Buah Kelapa Ki Ageng Giring, Awal Muasal Munculnya Kerajaan Mataram

ED
Senin, 6 Juli 2026 | 09:12 WIB
Bagikan
Buah Kelapa Ki Ageng Giring, Awal Muasal Munculnya Kerajaan Mataram

Foto bersama di Pedukuhan Giring. /visi.news/dok.bambang melga

VISI.NEWS - KISAH Ki Ageng Giring dengan tirakatnya, yang menghasilkan karunia besar dari Allah yang memberikan hadiah karomah, "Wahyu Kedaton," pada buah kelapa miliknya, dan cerita Ki Ageng Pamanahan, yang tak sengaja bertamu dan meminum air kelapa bertuah itu.

Telah jadi cerita legendaris, simpul awal munculnya kerajaan Mataram Islam, lewat kisah hikmah buah kelapa hasil tirakat Ki Ageng Giring, yang di minum Ki Ageng Pamanahan.

Wal hasil, beralihlah kemulyaan hasil tirakat yang harusnya di dapat oleh Ki Ageng Giring, kepada Ki Ageng Pamanahan di kemudian hari.

Legenda Buah Kelapa Ki Ageng Giring ini, pada akhirnya mengantar keturunan Ki Gede Pamanahan hingga melahirkan raja-raja besar Mataram Islam di tanah Jawa, dan itu tidak lepas dari keramat kelapa hasil ikhtiar Ki Ageng Giring.

Nah di Padukuhan Giring kalurahan Kapanewon Paliyan, Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta, awal mula cerita di atas tersebut terjadi.

Daerah Ki Ageng Giring tinggal, hingga sekarang dinamakan Padukuhan Giring, mengambil Nama Ki Ageng Giring sendiri.

Anak cucunya pun masih menetap di daerah tersebut, dengan jumlah rumah yang di tinggali. "Dari awal keberadaannya, sampai kini, itu tak bisa bertambah, hanya 40 rumah. Jika pun bertambah, yang baru masuk, dan penduduk lama ada yang pergi," begitu ungkap Kang Yanto Dukuh, sosok pribadi yang ditunjuk warga di sana sebagai kepala Pedukuhan.

Merujuk petilasan Ki Ageng Giring, di Pedukuhan Giring sendiri, sampai saat ini kita masih bisa temukan artefak-artefak peninggalannya, baik petilasan rumah, tempat tirakatnya, dan bahkan sampai pohon kelapanya sendiri masih berdiri.

Menurut Kang Yanto, kelapa di rumahnya sering di minta oleh Kanjeng Sultan Sri Sultan Hamengku Buwono IX untuk acara-acara besar saat perhelatan Kraton Yogyakarta.

"Saat Sultan sebelumnya, buah kelapa di depan rumah saya sering di minta Kanjeng Sultan Hamengku Buwono IX untuk acara tertentu di Istana, tapi setelah Sultan yang sekarang tradisi itu sudah tak ada lagi," ungkapnya.

Kang Yanto pernah diamanahi ibunya agar tidak menebang pohon kelapa yang persis ada di depan rumahnya tersebut. "Menurut ibu saya, konon katanya menebang pohon kelapa itu, sama saja mengantarkan nyatanya sendiri," paparnya.

Menariknya keberadaan Pedukuhan Giring saat ini dengan penduduk aslinya, telah menjadi pusat penelitian dari perguruan-perguruan tinggi setempat, dengan mendapat pendampingan dari Universitas Widya Mataram, juga Universitas Gunung Kidul, untuk menginisiasi kehadiran museum Giring, yang nantinya akan mengumpulkan benda-benda sejarah milik penduduk setempat.

Salah seorang Dosen Universitas Gunung Kidul, Septiono, menjelaskan komitmen institusinya yang sangat mensupport munculnya Musium Giring ini, dan ia pun menurunkan mahasiswa-mahasiswaya untuk terlibat dalam pencatatan, dan pendataan benda-benda yang memiliki nilai kesejarahan tersebut.

Satrio salah seorang pemerhati Pedukuhan Giring. yang juga dosen Universitas Widya Mataram menegaskan bahwa Pedukuhan Giring punya potensi besar sebagai aset daerah Jawa Tengah, yang perlu terus di kawal keberadaannya. "Sehingga bisa menjadi pusat penelitian, dan pengembangan potensi kearah yang prosfektif, dan edukatif," ungkapnya.

Sony Sodono dan tim dosen dari Telkom University yang saat itu melakukan kunjungan riset ke Pedukuhan Giring, dan bertemu dengan kolega dari dua Universitas Widya Mataram dan Universitas Gunung Kidul, ia menganjurkan keterlibatan pemerintah daerah agar lebih memperhatikan upaya pihak institusi perguruan tinggi di wilayah Yogyakarta dan Gunung Kidul, agar lebih punya peran aktif memunculkan potensi terpendam Pedukuhan Giring tersebut. 

Hingga pada akhirnya menjadi daerah penyangga keberadaan dua keraton baik Yogyakarta Hadiningrat, maupun keraton Solo, yang tak lepas dari ikatan Kerajaan Mataram Islam, yang mau tak mau terikat keberadaannya dengan Pedukuhan Giring tersebut.***

@Bambang Melga

Komentar (0)

Tulis Komentar

Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

VisiNews Club

Nikmati Berita Tanpa Batas & Benefit Eksklusif!

Dapatkan Kaos & Merchandise eksklusif setiap bulan dengan berlangganan Visi News.