Berpotensi Jadi Pusat Ekonomi Digital, Sekjen Kominfo: DKI Jakarta Perlu Transformasi Inklusif
VISI.NEWS | JAKARTA - Daerah Khusus Ibu Kota Jakarta memiliki potensi menjadi pusat ekonomi digital Indonesia dan dunia, bahkan setelah Ibu Kota Negara (IKN) baru dibangun. Sekretaris Jenderal Kementerian Komunikasi dan Informatika Mira Tayyiba menyatakan potensi itu terlihat dari aspek populasi penduduk terbesar di Indonesia.
Mengutip data dari Kearney tahun 2021, DKI Jakarta sebagai pusat perekonomian di Indonesia berkontribusi sebesar 16,8% terhadap PDB Indonesia. Data tersebut juga dipadu dengan laporan dari Digital Competitiveness Indeks yang mencatat daya saing digital nasional, DKI Jakarta menempati peringkat pertama pada tahun 2021 dan 2022.
“Di satu sisi tentunya kita patut bangga atas pencapaian dan kontribusi Jakarta, di sisi lain kita ingin menelisik dan mengeksplorasi lebih jauh situasi ekosistem digital di Jakarta,” ujarnya dalam Jakarta Digital Outlook 2021 yang berlangsung secara virtual dari Kantor Kementerian Kominfo, Jakarta Pusat, Kamis (10/03/2022).
Menurut Sekjen Kementerian Kominfo, Jakarta sebagai pusat pemerintahan saat ini memiliki aktivitas ekonomi dengan daya saing digital tertinggi. Namun, dibandingkan Indeks Smart City secara global, DKI Jakarta masih terpaut relatif jauh dibandingkan dengan kota besar lain di dunia.
“Data dari International Institute for Management Development, Jakarta menempati peringkat ke-91 Indeks Smart City di antara kota-kota dunia. Posisi ini menunjukkan bahwa masih ada ruang yang perlu kita lakukan perbaikan dan penyempurnaan agar pengelolaannya bisa mencapai aspirasi sebagai pusat ekonomi digital di dunia,” jelasnya.
Sekjen Mira Tayyiba menjelaskan terdapat tiga komponen penting dalam membentuk daya saing digital yang perlu menjadi perhatian DKI Jakarta. Ketiga komponen itu meliputi komponen input, output dan penunjang.
“Kalau dilihat dari komponen input yaitu kontribusi penggunaan teknologi digital. Komponen output yaitu hasil atau manfaat dari penggunaan teknologi digital. Dan komponen penunjang yang berperan sebagai perangkat yang memfasilitasi penggunaan teknologi digital,” tuturnya.
Dari tiga komponen itu, Sekjen Kementerian Kominfo menyatakan DKI Jakarta mendapatkan skor sempurna di bidang infrastruktur, kewirausahaan dan produktivitas dengan nilai 100. Hal itu mencerminkan infrastruktur digital sudah sangat baik dan warga DKI Jakarta aktif dalam menggunakan teknologi digital.
“Walau demikian, ada hal-hal yang perlu untuk dilakukan perbaikan. Contohnya adalah aspek regulasi dan kapasitas pemerintahan. Skor ini sebesar 57 menunjukkan bahwa kinerja pemerintah daerah masih dapat ditingkatkan, terutama dalam meningkatkan angka harapan hidup dan menurunkan tingkat kemiskinan. Karena pada dasarnya, justru kami melihat infrastruktur digital di satu sisi sudah baik, tetapi infrastruktur penunjang juga harus diperhatikan,” jelasnya.
Sedangkan skor terendah kedua berdasarkan data tersebut adalah aspek ketenagakerjaan yang mencapai angka 59. Menurut Sekjen Mira Tayyiba, selisih skor antara aspek kewirausahaan dan skor ketenagakerjaan menarik untuk ditelisik.
“Yang menarik bagi kami, di satu sisi kewirausahaan mendapatkan skor tertinggi dengan nilai 100. Di sisi lain ketenagakerjaan skornya justru nomor dua dari bawah. Selisih ini yang menarik untuk kita perhatikan lebih lanjut. Tetapi intinya bahwa skor aspek sumber daya manusia yang perlu kita perhatikan,” tandasnya.
Dorong Transformasi Digital Inklusif
Sekjen Kementerian Kominfo menjelaskan hasil riset tersebut menunjukkan infrastruktur dan kewirausahaan di Jakarta sudah sangat baik. Namun demikian, transformasi digital belum berlangsung secara inklusif. Menurutnya, banyak faktor yang menjadi pertimbangan, salah satunya mengenai keberagaman di Jakarta dan tingkat literasi digital.
Sekjen Mira Tayyiba memaparkan hasil Survei Literasi Digital tahun 2021 yang menunjukkan platform media sosial merupakan ekosistem digital yang paling banyak diakses, sedangkan televisi masih dinilai yang paling dipercaya.
“WhatsApp dan Facebook paling banyak diakses, terjadi peningkatan pengguna di TikTok. Keluarga dan saudara sumber dari tujuan utama berbagi informasi. Dari tren ini, kami melihat juga masih ada bagaimana kita menyikapi dan menghadapi hoaks,” ujarnya.
Hasil survei literasi digital, juga menunjukan penyebaran informasi hoaks masih menjadi yang tertinggi. Pada Desember 2021, Kementerian Kominfo mendapatkan hoaks yang harus segera diantisipasi.
“Karena Kominfo sudah menerbitkan ada beberapa informasi yang kita sampel mana yang hoaks, mana yang disinformasi dan sebagainya. Jadi kami melihat, keberagaman dalam mencerna suatu informasi saja masih sangat beragam,” jelas Sekjen Kementerian Kominfo.
Menurut Sekjen Mira Tayyiba maraknya hoaks dan disinformasi yang menjadi tantangan tersendiri, khususnya di DKI Jakarta. Bahkan juga perlu dikaitkan dengan isu-isu yang menjadi prioritas pemerintah dalam Presidensi G20 Indonesia 2022. Terlebih, forum U20 yang mengangkat isu perkotaan di mana Gubernur DKI Jakarta dan Gubernur Jawa Barat menjadi Chair dan Co-Chair U20.
“Salah satu isu yang kalau tidak salah saya catat adalah mengenai masa depan dunia kerja. Jadi kondisi yang seperti ini menjadi sangat relevan karena kita tahu digital memerlukan skill set yang berbeda. Di satu sisi profil Jakarta sekarang kewirausahaannya tinggi, tetapi ketenagakerjaannya masih ada ruang untuk perbaikan. Jadi ini saya pikir suatu hal yang menarik untuk kita dalami lebih lanjut,” imbuhnya.
Jakarta Digital Outlook 2021 dihadiri Kepala Dinas Komunikasi, Informatika dan Statistika Provinsi DKI Jakarta, Atika Nur Rahmania; Board of Advisor Halodoc, Aldi Haryopratomo; Deputy EVP Customer Experience and Digitalisation – Chief Digital Business Office Telkom Indonesia, Sri Safitri; Co-Founder and CEO Investree, Adrian A. Gunadi; dan Venture Partner East Ventures and Managing Partner Impactto, Italo Gani. @alfa
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!