Dadang Naser Dorong Kemandirian Pangan dan Energi Terbarukan
Editor
Desi Rossilawati
Jumat, 15 Agustus 2025 | 18:20 WIB
VISI.NEWS | JAKARTA - Anggota Komisi IV DPR RI, Dadang Naser, menanggapi pidato Presiden Prabowo Subianto saat pembahasan RAPBN 2026 dengan menegaskan bahwa kemandirian pangan dan energi terbarukan harus menjadi fokus pembangunan nasional.
Dua sektor ini disebut masuk dalam delapan program unggulan Presiden yang perlu dikawal serius oleh pemerintah dan DPR.
Dadang menjelaskan, energi terbarukan berbasis bio dari hasil olahan tumbuhan memiliki potensi besar untuk menggantikan sumber energi fosil yang terbatas.
Salah satu contoh adalah tanaman polonia, yang dapat menghasilkan bioetanol dan memiliki kualitas pembakaran lebih baik dibanding batu bara. Ia mendorong pemanfaatan lahan reklamasi hutan rusak untuk penanaman polonia maupun tanaman lain penghasil bioenergi.
Untuk sektor pangan, ia menekankan penerapan pola agroforestri di hutan yang rusak. Menurutnya, tanaman seperti sukun dan aren bisa menjadi sumber pangan berkelanjutan sekaligus mendukung swasembada gula.
“Aren bisa menjadi sumber gula dan energi, bahkan berpotensi menekan impor gula,” ujarnya.
Terkait program food estate, Dadang menegaskan Komisi IV akan mengawal penuh agar tidak gagal, mengingat program ini menyerap anggaran besar. Ia juga mendorong optimalisasi lahan tidur yang dikuasai pemegang Hak Guna Usaha (HGU) untuk produksi pangan.
Dalam isu mafia pangan, Dadang menyoroti praktik manipulasi gula rafinasi dan perbedaan harga beras antarwilayah, seperti di Papua yang mencapai Rp 54.000 per kg. Ia menuding adanya permainan pihak tertentu yang memanfaatkan subsidi untuk keuntungan pribadi.
“Gula impor hanya dikemas ulang, beras bersubsidi dioplos. Ini kejahatan yang harus dihentikan,” tegasnya.
Komisi IV, kata Dadang, akan terus berkoordinasi dengan Kementerian Pertanian, Bulog, dan BPN, serta memanggil perusahaan atau pihak terkait bila diperlukan.
“Kami mendorong investasi sektor pertanian yang bersifat nasionalis, seperti pembangunan kebun tebu dan pabrik gula di dalam negeri, bukan sekadar mengandalkan impor,” tutupnya. @givary
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!