Dari Garut untuk Indonesia, SID Pamerkan Transformasi Digital Layanan Primer
VISI.NEWS – Summit Institute for Development (SID) kembali menegaskan komitmennya dalam mempercepat transformasi sistem kesehatan nasional melalui partisipasinya pada Leimena Conference 2026 yang berlangsung pada 27–29 Juli 2026 di BRIN Gatot Subroto, Ballroom Widya Graha, Jakarta. Dalam forum ilmiah nasional yang diselenggarakan Kementerian Kesehatan RI melalui Sekretariat PHC Consortium dan Direktorat Jenderal Kesehatan Primer tersebut, SID dipercaya menjadi penyelenggara salah satu sesi paralel sekaligus menghadirkan booth pameran yang menampilkan implementasi Digitally Enabled District (DED) di Kabupaten Garut.
Kepercayaan tersebut menjadi pengakuan atas kontribusi SID dalam mendorong transformasi digital layanan kesehatan primer melalui pendekatan yang menghubungkan seluruh jenjang pelayanan kesehatan, mulai dari Posyandu, Puskesmas Pembantu (Pustu), Puskesmas, hingga Dinas Kesehatan. Model ini dinilai mampu memperkuat tata kelola layanan kesehatan berbasis data sekaligus mendukung implementasi Integrasi Layanan Primer (ILP) dan ekosistem SATUSEHAT.
Dalam implementasinya, Program DED mengintegrasikan berbagai teknologi digital, seperti interoperabilitas data berbasis standar HL7 FHIR, Dashboard Pemantauan Wilayah Setempat (PWS), Dynamic Worker Support (DWS), KuApps, HealthComm, hingga teknologi Artificial Intelligence Optical Character Recognition (AI OCR). Berbagai inovasi tersebut memungkinkan pencatatan layanan kesehatan yang lebih akurat, mempercepat pengolahan data, serta mendukung pengambilan keputusan berbasis bukti di tingkat daerah.
Puncak partisipasi SID berlangsung pada 28–29 Juli 2026 melalui sesi paralel bertajuk "Transformasi Digital Layanan Primer: Pengalaman Digitally Enabled District (DED) di Kabupaten Garut". Sesi ini menghadirkan para pengambil kebijakan dan pelaksana yang terlibat langsung dalam implementasi DED di Kabupaten Garut sehingga peserta dapat memperoleh pembelajaran praktis mengenai strategi penerapan transformasi digital, tantangan implementasi di lapangan, hingga faktor-faktor yang menjadi kunci keberhasilan digitalisasi layanan kesehatan primer.
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Garut, dr. Hj. Leli Yuliani, M.M., menjadi salah satu pembicara utama dengan materi "Adopsi Implementasi Integrasi Layanan Primer (ILP) melalui Dukungan Health Systems Insight di 4 Kabupaten". Dalam paparannya, ia akan menjelaskan bagaimana pemanfaatan data, tata kelola pemerintahan, serta kepemimpinan daerah mampu mempercepat implementasi ILP di tingkat kabupaten.
Sementara itu, Apt. Yodi Sirojudin, S.Si., MH.Kes., Sekretaris Dinas Kesehatan Kabupaten Garut, akan membahas kepemimpinan daerah dalam transformasi digital kesehatan, termasuk implementasi interoperabilitas data, pemanfaatan Dashboard PWS, serta penguatan tata kelola digital di sektor kesehatan.
Pengalaman praktik di lapangan juga menjadi bagian penting dalam sesi tersebut. Titin Sumarni, S.ST., S.K.M., Bdn., M.Kes., Bidan Koordinator UPT Puskesmas Karangpawitan sekaligus Champion Program DED, akan membagikan praktik baik penerapan Posyandu Digital di Desa Sindalaya. Sementara Muhammad Nurul Akbar, Promotor Kesehatan UPT Puskesmas Bayongbong sekaligus Champion Program DED, akan memaparkan bagaimana pemanfaatan Dynamic Worker Support (DWS) membantu meningkatkan manajemen kinerja tenaga kesehatan lapangan melalui pendekatan digital. Seluruh rangkaian diskusi dipandu oleh Muhammad Rizky Widodo, Project Coordinator Program DED Summit Institute for Development.
Selain sesi ilmiah, SID juga menghadirkan Booth Digitally Enabled District (DED) selama tiga hari pelaksanaan konferensi. Booth tersebut menjadi ruang demonstrasi, diseminasi, sekaligus konsultasi interaktif bagi peserta yang berasal dari Kementerian Kesehatan, Dinas Kesehatan Provinsi maupun Kabupaten/Kota, fasilitas pelayanan kesehatan primer, akademisi, organisasi profesi, mitra pembangunan, hingga organisasi masyarakat sipil.
Melalui booth tersebut, pengunjung dapat melihat secara langsung bagaimana ekosistem digital DED bekerja, mulai dari pencatatan layanan di tingkat Posyandu hingga pemanfaatan dashboard kesehatan yang digunakan pemerintah daerah dalam mendukung pengambilan keputusan berbasis data. SID juga membuka ruang diskusi bagi pemerintah daerah yang ingin mereplikasi model transformasi digital tersebut sesuai dengan kebutuhan dan karakteristik wilayah masing-masing.
Program Digitally Enabled District (DED) di Kabupaten Garut telah menunjukkan perkembangan yang signifikan sejak dijalankan. Hingga saat ini, program tersebut telah meningkatkan kapasitas lebih dari 1.149 kader kesehatan, 95 bidan, 35 tenaga data dan IT lokal, serta 15 administrator FHIR yang mendukung interoperabilitas data kesehatan.
Ke depan, implementasi program ditargetkan berkembang dari sembilan puskesmas berkemampuan digital menjadi 54 puskesmas sepanjang periode 2025–2027. Langkah tersebut menjadi bagian dari strategi memperkuat sistem kesehatan daerah yang lebih terintegrasi, berbasis data, dan mendukung pelayanan kesehatan primer yang lebih efektif.
Melalui partisipasi pada Leimena Conference 2026, SID berharap pengalaman implementasi DED di Kabupaten Garut dapat menjadi referensi bagi daerah lain dalam mempercepat transformasi digital layanan kesehatan primer. Forum ini juga diharapkan semakin memperkuat kolaborasi antara pemerintah pusat dan daerah, akademisi, organisasi profesi, serta mitra pembangunan dalam memperluas adopsi inovasi digital yang berkelanjutan, interoperabel, dan mampu memberikan dampak nyata terhadap peningkatan kualitas layanan kesehatan masyarakat di Indonesia.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!