BNPB Mulai OMC, Kejar Hujan di Jateng

ED
PN
Selasa, 8 September 2026 | 07:03 WIB
Bagikan
BNPB Mulai OMC, Kejar Hujan di Jateng

Pemasangan waterrack di pesawat cesna PK-SNH sebagai bagian dari sistem penyemaian bahan CaCl2 dalam operasi modifikasi cuaca (OMC) BNPB di Bandara Ahmad Yani Semarang, Jawa Tengah, Senin (7/9/2026). /visi.news/tim omc bnpb

VISI.NEWS — Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) resmi memulai Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) di wilayah Jawa Tengah sebagai langkah percepatan penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) sekaligus upaya mengurangi sebaran abu vulkanik di atmosfer.

Operasi tersebut dirancang untuk memanfaatkan kondisi awan yang tersedia agar hujan dapat dipicu di wilayah sasaran. Curah hujan yang dihasilkan diharapkan mampu membasahi lahan yang mengering, membantu memadamkan titik api dan mencegah munculnya kebakaran susulan. Hujan juga diharapkan membantu meluruhkan material abu vulkanik yang masih berada di udara sehingga tidak menyebar lebih luas.

Langkah ini dilakukan di tengah meningkatnya perhatian terhadap potensi karhutla di sejumlah wilayah Jawa Tengah. Kondisi lahan yang relatif kering membuat api berpotensi kembali muncul meskipun kebakaran sebelumnya telah berhasil dipadamkan.

Berdasarkan rangkuman laporan BNPB hingga Minggu, 6 September 2026, sejumlah kejadian karhutla tercatat di beberapa daerah. Di Kabupaten Klaten, api membakar sekitar 2 hektare lahan di Bukit Talang, Desa Talang, Kecamatan Bayat.

Kebakaran tersebut dilaporkan terjadi sekitar pukul 14.20 WIB. Tim gabungan kemudian melakukan penanganan hingga api berhasil dipadamkan sekitar pukul 16.30 WIB.

Kebakaran juga terjadi di Kabupaten Sragen. Api membakar sekitar 4 hektare lahan di Desa Bentak, Kecamatan Kalijambe, pada sekitar pukul 15.30 WIB. Penanganan dilakukan personel gabungan yang terdiri atas BPBD, TNI, Polri, dan relawan.

Api di Sragen berhasil ditaklukkan pada hari yang sama. Meski demikian, kondisi lahan yang mengering tetap menjadi perhatian karena dapat meningkatkan risiko munculnya titik api baru.

Sementara di Kabupaten Banyumas, kebakaran dilaporkan melanda tiga desa yang berada di tiga kecamatan. Lokasi tersebut meliputi Desa Gunung Wetan di Kecamatan Jatilawang, Desa Wlahar di Kecamatan Wangon, serta Desa Kalisube di Kecamatan Banyumas.

Total luas lahan yang terbakar di tiga lokasi tersebut mencapai sekitar 6,05 hektare. Tim penanggulangan bencana bersama masyarakat melakukan pemadaman hingga seluruh api berhasil dikendalikan pada pukul 14.15 WIB.

Rangkaian kebakaran tersebut tidak menimbulkan korban jiwa. Namun, BNPB tetap memandang kondisi tersebut sebagai peringatan karena potensi karhutla susulan masih terbuka apabila kondisi lahan tetap kering dan tidak segera mendapatkan tambahan kelembapan.

Di tengah ancaman tersebut, BNPB memusatkan pelaksanaan OMC di Pangkalan Udara (Lanud) Ahmad Yani, Semarang. Sebuah pesawat Cessna dengan nomor registrasi PK-SNH dikerahkan untuk menjalankan operasi penyemaian awan.

Operasi ini tidak dilakukan secara sembarangan. BNPB bekerja sama dengan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) serta BPBD Provinsi Jawa Tengah untuk memantau perkembangan awan, kondisi atmosfer, wilayah rawan karhutla, dan pergerakan abu vulkanik.

