Dampak Gangguan, Saham Cloudflare Turun Lebih 5 Persen dalam Perdagangan Pra-Pasar
VISI.NEWS | BANDUNG - Perusahaan infrastruktur internet Cloudflare mengalami gangguan besar pada Selasa (19/11/2025) pagi waktu Amerika Serikat, yang menyebabkan sejumlah layanan populer di seluruh dunia tidak dapat diakses. Beberapa layanan yang terdampak termasuk ChatGPT milik OpenAI, platform e-commerce Shopify, serta media sosial X yang dimiliki Elon Musk. Di Indonesia, situs-situs nasional seperti BMKG juga tidak dapat diakses akibat masalah ini.
Menurut laporan resmi, gangguan terjadi sekitar pukul 06.20 pagi waktu setempat setelah Cloudflare mendeteksi adanya "lonjakan lalu lintas tidak biasa" pada salah satu layanannya. Lonjakan tersebut memicu kesalahan jaringan yang membuat sebagian besar lalu lintas internet yang melewati sistem Cloudflare mengalami error, mempengaruhi akses ke berbagai situs web global.
Hingga saat ini, perusahaan belum mengetahui penyebab pasti dari lonjakan trafik tersebut. Meski begitu, tim teknis Cloudflare segera turun tangan untuk memulihkan layanan. Dalam pembaruan status yang dirilis pada pukul 08.35 pagi, Cloudflare memastikan bahwa mereka berupaya keras untuk mengembalikan normalitas trafik internet tanpa gangguan lebih lanjut.
Gangguan ini sangat berdampak luas karena Cloudflare menyediakan infrastruktur bagi sekitar 20% situs web di seluruh dunia. Selain memberikan layanan keamanan, Cloudflare juga berfungsi sebagai pelindung dari serangan DDoS (Distributed Denial of Service), yang dapat melumpuhkan sistem dengan membanjiri trafik yang tidak terkendali. Insiden ini menunjukkan betapa pentingnya peran Cloudflare dalam menjaga kelancaran internet global.
Dampak langsung dari gangguan ini juga terasa di pasar saham. Saham Cloudflare turun lebih dari 5 persen dalam perdagangan pra-pasar, mencerminkan kekhawatiran investor terhadap stabilitas layanan perusahaan. Penurunan harga saham ini menambah tekanan bagi Cloudflare, yang sebelumnya telah menjadi salah satu penyedia layanan infrastruktur internet terkemuka.
Insiden yang melibatkan Cloudflare ini menambah panjang daftar gangguan besar yang melanda layanan internet global dalam beberapa bulan terakhir. Pada Oktober 2025, Amazon Web Services (AWS) mengalami gangguan yang berlangsung hampir sepanjang hari, mempengaruhi banyak layanan daring. Bulan yang sama, Microsoft Azure dan 365 juga mengalami gangguan yang meluas.
Gangguan yang semakin sering ini menyoroti kerentanannya ekosistem digital global yang sangat bergantung pada sejumlah besar penyedia layanan infrastruktur utama. Ketika satu penyedia seperti Cloudflare mengalami masalah, dampaknya bisa terasa langsung di berbagai sektor penting, termasuk komunikasi, perdagangan, dan bahkan layanan publik.
Pada Juli 2024, misalnya, kesalahan pembaruan perangkat lunak dari penyedia keamanan siber CrowdStrike menyebabkan kekacauan besar, yang berdampak pada penerbangan, layanan keuangan, dan prosedur medis di rumah sakit. Gangguan seperti ini menggambarkan betapa kompleks dan rapuhnya hubungan antar penyedia layanan infrastruktur dengan berbagai sektor yang bergantung padanya.
Hingga kini, Cloudflare belum mengeluarkan pembaruan lebih lanjut mengenai penyebab pasti gangguan tersebut. Meskipun banyak pengguna berharap layanan kembali normal, insiden ini semakin memperjelas tantangan besar yang dihadapi oleh ekosistem internet dalam menjaga kestabilan layanan global.
@uliBerita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!