Bitcoin Tertekan Lagi, Turun di Bawah US$80 Ribu

ED
PN
Minggu, 30 Agustus 2026 | 09:14 WIB
Bagikan
Bitcoin Tertekan Lagi, Turun di Bawah US$80 Ribu

VISI.NEWS - Harga Bitcoin kembali mengalami tekanan dan jatuh di bawah level US$80.000 pada Jumat (28/8/2026). Pelemahan terjadi setelah Ketua Federal Reserve (The Fed) Kevin Warsh menegaskan komitmen bank sentral Amerika Serikat untuk membawa inflasi kembali menuju target.

Pernyataan tersebut mendorong kenaikan imbal hasil obligasi Treasury jangka pendek dan kembali menekan aset-aset yang sensitif terhadap perubahan suku bunga, termasuk Bitcoin dan pasar kripto secara lebih luas.

Dikutip dari Bloomberg, Sabtu (29/8/2026), penurunan Bitcoin kali ini masih tergolong moderat dan belum menunjukkan pembalikan besar terhadap tren pemulihan pasar kripto. Namun, pergerakan tersebut menunjukkan bahwa investor masih sangat memperhatikan arah kebijakan moneter Amerika Serikat sebelum mengambil posisi lebih agresif.

Warsh menyampaikan bahwa inflasi perlu bergerak secara jelas menuju sasaran The Fed. Pernyataan tersebut memperkuat ekspektasi pasar bahwa kebijakan moneter Amerika Serikat dapat bertahan ketat lebih lama apabila tekanan inflasi belum benar-benar mereda.

Kondisi tersebut membuat Bitcoin kembali bergerak searah dengan aset-aset yang sensitif terhadap suku bunga. Ketika imbal hasil obligasi meningkat, aset berisiko seperti mata uang kripto cenderung menghadapi tekanan karena investor memiliki alternatif investasi dengan tingkat pengembalian yang lebih menarik dan risiko yang relatif lebih rendah.

Bitcoin sempat turun hingga 4 persen ke level US$76.871. Meski demikian, secara mingguan pergerakannya relatif datar. Kondisi tersebut berbeda dengan pekan sebelumnya ketika Bitcoin mencatat lonjakan sekitar 23 persen.

Penurunan terbaru juga belum menghapus seluruh pemulihan yang terjadi sebelumnya. Bitcoin masih berada jauh di atas level yang tercatat pada awal Agustus.

Meski begitu, jika dibandingkan dengan rekor tertingginya sekitar US$126.000 yang dicapai pada Oktober tahun sebelumnya, harga Bitcoin saat ini masih berada sekitar 40 persen lebih rendah.

Pasar kripto kini menghadapi situasi yang penuh ketidakpastian. Setelah sebelumnya terjadi short squeeze besar akibat likuidasi posisi bearish dengan leverage dalam jumlah rekor, investor masih mencari arah baru bagi pergerakan Bitcoin.

Short squeeze terjadi ketika kenaikan harga memaksa trader yang bertaruh harga akan turun untuk menutup posisi mereka. Penutupan posisi tersebut biasanya dilakukan dengan membeli kembali aset, sehingga justru memberikan dorongan tambahan terhadap kenaikan harga.

Namun, setelah lonjakan tersebut, momentum pasar belum sepenuhnya terbentuk.

Salah satu indikator yang diperhatikan pelaku pasar adalah open interest pada futures Bitcoin. Data dari Coinglass menunjukkan bahwa open interest, yang menggambarkan nilai kontrak futures yang masih terbuka, belum menunjukkan pemulihan signifikan setelah terjadi pengurangan posisi akibat pergerakan tajam sebelumnya.

Kondisi tersebut menjadi sinyal bahwa sebagian trader masih berhati-hati untuk kembali memasang posisi dengan leverage besar.

Pedagang OTC Wintermute, Jasper De Maere, menilai pasar masih dapat menerima pernyataan Warsh dengan relatif baik.

“Meskipun ada sedikit kecenderungan agresif dari Warsh, pasar mencerna semua ini dengan relatif baik sejauh ini. Bagi saya, pidato tersebut sesuai dengan ekspektasi,” kata De Maere.

Menurut dia, salah satu faktor yang dapat memengaruhi pergerakan Bitcoin dalam beberapa bulan mendatang adalah besarnya posisi opsi beli atau call option pada level harga tertentu.

De Maere menyebut terdapat blok call option Bitcoin dalam jumlah besar dengan harga kesepakatan US$85.000 yang akan berakhir pada September. Selain itu, terdapat pula call option dengan strike price US$90.000 yang memiliki masa kedaluwarsa pada November dan Desember.

Keberadaan kontrak-kontrak tersebut menunjukkan bahwa sebagian pelaku pasar masih mempertahankan ekspektasi terhadap potensi kenaikan Bitcoin dalam jangka menengah.

Namun, optimisme tersebut harus berhadapan dengan faktor makroekonomi, terutama arah suku bunga Amerika Serikat dan pergerakan imbal hasil obligasi pemerintah.

