Cuaca Jadi Faktor Harga Sembako di Kota Bandung Naik
ED
Editor
Fendy Sy Citrawarga
Minggu, 12 Juni 2022 | 17:50 WIB
VISI.NEWS | KOTA BANDUNG - Beberapa harga sembako di Kota Bandung tengah alami kenaikan, seperti telur, daging ayam, gula pasir, minyak curah, cabai merah tanjung, cabai rawit, dan bawang merah.
Hal ini diakui Kepala Dinas Perdagangan dan Perindustrian (Disdagin) Kota Bandung, Elly Wasliah saat ditemui Humas Kota Bandung, Kamis, 9 Juni 2022.
"Setiap seminggu sekali di hari Kamis kami terjun ke tujuh pasar tradisional dan ke tujuh toko ritel modern untuk memantau komoditas bahan makanan di sana," ujar Elly.
Beberapa komoditas yang mengalami kenaikan antara lain, telur yang sekarang kisarannya Rp 29.000 - Rp 30.000 per kilogram, dengan harga acuan seharusnya Rp 24.000. Lalu, daging ayam yang kini harganya Rp 38.000 per kilogram yang normalnya Rp 35.000.
Kemudian, gula pasir naik menjadi Rp 14.000-Rp 14.500 per kilogram, di mana harga acuannya Rp 13.500.
"Dan yang masih bertengger adalah minyak curah. Harusnya Rp15.500 per kilogram, tapi harga tertinggi yang kami temukan Rp 18.000. Namun, sekarang di Kota Bandung sudah ada yang jual sesuai HET," ungkapnya.
Sedangkan harga cabai merah tanjung per kilogramnya mencapai Rp 80.000. Bahkan, cabai rawit menyentuh harga Rp 100.000. Terakhir bawang merah yang berada di harga Rp 50.000-Rp 60.000 per kilogram, padahal harga acuannya Rp 32.000.
Elly mengatakan, naiknya harga-harga ini disebabkan cuaca. Harusnya pada bulan Juni sudah masuk musim kemarau, tapi kondisi saat ini masih musim penghujan. Belum lagi serangan hama yang membuat kualitas menjadi menurun.
Pun dengan daging ayam dan telur. Ia menuturkan, pada musim hujan biasanya ayam mengalami penurunan produksi telur sehingga menyebabkan harga naik.
"Ada juga pengaruh dari relaksasi seperti mulai banyak pernikahan, meski memang faktor ini bukan yang signifikan," tuturnya.
Untuk mengantisipasi harga-harga semakin melonjak, Elly mengatakan, Disdagin Kota Bandung terus menelusuri rantai mana yang menjadi masalah.
"Kita cari dari mana asalnya, misal ayam itu biasanya kita dapat dari Priangan Timur. Kita tanya dari peternak di sana, apakah ada kenaikan atau tidak? Jika ternyata dari peternaknya tidak ada kenaikan signifikan, tapi sampai ke Bandung ternyata tinggi, ya ini kita telusuri rantai mana yang 'bermain'," paparnya.
Namun, sampai sejauh ini Disdagin tidak menemukan adanya kasus mafia sembako.
"Tak ada kasus seperti itu karena harga-harganya juga tidak naik terlalu signifikan, masih dalam batas normal," imbuhnya.
Saat ditanya mengenai opsi Operasi Pasar, Elly menuturkan, masih perlu dilakukan peninjauan lebih lanjut.
"Operasi pasar itu diadakan jika barang di pasaran sudah langka sehingga sulit diperoleh warga. Kemudian, harga-harga pun mengalami kenaikan yang signifikan," jelasnya. @fen
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!