadi, memaparkan berbagai gagasan inovatif untuk memajukan sektor pariwisata di Pangandaran. Dalam sambutannya pada acara pengukuhan Dewan Kebudayaan Daerah Pangandaran, Jumat (31/1/2025), Dedi menyebut Pangandaran harus memiliki daya tarik yang terlihat, tercium, dan terdengar.
"Terlihat (maksudnya) ayo sekarang kumpulkan ahli, ikuti peradaban Pangandaran," kata Dedi saat memberi sambutan di acara pengukuhan Dewan Kebudayaan Daerah Pangandaran, di Alun-alun Paamprokan, Kabupaten Pangandaran, Jumat (31/1/2025) malam.
Untuk aspek visual, Dedi mengusulkan agar bangunan di Pangandaran, termasuk rumah, kantor, hingga hotel, memiliki desain khas yang selaras dengan suasana Pantai Selatan. Ia mendorong pembuatan Peraturan Daerah (Perda) yang mewajibkan arsitektur lokal sebagai identitas wilayah, mencontoh keberhasilan Bali dalam hal tersebut.
"Harus membuat Perda, bahwa bangunan hotel, losmen, toko harus khas arsitektur Pangandaran. Bali sudah bisa, kenapa kita tidak," ujar Dedi.
Dedi juga menekankan pentingnya elemen aroma khas yang dapat diingat wisatawan, seperti penggunaan aroma terapi di hotel dan tempat umum.
"Itu membakar dupa bukan mendatangkan setan. Namun aroma terapi. Hotel harus pasang aroma terapi, dipasang di mana-mana. Nanti tertiup angin, tercium wisatawan, pasti mau kembali lagi ke Pangandaran," ungkap Dedi.
Selain itu, Dedi mengusulkan adanya pertunjukan seni gamelan di hotel dengan tata suara yang berkualitas untuk menghadirkan pengalaman budaya yang autentik.
"Jadi terngiang terus, dan ingin kembali ke Pangandaran," papar Dedi.
Sebagai bagian dari strategi ekonomi kreatif, ia menyarankan pegawai tiket masuk pantai serta staf hotel mengenakan kebaya sebagai seragam resmi. Hal ini, menurut Dedi, akan menghidupkan ekonomi lokal, termasuk para pengrajin kebaya dan pembuat alat gamelan.
"Nanti ada siklus, ekonomi lokal hidup. Tukang jahit kebaya, tukang gamelan (ekonomi) hidup. Harus ada perubahan desain," terang Dedi. @ffr
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!