Jadwal Sholat DKI Jakarta Hari Ini, Kamis 27 Agustus 2026 27 Aug 2026 Jadwal Sholat Kabupaten Bandung Hari Ini, Kamis 27 Agustus 2026 27 Aug 2026 Prabowo ke Lokasi Gempa NTT, Pastikan Penanganan Cepat dan Terkoordinasi 26 Aug 2026 Melchias Markus Mekeng Ingatkan Risiko Salah Sasaran Pembatasan Pertalite Berbasis Desil 26 Aug 2026 Bank Mandiri Sampaikan Permintaan Maaf, Rekening Botok Dibuka 26 Aug 2026 TPA Cioray Tasikmalaya Terbakar, Lima Hektare Terdampak 26 Aug 2026 Satu dari Tiga Korban Pantai Karangpapak Ditemukan Meninggal 26 Aug 2026 Hadiri Pesta Biru, Farhan, "Kalau lihat dari pemain, optimis pisan" 26 Aug 2026 UAJY Raih Hibah United Board 2026, Bersama AMSI Perkuat Jurnalisme Biodiversitas 26 Aug 2026 7 Tempat Makan Enak Dekat Stasiun Padalarang 26 Aug 2026 Jadwal Sholat DKI Jakarta Hari Ini, Kamis 27 Agustus 2026 27 Aug 2026 Jadwal Sholat Kabupaten Bandung Hari Ini, Kamis 27 Agustus 2026 27 Aug 2026 Prabowo ke Lokasi Gempa NTT, Pastikan Penanganan Cepat dan Terkoordinasi 26 Aug 2026 Melchias Markus Mekeng Ingatkan Risiko Salah Sasaran Pembatasan Pertalite Berbasis Desil 26 Aug 2026 Bank Mandiri Sampaikan Permintaan Maaf, Rekening Botok Dibuka 26 Aug 2026 TPA Cioray Tasikmalaya Terbakar, Lima Hektare Terdampak 26 Aug 2026 Satu dari Tiga Korban Pantai Karangpapak Ditemukan Meninggal 26 Aug 2026 Hadiri Pesta Biru, Farhan, "Kalau lihat dari pemain, optimis pisan" 26 Aug 2026 UAJY Raih Hibah United Board 2026, Bersama AMSI Perkuat Jurnalisme Biodiversitas 26 Aug 2026 7 Tempat Makan Enak Dekat Stasiun Padalarang 26 Aug 2026

Biaya Naik dan Margin Tipis, Riyono: Tambak Udang Hadapi Tekanan Berat

Desi Rossilawati
Senin, 13 April 2026 | 19:29 WIB
Bagikan
Biaya Naik dan Margin Tipis, Riyono: Tambak Udang Hadapi Tekanan Berat

VISI.NEWS | JAKARTA - Anggota Komisi IV DPR RI, Riyono, menyoroti dua persoalan mendasar yang masih membayangi pengembangan sektor akuakultur nasional, khususnya budidaya udang di kawasan Pantai Utara (Pantura). Hal tersebut disampaikan dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) Komisi IV DPR RI bersama Masyarakat Akuakultur Indonesia (MAI) di Gedung Nusantara, Senayan, Jakarta, Senin (13/4/2026).

Dalam rapat tersebut, Riyono menegaskan bahwa ketersediaan bibit udang berkualitas masih menjadi tantangan serius.

“Kita setengah mati mencari bibit udang yang bagus. Pemerintah pun belum mampu memproduksi secara optimal. Ini menjadi pertanyaan besar, di mana kita bisa menunjukkan kapasitas produksi benih unggul dalam negeri,” ujarnya.

Selain persoalan bibit, Riyono juga menyoroti ketergantungan tinggi terhadap pakan yang diproduksi oleh perusahaan besar. Menurutnya, hingga saat ini belum ada Badan Usaha Milik Negara (BUMN) maupun lembaga pemerintah yang mampu menyediakan pakan dengan kualitas setara.

“Pakan kita sangat tergantung pada pengusaha besar. Ketika ditanya siapa yang bisa memproduksi dengan kualitas setara, belum ada jawaban yang memadai. Ini menjadi tantangan bagi para akademisi, profesor, dan pelaku di MAI untuk mencari solusi,” tegasnya.

Ia menambahkan, kondisi tersebut berdampak langsung terhadap meningkatnya biaya produksi tambak udang. Di sisi lain, tingkat risiko kegagalan panen juga masih tinggi, sementara pasar ekspor cenderung berfluktuasi.

“Biaya semakin besar, margin keuntungan semakin tipis, dan pasar luar negeri juga sedang terguncang. Ini adalah tantangan kita bersama,” lanjut Riyono.

Berdasarkan data Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), produksi udang nasional pada 2024 mencapai sekitar 1,2 juta ton, dengan kontribusi ekspor yang signifikan terhadap devisa negara. Namun, sektor ini masih menghadapi sejumlah kendala struktural, seperti kualitas benih yang belum merata, ketergantungan bahan baku pakan impor (terutama tepung ikan dan kedelai), serta serangan penyakit seperti Early Mortality Syndrome (EMS) yang kerap menurunkan produktivitas tambak.

Sementara itu, nilai ekspor udang Indonesia pada 2025 tercatat mengalami tekanan akibat melemahnya permintaan global, khususnya dari pasar utama seperti Amerika Serikat dan Jepang. Kondisi ini semakin mempertegas urgensi penguatan sektor hulu akuakultur, termasuk kemandirian benih dan pakan.

Melalui RDP tersebut, Komisi IV mendorong adanya sinergi antara pemerintah, pelaku usaha, dan kalangan akademisi untuk memperkuat ekosistem akuakultur nasional. Upaya ini dinilai penting agar sektor perikanan budidaya dapat benar-benar menjadi pilar kedaulatan pangan, energi, farmasi, biomaterial, serta penggerak pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat secara berkelanjutan. @givary

Komentar (0)

Tulis Komentar

Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

VisiNews Club

Nikmati Berita Tanpa Batas & Benefit Eksklusif!

Dapatkan Kaos & Merchandise eksklusif setiap bulan dengan berlangganan Visi News.