Data cuaca dan keberadaan awan menjadi faktor penting dalam menentukan lokasi serta waktu penyemaian. Tim perlu mencari awan yang memenuhi karakteristik tertentu agar bahan semai dapat bekerja secara efektif.

Misi pertama atau Sorti 1 dilaksanakan pada Senin, 7 September 2026. Tim Flight Scientist melakukan penerbangan dan penyemaian di kawasan pesisir Cilacap, Banyumas, dan Brebes.

Sasaran operasi berada pada radial 240–260 derajat dengan jarak sekitar 80–90 nautical miles atau mil laut dari Semarang.

Dalam penerbangan tersebut, sebanyak 1.000 liter bahan semai digunakan. Bahan tersebut berupa campuran air dan Kalsium Klorida (CaCl2), yang disemprotkan pada ketinggian sekitar 9.000 kaki.

Penyemaian diarahkan ke awan Cumulus yang teridentifikasi memiliki dasar pada ketinggian sekitar 6.000 kaki dan puncak mencapai sekitar 9.000 kaki.

Kondisi angin juga menjadi pertimbangan dalam menentukan operasi. Pada pukul 16.18 WIB, arah angin tercatat berasal dari Timur-Timur Laut dengan kecepatan sekitar 5–8 knot.

Pemilihan CaCl2 dalam operasi tersebut berkaitan dengan fungsinya sebagai Cloud Condensation Nuclei atau CCN. Secara sederhana, material tersebut berperan sebagai inti kondensasi yang menyediakan permukaan bagi uap air untuk mengembun.

Ketika proses kondensasi berlangsung, butir-butir air di dalam awan dapat berkembang dan bergabung menjadi lebih besar. Apabila kondisi atmosfer mendukung, butiran tersebut kemudian jatuh sebagai hujan.

Dalam konteks OMC di Jawa Tengah, hujan yang dipicu dari proses tersebut diharapkan memberikan manfaat langsung di permukaan. Lahan yang sebelumnya kering dapat memperoleh tambahan kelembapan, sementara wilayah yang masih memiliki sisa titik api dapat lebih cepat mendapatkan pembasahan.

Curah hujan juga diharapkan membantu membersihkan atmosfer dari material abu vulkanik. Abu yang berada di udara dapat terbawa turun bersama air hujan sehingga konsentrasinya di atmosfer berkurang.

Dengan demikian, operasi tersebut memiliki dua sasaran yang saling berkaitan. Di permukaan, hujan diharapkan membantu menangani ancaman karhutla. Di atmosfer, hujan diharapkan membantu mengurangi material abu vulkanik yang berpotensi mengganggu kualitas udara dan jarak pandang.

Namun, OMC bukan satu-satunya metode yang disiapkan BNPB.

Dalam kondisi atmosfer tertentu, BNPB juga menyiagakan metode penyemprotan kabut air atau watermist yang dicampur dengan surfaktan. Metode ini memiliki mekanisme yang berbeda dari penyemaian awan.

Watermist tidak digunakan sebagai inti kondensasi untuk memicu pembentukan hujan. Metode tersebut bekerja secara langsung dengan menyemprotkan butiran air ke udara untuk membantu membasahi dan mengikat partikel debu atau abu.

Dengan adanya tambahan surfaktan, partikel yang menjadi sasaran diharapkan dapat lebih mudah terikat oleh kabut air. Setelah partikel menjadi lebih berat, material tersebut kemudian diharapkan turun ke permukaan.

Perbedaan tersebut membuat kedua pendekatan memiliki fungsi yang berbeda. Penyemaian awan memanfaatkan proses atmosfer untuk meningkatkan peluang terjadinya hujan, sedangkan watermist merupakan intervensi fisik secara langsung terhadap partikel yang berada di udara.

BNPB menyiapkan kedua pendekatan tersebut agar penanganan dapat disesuaikan dengan kondisi atmosfer di lapangan. Ketika terdapat awan yang memenuhi persyaratan untuk disemai, pesawat dapat menjalankan operasi penyemaian. Sementara ketika kondisi atmosfer tidak mendukung pembentukan hujan, metode pembasahan langsung dapat menjadi salah satu pilihan intervensi.

