Carok!, Kenapa Tradisi Nyawa Mudah Melayang Ada di Madura. Ini Sejarahnya

ED
Rabu, 17 Januari 2024 | 14:27 WIB
Bagikan
Carok!, Kenapa Tradisi Nyawa Mudah Melayang Ada di Madura. Ini Sejarahnya

Sebagai respons, Belanda menyewa seorang jagoan bernama Markasan untuk membunuh Pak Sakera. Markasan menantang Pak Sakera untuk beradu kekuatan (carok) dalam pertarungan di pabrik tebu.

Dalam pertarungan tersebut, Pak Sakera berhasil membunuh Markasan, tetapi juga terluka parah. Ia kemudian ditangkap dan digantung oleh Belanda. Sebelum meninggal, Pak Sakera berpesan kepada anaknya, Brodin, untuk melanjutkan perjuangannya.

Brodin, yang juga seorang pemberontak, kemudian berkonflik dengan Carik Rembang, yang masih berkuasa di Madura. Carik Rembang, yang dendam kepada keluarga Pak Sakera, mencoba membunuh Brodin dengan cara yang sama seperti ayahnya.

Namun, Brodin berhasil menghindari serangan Carik Rembang dan melukainya dengan celurit. Celurit adalah senjata tradisional Madura yang berbentuk sabit. Brodin kemudian melarikan diri dan bergabung dengan kelompok pemberontak lainnya.

Dari peristiwa ini, istilah "carok" muncul dan dihubungkan dengan senjata celurit. Celurit, yang awalnya adalah simbol perlawanan, menjadi simbol kekuasaan dan pertarungan antar golongan.

Bagaimana Situasi Sekarang?

Tradisi carok masih bertahan hingga kini, meskipun sudah banyak upaya untuk menghapusnya. Pemerintah, tokoh agama, dan tokoh adat berusaha untuk menyelesaikan konflik secara damai dan mengedepankan hukum.

Namun, masih ada sebagian masyarakat Madura yang tetap menganggap carok sebagai cara terakhir untuk menyelesaikan masalah kehormatan. Mereka menganggap carok sebagai warisan budaya yang harus dilestarikan.

Halaman :

Komentar (0)

Tulis Komentar

Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

VisiNews Club

Nikmati Berita Tanpa Batas & Benefit Eksklusif!

Dapatkan Kaos & Merchandise eksklusif setiap bulan dengan berlangganan Visi News.