Investor juga mulai mengalihkan perhatian dari pergerakan harga harian menuju indikator teknikal yang dapat memberikan gambaran mengenai apakah tren pemulihan Bitcoin masih sehat.

Laporan riset Galaxy Digital menjadi salah satu rujukan yang diperhatikan pasar. Dalam riset tersebut disebutkan bahwa pada empat dari lima pasar bearish kripto yang telah selesai, titik terendah pasar bearish telah tercapai setelah rata-rata pergerakan 50 minggu pertama kali ditembus ke atas.

Artinya, kemampuan Bitcoin mempertahankan posisi di atas rata-rata pergerakan 50 minggu menjadi salah satu indikator penting bagi keberlanjutan tren bullish.

Salah satu pendiri Secure Digital Markets, Mostafa Al-Mashita, mengatakan level tersebut kini menjadi perhatian utama pelaku pasar.

“Dari sini semuanya bergantung pada rata-rata pergerakan 50 minggu, rata-rata tersebut perlu bertahan pada penutupan mingguan agar struktur bullish tetap utuh, dan altcoin adalah ekspresi beta yang lebih tinggi dari pengujian yang sama,” kata Al-Mashita.

Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa Bitcoin kini menghadapi fase pengujian setelah kenaikan tajam dalam waktu singkat. Jika mampu mempertahankan struktur teknikalnya, pemulihan dapat berlanjut. Sebaliknya, penembusan ke bawah pada indikator jangka panjang tersebut dapat meningkatkan kekhawatiran bahwa reli sebelumnya kehilangan tenaga.

Perhatian juga tertuju pada pasar opsi kripto. Para trader opsi masih menunjukkan sikap optimistis untuk jangka menengah hingga panjang, tetapi tetap berhati-hati karena tingginya volatilitas.

Bitcoin sebelumnya melonjak dari sekitar US$62.000 menjadi US$80.000 hanya dalam waktu satu minggu. Kenaikan cepat tersebut menciptakan perubahan besar dalam posisi derivatif dan meningkatkan sensitivitas pasar terhadap masa kedaluwarsa kontrak opsi.

Salah satu momen penting adalah berakhirnya opsi Bitcoin senilai sekitar US$6,4 miliar di bursa kripto Deribit. Besarnya nilai kontrak yang berakhir dapat mendorong pelaku pasar melakukan penyesuaian posisi secara bersamaan.

Penyesuaian tersebut berpotensi memperbesar pergerakan harga apabila trader harus melakukan lindung nilai, menutup posisi, atau membuka kontrak baru.

Pendiri sekaligus CEO Two Prime, Alex Blume, melihat adanya perubahan kecenderungan di pasar opsi. Menurutnya, posisi pasar mulai lebih banyak bergeser ke call option, yang mencerminkan meningkatnya ekspektasi terhadap kenaikan harga.

Pada saat yang sama, volatilitas tersirat juga mulai meningkat setelah sebelumnya berada di sekitar titik terendah historis dalam beberapa bulan terakhir.

Kenaikan volatilitas tersirat menunjukkan bahwa pelaku pasar memperkirakan pergerakan harga Bitcoin ke depan akan lebih besar. Kondisi tersebut tidak selalu berarti harga akan naik, tetapi menunjukkan meningkatnya ketidakpastian dan kebutuhan investor untuk melakukan perlindungan terhadap risiko.

Masa kedaluwarsa opsi dalam jumlah besar juga menjadi kesempatan bagi pelaku pasar untuk melakukan pengaturan ulang posisi.

Dengan demikian, tekanan Bitcoin di bawah US$80.000 tidak serta-merta dapat dibaca sebagai tanda berakhirnya reli. Penurunan tersebut terjadi setelah kenaikan sangat tajam dan berlangsung di tengah perubahan ekspektasi terhadap kebijakan moneter Amerika Serikat.

Untuk sementara, pasar berada di persimpangan. Di satu sisi, masih terdapat optimisme dari pasar opsi dan indikator teknikal jangka panjang yang mendukung pemulihan. Di sisi lain, kebijakan The Fed yang berpotensi tetap ketat, kenaikan imbal hasil Treasury, serta belum pulihnya open interest futures membuat pelaku pasar belum sepenuhnya berani mengambil risiko.

Pergerakan Bitcoin berikutnya akan sangat ditentukan oleh kemampuannya mempertahankan level teknikal penting sekaligus merespons perkembangan kebijakan moneter Amerika Serikat.

Setelah reli dari US$62.000 menuju US$80.000 dalam waktu singkat, pasar kini memasuki fase pembuktian. Apakah penurunan ke US$76.871 hanya merupakan koreksi sementara sebelum Bitcoin kembali menguat, atau menjadi tanda bahwa reli besar sebelumnya mulai kehilangan tenaga, masih menjadi pertanyaan utama para pelaku pasar.

Komentar (0)

Tulis Komentar

Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

VisiNews Club

Nikmati Berita Tanpa Batas & Benefit Eksklusif!

Dapatkan Kaos & Merchandise eksklusif setiap bulan dengan berlangganan Visi News.