BEM SI Beri Tenggat 18 Hari Pemerintah Perbaiki Ekonomi, Ini Respons Istana
Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) Prasetyo Hadi ./visi.news/ist.
VISI.NEWS | JAKARTA - Aliansi Badan Eksekutif Mahasiswa Seluruh Indonesia (BEM SI) memberikan ultimatum kepada pemerintah agar memperbaiki kondisi ekonomi nasional dalam waktu 18 hari.
Aksi ini dilakukan sebagai bentuk protes terhadap pelemahan nilai tukar rupiah dan tekanan ekonomi yang dirasakan masyarakat. Para mahasiswa menggelar aksi bertajuk 'Rupiah Sekarat, Rakyat Melarat' di depan kantor perwakilan Bank Indonesia Jawa Tengah, Jumat (5/6/2026).
Ketua BEM UNS, Kailani Rizqi Pratama, menjelaskan bahwa angka 18 hari dipilih sebagai simbol terkait nilai tukar rupiah yang saat ini mencapai Rp18.000.
Ia menegaskan bahwa jika dalam tenggat waktu tersebut pemerintah tidak menunjukkan langkah konkret untuk memperbaiki ekonomi, mahasiswa akan melakukan penyegelan di Kementerian Keuangan.
“Kalau kita melihat hari ini, untuk rupiah yang melemah sebanyak Rp18.000, kami hari ini berikan tenggat waktu selama 18 hari untuk memperbaiki keadaan ekonomi Indonesia,” kata Kailani.
Menanggapi tuntutan tersebut, Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg), Prasetyo Hadi, menyatakan bahwa Istana menerima aspirasi mahasiswa sebagai masukan bagi pemerintah.
“Ya tentunya kami menerima aspirasi tersebut ya, sebagai sebuah masukan tentunya kepada pemerintah,” ujar Prasetyo dalam keterangannya dikutip, Selasa (9/6/2026).
Prasetyo menekankan bahwa pemerintah telah bekerja keras untuk mengatasi berbagai masalah ekonomi, meski mengakui bahwa penyelesaian isu-isu ekonomi tidak bisa dilakukan secara instan karena dipengaruhi banyak faktor.
Ia menambahkan bahwa koordinasi antarinstansi dan kebijakan yang saling memperkuat menjadi kunci dalam memberikan kepastian kepada pelaku usaha.
Terkait tenggat 18 hari yang diberikan mahasiswa, Prasetyo menegaskan bahwa tidak semua hal bisa diselesaikan sesuai batas waktu yang ditentukan.
“Ya, kan mohon maaf ya, tidak semua atau tidak segala sesuatu itu bisa dicapai dengan sebuah tenggat waktu yang sudah ditetapkan. Kan begitu. Tidak, tidak semuanya bisa seperti itu,” jelasnya.
Namun ia menekankan bahwa semangat mahasiswa tetap menjadi dorongan agar pemerintah bekerja lebih maksimal, terutama di sektor ekonomi.
Aksi dan ultimatum BEM SI menyoroti tekanan publik terhadap pemerintah untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dan kondisi ekonomi secara umum. Respon Istana menunjukkan upaya komunikasi antara mahasiswa dan pemerintah, sekaligus memberikan gambaran tantangan yang dihadapi dalam merumuskan kebijakan ekonomi yang efektif.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!