Operasi ini juga memperlihatkan pentingnya pemantauan atmosfer secara real-time. Pergerakan awan, arah angin, kelembapan, karakteristik awan, serta lokasi titik rawan kebakaran harus terus diperbarui agar penerbangan dan penyemaian dapat diarahkan secara tepat.

Kolaborasi dengan BMKG menjadi bagian penting karena keberhasilan modifikasi cuaca sangat bergantung pada kondisi atmosfer. Sementara BPBD Jawa Tengah berperan dalam memberikan informasi mengenai wilayah yang membutuhkan penanganan dan perkembangan kondisi kebencanaan di daerah.

Bagi masyarakat, operasi tersebut menjadi salah satu bentuk upaya pemerintah menghadapi ancaman yang memiliki dampak lintas sektor. Karhutla tidak hanya mengancam vegetasi dan lahan, tetapi juga dapat menghasilkan asap serta menurunkan kualitas udara. Pada saat yang sama, sebaran abu vulkanik dapat meningkatkan paparan partikulat dan mengganggu jarak pandang.

Risiko terhadap kesehatan menjadi salah satu alasan mengapa pengendalian material di udara perlu dilakukan. Masyarakat yang terpapar debu atau abu dalam kondisi tertentu dapat mengalami gangguan pada saluran pernapasan, sehingga penggunaan masker dan pembatasan aktivitas luar ruangan tetap menjadi langkah perlindungan yang penting.

BNPB mengimbau masyarakat tetap tenang dan mengikuti arahan keselamatan dari pemerintah daerah maupun BPBD setempat. Masyarakat juga diminta memperhatikan perkembangan informasi mengenai kualitas udara dan kondisi lingkungan.

Di sisi lain, OMC tidak berarti seluruh ancaman karhutla dapat hilang secara otomatis. Hasil operasi sangat bergantung pada keberadaan awan dan kondisi atmosfer yang sesuai. Karena itu, penanganan di darat tetap menjadi bagian penting dalam mengendalikan api.

Pengalaman kebakaran di Klaten, Sragen, dan Banyumas menunjukkan bahwa respons cepat di lapangan tetap diperlukan. Ketika titik api ditemukan, tim gabungan harus segera melakukan pemadaman agar api tidak meluas, sementara upaya modifikasi cuaca diarahkan untuk menciptakan kondisi yang lebih basah dan mengurangi potensi kebakaran berulang.

Operasi yang dimulai dari Lanud Ahmad Yani Semarang tersebut kini menjadi salah satu instrumen pemerintah dalam menghadapi kombinasi ancaman karhutla dan sebaran abu vulkanik.

Pesawat PK-SNH, pemantauan awan, penyemaian CaCl2, serta opsi watermist menjadi bagian dari strategi yang dijalankan secara terpadu. Di darat, personel BPBD, TNI, Polri, relawan, dan masyarakat tetap menjadi ujung tombak dalam menangani titik api.

Harapannya, hujan yang berhasil dipicu dapat segera memberikan tambahan kelembapan pada wilayah yang rawan terbakar, membantu menekan sisa titik api, sekaligus mempercepat pengendapan material abu vulkanik di atmosfer.

Di tengah kondisi yang masih dinamis, pemerintah mengandalkan kombinasi teknologi, pemantauan cuaca, respons lapangan, dan kesiapsiagaan masyarakat. Tujuan akhirnya bukan hanya memadamkan api yang sudah muncul, tetapi juga mencegah bencana meluas dan menjaga agar masyarakat tetap dapat beraktivitas dengan risiko kesehatan dan keselamatan yang lebih rendah.

Komentar (0)

Tulis Komentar

Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

VisiNews Club

Nikmati Berita Tanpa Batas & Benefit Eksklusif!

Dapatkan Kaos & Merchandise eksklusif setiap bulan dengan berlangganan Visi News.