Beribadah Secara Proporsional dan Konsisten
Sabda Rasulullah ini berpesan kepada umat muslim agar bulan Ramadan yang memiliki limpahan ibadah sunah dan pahala tak terhingga bisa dijalani dengan sebaik mungkin. Perpindahan dari Sya’ban ke Ramadan bukan sebatas pergantian bulan tanpa makna, tetapi merupakan peralihan dimensi spiritual yang memerlukan kesiapan iman secara matang.
Konsisten beribadah
Ibadah yang baik bukanlah amalan yang semangat dilakukan di awal tapi semakin lama semakin luntur spirit dan kualitasnya. Demikian sering kita jumpai saat Ramadan. Awal bulan tampak semangat beribadah, tapi memasuki separuh bulan terakhir mulai redup. Padahal, kata Nabi, ibadah yang baik adalah ibadah yang dilakukan dengan konsisten, kendati tidak terlalu besar bentuknya.
أَحَبُّ الْأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ.
Artinya, “Amalan yang paling dicintai oleh Allah adalah yang paling konsisten meskipun sedikit.” (HR Bukhari)
Berkaitan dengan hal ini, ada kisah menarik ketika sekelompok sahabat bertekad melakukan ibadah terlalu ekstra, padahal mereka belum tentu mampu menjalankannya. Hal ini kemudian mendapat teguran tegas dari Rasulullah. Kisah ini disampaikan dalam hadits diwayat Imam Bukhari.
Disebutkan, sekali waktu datang tiga orang sahabat ke istri-istri Nabi. Mereka semua penasaran dengan laku ibadah Nabi. Sebagai orang yang tinggal serumah, istri Nabi tentu lebih tahu detail aktivitas Nabi, termasuk dalam hal ibadah.
Kunjungan tiga sahabat itu tidak diketahui oleh Rasulullah. Begitu mereka mendengar penjelasan apa dan bagaimana ibadah Nabi, mereka heran, ternyata ibadah Nabi tidak sesuai dengan ekspektasi yang mereka bayangkan. Dalam pandangan mereka, sebagai Nabi yang tentu memiliki tingkat spiritualitas tinggi, ibadahnya pasti luar biasa. Tapi realitasnya tidak demikian.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!