Dampak Negatif Strawberry Parents Terhadap Kecerdasan Emosional Anak
Editor
Desi Rossilawati
Selasa, 31 Desember 2024 | 00:00 WIB
VISI.NEWS | BANDUNG - Fenomena "strawberry parents" semakin ramai diperbincangkan, terutama terkait dampaknya yang besar pada perkembangan anak. Psikolog Klinis RS Dr Oen Solo Baru dan pengajar di Setiabudi University, Yustinus Joko Dwi Nugroho, M.Psi, mengungkapkan bahwa pola asuh ini dapat berpengaruh buruk pada Adversity Quotient (AQ) anak. Joko menjelaskan, AQ adalah ukuran kegigihan seseorang dalam menghadapi masalah dan menjadi salah satu faktor krusial dalam menentukan keberhasilan anak, bersama dengan IQ.
Sayangnya, pendekatan orangtua yang terlalu protektif, ciri khas strawberry parents, sering membuat anak memiliki AQ yang rendah. Menurut Joko, anak-anak dari orangtua jenis ini jarang diberi ruang untuk menghadapi tantangan secara mandiri. Setiap kali anak menghadapi masalah, orangtua akan segera terjun untuk menyelesaikannya, sehingga anak tidak memiliki kesempatan untuk belajar mengambil keputusan sendiri.
Hal ini mengakibatkan rendahnya rasa percaya diri anak dalam menyelesaikan masalah, karena mereka terbiasa bergantung pada orangtuanya. Joko menegaskan, tanpa kesempatan untuk mengatasi tantangan, kegigihan anak tidak akan berkembang. "Bagaimana anak bisa menjadi tangguh jika orangtuanya terus-menerus melindunginya dan anak tersebut menjadi mudah menyerah," jelasnya.
Pola asuh yang terlalu protektif ini juga menghalangi anak dari pengalaman berhadapan dengan kegagalan. Anak-anak yang tidak pernah diajak memecahkan masalah secara mandiri cenderung cepat menyerah ketika dihadapkan pada tantangan. Mereka sering kali menganggap kesulitan kecil sebagai masalah yang besar dan dapat membebani pikiran mereka. Joko menunjukkan bahwa generasi saat ini rentan terhadap stres dan kurang memiliki ketahanan dalam menghadapi kesulitan.
Secara keseluruhan, Joko percaya bahwa pola asuh strawberry parents berkontribusi pada rendahnya ketahanan mental anak-anak di generasi sekarang, yang sering kali mudah putus asa. "Kondisi ini sangat berkaitan dengan anak-anak masa kini yang kesulitan untuk menghadapi tantangan,". @berlin
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!