Bioadaptor, Inovasi Stent Terbaru, Bawa Harapan Baru bagi Pasien Jantung
VISI.NEWS | JAKARTA – Sekelompok peneliti internasional yang dipimpin oleh Prof. Shigeru Saito dari Jepang baru-baru ini merilis hasil studi klinis 24 bulan yang membandingkan teknologi stent terbaru Bioadaptor dengan stent DES (Drug Eluting Stent) konvensional. Hasil studi ini diumumkan pada konferensi Intervensi Kardiovaskular terbesar di Eropa, EuroPCR 2024, dalam rangka mengembangkan solusi jangka panjang yang aman dan efektif bagi pasien jantung koroner.
Penelitian klinis menunjukkan bahwa Bioadaptor memiliki tingkat kegagalan yang jauh lebih rendah, yaitu 1,9% dibandingkan dengan 5,5% pada DES setelah dua tahun pasca prosedur. Bioadaptor terbukti lebih efektif bagi pasien jantung berusia muda dan pasien dengan diabetes.
Selama hampir 40 tahun, prosedur percutaneous coronary intervention (PCI) telah digunakan untuk melebarkan pembuluh darah yang menyempit dengan memasukkan stent. Meskipun efektif, metode ini sering menyebabkan restenosis atau penyempitan pembuluh darah berulang. Inovasi DES membantu mengurangi restenosis dengan melepaskan obat-obatan ke pembuluh darah, tetapi komplikasi jangka panjang masih menjadi masalah. Sekitar 20-50% pasien mengalami penyempitan kembali setelah 5-10 tahun. DES juga membatasi pergerakan alami pembuluh darah, meningkatkan risiko komplikasi jantung.
Bioadaptor, yang menggabungkan fungsi DES dan Stent Polimer Bioresorbable (BRS), memberikan harapan baru. Bioadaptor memiliki desain 3 helai heliks metal bersalut obat dan elemen "uncaging" yang beradaptasi dengan pembuluh darah setelah 6 bulan, memungkinkan pemulihan gerakan dan fungsi alami pembuluh darah.
Keunggulan Bioadaptor
Dr. dr. Vito Anggarino Damay menjelaskan bahwa Bioadaptor tidak hanya membuka arteri yang tersumbat tetapi juga memulihkan gerakan dan fungsi pembuluh koroner. Bioadaptor memiliki tiga fase perawatan: membuka dan memperlancar pembuluh darah, melepaskan obat-obatan untuk mengontrol pembentukan jaringan sehat, dan melakukan adaptasi struktural untuk memungkinkan pembuluh darah bergerak alami.
Prof. Dr. Teguh Santoso dari Rumah Sakit Medistra Jakarta menegaskan bahwa Bioadaptor mengurangi risiko MACE (major adverse cardiac events) karena memulihkan fungsi fisiologis pembuluh koroner. Bioadaptor cocok untuk berbagai jenis kasus PCI dengan tingkat keamanan dan efikasi yang tinggi.
Dr. Ismi Purnawan dari RSPAD menjelaskan bahwa Bioadaptor memungkinkan aliran darah yang lebih besar dan pemulihan pergerakan pembuluh darah ke fungsi alami, terutama penting bagi pasien diabetes yang memiliki risiko dua kali lipat terkena serangan jantung.
Implementasi di Indonesia
Di Indonesia, pemasangan Bioadaptor pertama dilakukan pada Juni 2022 di Rumah Sakit Medistra Jakarta oleh Prof. Dr. Teguh Santoso. Hingga kini, lebih dari 200 tindakan telah dilakukan. Ati Saraswati, Country Manager Elixir Medical Indonesia, menambahkan bahwa rumah sakit di Indonesia telah mengadopsi teknologi terbaru dalam pengobatan jantung, termasuk Bioadaptor, yang tersedia di berbagai rumah sakit seperti RS Medistra, RS Harapan Kita, RS Mandaya, dan lainnya.
Prof. Ribicini dari Italia menambahkan bahwa Bioadaptor memberikan harapan bagi pasien jantung dengan diabetes dan terbukti efektif menyembuhkan pembuluh darah yang tersumbat serta mendukung kesehatan jantung jangka panjang.
Teknologi Bioadaptor ini telah dikembangkan dan diuji selama lebih dari enam tahun di berbagai negara. Dengan adopsi teknologi ini, pasien di Indonesia tidak perlu pergi ke luar negeri untuk mendapatkan perawatan jantung, karena rumah sakit dalam negeri telah menawarkan fasilitas yang canggih dan didukung oleh dokter-dokter spesialis jantung terbaik yang diakui secara internasional.
@mpa
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!